Puisi-Puisi Raudlatul Makiyah


Raudlatul Makiyah
adalah seorang wanita yang lahir di tanggal empat belas bulan enam tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Panggilan sayangnya adalah Kiki. Selain menulis dia juga senang traveling dan memiliki hobby membaca. Dia senang sekali menulis fiksi, baginya fiksi merupakan tempat untuk bercurhat. Dia bertempat tinggal di Jalan Trunojoyo Desa Kolor-Sumenep tepat di jantung kota. Sekarang Dia mengabdi di Lembaga SMPIT AL-HIDAYAH Sumenep dan sudah bergabung menjadi anggota Rulis Sumenep. Karyanya yang masih seumur jagung sudah terbit dalam bentuk antologi, baik bersama maupun secara mandiri. Diantaranya “ Goresan Pena Guru Bahasa Kala Pandemi Korona”, “ Kisahku di Masa Pandemi “, “ Surat Untuk Ibu”, “ Perahu Kehidupan”, “ Rindu”.dan ”Cermin Tak Berbayang” (2020)


SUARA KECILKU

Kau memang tak pernah mengerti
Tuhan Maha Adil 
Kun fayakun
Semua berubah

Biarkan gerimis sakit ini terus mengaung
Merintih asa dalam harap
Tak kan pernah kau rasakan ini
Dalam, luka ini begitu dalam

Ocehan raut wajahmu gamblang
Meniti rindu yg makin menderu
Tangisku tak kan kau tahu
Senyummu menggeliat  batinku

Kau terlalu polos
Atau aku yg terlalu lugu
Tuhan
Kutitipkan pena ini
Ku uraikan rasa ini
Ku lilitkan luka ini

Biarkan orang berkoar tentang ku
Kau pun tak tahu rasa ini
Anginpun menampar lalu kaku menunduk malu
Kau  tak ku sebut dalam mimpi
Terlalu sakit untuk ku sebut
Tenanglah dalam zona mu
Hingga kau merasa kaku dan beku



PEMIMPIN

Sayang 
Aku tak butuh merah mawarmu
Aku tak butuh biru topimu
Yang ku butuhkan keadilanmu
Yang ku inginkan janji manismu

Tatkala mentari menyapa pundakmu
Buang keegoisanmu
Objektifitaskan kinerjamu
Jangan jadikan kedudukan sebagai taring wajahmu
Yang menciut kaku, lalu pergi



DEMAM RASA

Tuhan...rasa ini terasa sesak dalam kalbu
Menghela nafas di atas nafsu
Beban pilu menyanyat malu
Kini, kau pun berlalu

Lingkaran pilu kekasih menambah lesu
Di atas perahu
Demam rasa itu semakin layu
Mendayung bingung bersama kaku

Maafkan aku
Rasa ini terlalu riuh
Kekasih pun pergi berlalu




PEDANG KEADILAN

Hati menyanyat sakit menanti rindu sang pemimpin
Menderukan suara janji pelangi
Tak satupun deret katanya menusuk harap
Koar suara halus menusuk relung hati

Tanpa tatapan
Tanpa rintihan
Tanpa perasaan
Kau pun akan merasakan di kala pedang keadilan itu mulai menancap di dada harapmu

Tak kan kau jumpai lagi harum bunga namamu
Kedudukan manis kerjamu
Bahkan kerabat jiwamu
Letakkan saja kedudukan itu

Jika kau tak mampu menghardik tajamnya kata
Biarkan bunyi keadilan terus menderu pilu
Hingga pedang tajamnya menusuk hati sang pahlawan

Ya. Pahlawan yang tak berharap di kalungi bunga melati
Pahlawan waktu yang tersakiti oleh jabatanmu
Biarkan saja pelangi emas itu terbelah oleh pedang keadilanmu

Konon kaupun tak menyadarinya
Kau pun tak mempedulikannya
Bahkan kau pun mulai mencurigainya
Kedudukan mu bukan tahta surga
Kepuasan kerjamu bukan harum surga
Kebijakanmu bukan pintu surga
Keadilanmu adalah pintu surga

Biarkan hati ini menangis bersama kebijakanmu
Biarkan mata melihat gelak tawamu
Biarkan bibir ini katup dalam kebijakanmu
Biarkan semuanya menjadi layar lebar kesuksesanmu
Terimakasih atas luka ini




PASRAH

Menyanyat sepi dalam rindu
Rindu yang semakin pilu
Pilu di ujung gelut
Menggelut dalam debu
Menggebu butiran air mata tak berujung candu
Candu nestapa dalam ruang rindu
Biarkan gugur tak bermutu
Hingga kutu tak lagi menggerutu
Parasnya pun tak berkubu
Bertamu tak bertemu
Hingga maut menanti mu





Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama