
Potret Indonesia dalam kacamata penyair perempuan Korea. Foto: Istimewa
Antologi puisi Meja Keabadian karya Sagong Kyung menghadirkan pengalaman lintas budaya Indonesia–Korea Selatan dalam balutan bahasa yang puitis dan reflektif. Buku ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan ingatan, sejarah, dan identitas dalam satu “meja” simbolik.
Karya sastra lintas budaya kembali menemukan bentuknya yang khas melalui buku antologi puisi Meja Keabadian yang ditulis oleh penyair asal Korea Selatan, Sagong Kyung. Buku ini diterbitkan secara bersamaan dalam dua bahasa, Indonesia dan Korea, sehingga memungkinkan pembaca dari kedua negara menikmati karya yang sama dengan nuansa budaya yang tetap terjaga. Kehadiran dua bahasa ini bukan sekadar strategi penerbitan, melainkan bagian dari upaya menjembatani pengalaman, rasa, dan cara pandang yang berbeda.
Melalui metafora “meja”, Sagong Kyung menghadirkan potongan-potongan ingatan, perjumpaan budaya, serta refleksi panjang atas kehidupannya selama puluhan tahun berada di Indonesia. Meja, dalam puisinya, bukan hanya benda mati, melainkan ruang simbolik tempat berbagai peristiwa bertemu—ruang di mana manusia, sejarah, dan kenangan saling bersinggungan. Ia seperti mengundang pembaca untuk duduk bersama, menyimak cerita yang tersaji tanpa jarak.
Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan refleksi mendalam atas pengalaman personal Sagong Kyung. Ia mencoba “membentangkan Indonesia di atas satu meja”, menjadikannya lanskap yang dapat dilihat, dirasakan, dan direnungkan. Di dalamnya, terdapat jejak perjalanan batin seorang penyair yang tidak hanya mengamati dari luar, tetapi juga terlibat secara emosional dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Salah satu puisi yang menjadi pusat perhatian dalam buku ini adalah Meja Keabadian. Puisi tersebut terinspirasi dari atmosfer sebuah ruang di restoran legendaris Tugu Lara Djonggrang di Menteng, Jakarta. Tempat itu, dengan segala ornamen dan sejarahnya, menjadi simbol pertemuan lintas zaman dan budaya. Dalam puisi tersebut, Sagong tidak hanya menggambarkan ruang fisik, tetapi juga menangkap aura waktu yang mengendap—seolah setiap sudut menyimpan cerita yang belum sepenuhnya terungkap.
Lebih jauh, pendekatan Sagong dalam menulis tidak berangkat dari keinginan memotret Indonesia sebagai entitas negara semata. Ia justru menelusuri lapisan yang lebih hidup: budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta sejarah yang membentuk identitas kolektif. Perspektif ini membuat puisinya terasa intim dan personal, seolah pembaca diajak masuk ke dalam momen-momen sederhana yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini juga memiliki makna khusus karena dipersembahkan untuk memperingati 500 tahun Jakarta. Dalam konteks ini, puisi-puisi Sagong menjadi semacam arsip emosional yang merekam denyut ibu kota dari sudut pandang yang tidak biasa. Sebagai penyair asing, ia melihat Jakarta dengan mata yang segar—mengamati detail yang mungkin luput dari perhatian warga lokal, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa sastra yang kontemplatif.
Dalam pengantarnya, Sagong menyebut bahwa karyanya lahir dari “waktu, ingatan, dan kepekaan budaya” yang ia temukan selama berada di Indonesia. Pernyataan ini menegaskan bahwa puisinya bukan sekadar hasil pengamatan, melainkan buah dari proses panjang memahami dan merasakan. Ia tidak hanya menulis tentang Indonesia, tetapi juga menulis bersama pengalaman Indonesia itu sendiri.
Peluncuran buku Meja Keabadian yang digelar pada Senin (6/4/2026) di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta, menjadi penegasan atas pentingnya karya ini dalam konteks budaya. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, mulai dari pejabat pemerintah hingga pelaku seni dan akademisi dari Indonesia dan Korea Selatan. Rangkaian acara dikemas sebagai perjalanan budaya yang mengalir—dimulai dari eksplorasi budaya Indonesia, dilanjutkan dengan seremoni peluncuran, diskusi bersama penulis, pertunjukan seni, hingga jamuan makan malam.
Dalam kesempatan tersebut, Sagong Kyung menyampaikan harapannya bahwa pertemuan itu dapat menjadi satu lagi “meja keabadian”. Pernyataan ini mempertegas bahwa “meja” dalam karyanya adalah metafora yang hidup—ruang dialog yang tidak berhenti pada satu waktu, tetapi terus berkembang seiring pertemuan dan pertukaran budaya yang terjadi.
Peluncuran ini sekaligus menunjukkan bahwa Meja Keabadian tidak hanya hadir sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Sastra, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang mampu melampaui batas geografis dan bahasa. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman manusia dalam dimensi yang lebih universal.
Melalui pendekatan yang puitis dan reflektif, Sagong Kyung berhasil menghadirkan Indonesia—terutama Jakarta—dalam sudut pandang yang segar, personal, dan lintas batas budaya. Karyanya tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami, tetapi juga merasakan. Pada akhirnya, Meja Keabadian menjadi lebih dari sekadar buku puisi; ia adalah ruang pertemuan yang abadi, tempat ingatan, budaya, dan kemanusiaan saling berbicara tanpa henti.
(sumber: Sindo News)