Tampilkan postingan dengan label Puisi Nurul Ilmi Elbana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Nurul Ilmi Elbana. Tampilkan semua postingan

Malam di Arjosari

Selasa, 17 Januari 2017

di Arjosari, kusaksikan banyak kerinduan dikeluarkan dari ransel
juga perpisahan yang berkemas ke dalam sesak dada
sementara kondektur berteriak tentang perjalanan
tanganmu masih saja mengunci sebuah kepulangan
mungkin kita berhasrat membujuk waktu agar sepakat
menunda kenangan supaya tak jadi abu
meskipun cinta terkalahkan jadwal keberangkatan

di depan sana, keinginan memanjang
janji-janji supaya gagal padam
sampai tiba detak jarum jam menyela tubuh yang saling menempel
membebaskan air mata dari kungkungan kornea

di Arjosari, masa depan dan masa lalu bersilang
saling berganti mengisi halaman
masa lalu melepaskan nasib merdu ke dalam kanal kenangan
masa depan menyeret paksa tubuh
menyedot segala kebimbangan

yang tersisa hanya matamu hilang pandang
dan tanganmu tak lepas hingga jam-jam berduri
menusuk kita berdua

Seterusnya.. | komentar

Nubuat Para Petani

Sabtu, 31 Desember 2016

karena hujan baru turun sekali
dada bumi yang lapang masih mencari-cari puisi paling bernyali
untuk memanggil hujan datang
bertugas menyembuhkan bumi dari gersang

kalau tidak,
angin gagah dari utara akan menyambar
seluruh arah menghilang jadi samar
benih-benih menuntunmu jadi pembunuh
bukan pahlawan yang diharapkan datang

petani bukanlah gemawan yang bertapa
lalu moksa jadi hujan
;basah
bukan angin perindu
datang juga pergi semau waktu
petani hanyalah hamba
bermimpi tentang padi-padi menguning dan tembakauyang hijau
airnya mengalir dari bibir pagi hingga ceruk malam nanti

petani adalah sungai bawah tanah
mengalir deras dan lambat pada rongga dada musim

karena hujan baru turun sekali
aku bersiap meniup dupa di pinggir kali
menyogokkan doa-doa tak bersuara
sebentar lagi kemarau reda



Nurul Ilmi Elbana
Seterusnya.. | komentar

Sebuah Gang, Suatu Malam

Rabu, 28 Desember 2016

        :sarkem

sekian cerita keluh kesah dan anugerah
senantiasa rekah
kusam aspal jalan dan merah gincumu
sebuah anomali dan pilihan buntu
demi perut dan mulut yang tak henti menuntut

malam kian mengibarkan asap rokok
dan kecut parfum
pesona rayuan untuk para lelaki yang berkeliaran
tawar menawar lalu naik ke ranjang

malam ini hanya ada janji
sampai malam habis, harapan pun tipis
mata telah lamur
lampu-lampu kehilangan semangat

esok, jika tak ada nasi
perempuan-perempuan itu cukup menelan sepi
sebab itulah satu-satunya rezeki



(Nurul Ilmi Elbana)



Seterusnya.. | komentar

Bulan Pucat Di Bantaran Rel Kereta

Rabu, 21 Desember 2016

:Bong Suwung

warung-warung kecil di tepi rel kereta
tak jemu mengukur bayangan senja
mencatat tanpa cacat
siapa yang datang dan pulang

perempuan-perempuan yang terpaksa
merelakan surganya demi beras atau nasi
langkah hidup dan hasrat api
agar tetap bersemi

bulan tak henti bersaksi
tentang gelas-gelas kopi yang mati
sebelum menuju ruang sunyi

setiap kaki yang pergi
tak pernah ia simpan dalam hati

perlukan kita cari nyala cahaya?
ketika seribu pikiran melayang-layang dalam remang
esok bulan akan terpanggang cahayanya sendiri
dalam enigma


(Nurul Ilmi Elbana)
Seterusnya.. | komentar

Catatan Harian Angeline

Senin, 12 Desember 2016

/1/
seorang ibu adalah pemberi kasih yang candu
seorang anak selalu ingin memasuki pintu pelukan ibu

ayam-ayam itu berkokok nyaring setiap pagi
kokoknya sampai ke hati membuat nyeri
dari balik pintu, tanganmu yang kekar
memberi aba-aba agar aku segera keluar kamar
bertugas memberi makan.
begitulah yang kukerjakan setiap matahari terbangun   
semenjak ayah pulang ke rumah Tuhan

/2/
kawan-kawanku selalu berkisah
roti dan susu memanjakan lidah sebelum sekolah
aku sendiri mandi pun tiada sempat
salah sedikit, dia akan mengumpat

di rumah, gedung membentuk benteng seperti penjara Cinderella
memaku gerak dan pikir. Terkurung seribu keinginan oleh tegak pekerjaan
sepi sunyi menempel di dinding dan jendela. Ada suara menjadi ular
berbisa dan melilit kaki-kaki sukma.
Sementara rumah kawan-kawanku luas tak berbatas
jendela dan pintunya terbuka dan bercabang ke mana-mana

/3/
aku merindukan ibu
meskipun ia memberikanku pada orang lain untuk diasuh
dentang lonceng dan teriakan menjadi wajar berlaku
sebab diriku lahir menjadi benalu

suatu pagi, kokok ayam terasa jauh
alarm tak cukup ampuh menggelitik pagiku
dia mulai berpenyakit seperti kemarin
mengamuk tak menambah berat berton-ton kebencian di kepalanya
tanganya terlatih menumbuhkan pilu yang sedu
 
hari esok bagiku hanyalah langit yang terus meninggi
sedang waktu bergerak dengan merangkak
hari-hari berpindah nama penuh perintah dan sumpah serapah
oh, Ayah, baikkah kau di sana?

/4/
hari ini piring terjatuh dari tanganku
pecah landai berberaian
disusul suaranya memecah birai telinga
hanyalah sebuah boneka yang membelaku tanpa suara

/5/
kebencian mengubah tempatku di hatinya
ia mengirimku ke lubang galian di belakang rumah
sebagai tempat istirahat untuk selamanya
tanpa taburan bunga dan doa
hanya boneka yang setia

wajah-wajah yang tak kukenal
tiba-tiba mendekat dan mengantarku entah ke mana

Nurul Ilmi Elbana





Seterusnya.. | komentar

Hari Ibu

Sabtu, 03 Desember 2016

    :kepada Ibuku

apakah jarak mampu mencuci waktu?
bening wajahmu, kurindu
aku merasakan bulan-bulan lamur ke dalam ujung cakrawala
bintang-bintang pun bergerak saling menjauh
sampai diri tak lagi bisa bertemu
suara dalam hati makin terasa bising
aku bergerak membawa bayang-bayang

dalam dirimu, kucari cinta yang semesta
akan kusimpan kepedihan dan luka-luka lama
air mata dan doa biar kutadah
kelak, jika bulan dihatiku jadi purnama
itulah mataharimu yang meminjamkan sinarnya, Ibu


(Nurul Ilmi El)
Seterusnya.. | komentar

Labang Mesem*

Jumat, 02 Desember 2016

melangkah ke arah fajar, seonggok sunyi masih berdiri
meratapi sejarah sepi
berapa tahun engkau berdiri?
Tak pernah takut akan dihisap matahari

Jika hendak masuk, di depan pintu itu
Mata air tumbuh dari bibir para raja dan ratu
Basuhwajahkudengan penyesalan
rapuh segala dendam, musnah seluruh amarah.

dan pintu itu akan membukakan ponconiti
yang lama terkunci oleh tangan matahari
kita masuki dengan segala niat suci

apakah Potre Koneng yang sedang duduk di atas loteng?
memantau jalan surga yang telah punah penuh daun-daun tua berserak

kita tak perlu menghamburkan kata-kata
karena wajah dunia telah merekan seluruh jejak luka

*Labang Mesem (pintu tersenyum) 


(Nurul Ilmi Elbana)
Seterusnya.. | komentar

Rencana Usai Penutupan Dolly

etalase yang cantik kini tak lagi menarik
dan binatang jalang yang suka jajan
tak dapat lagi menawar cinta paling keparat
cinta rasa laknat yang dipajang demi perut dan syahwat

wisma-wisma yang berdiri kukuh dengan angkuh
tak boleh lagi menghidupi mulut
dilarang menjadi jembatan penyambung hidup

setelah Dolly ditutup oleh kabut
jalan kita yang panjang semoga lekas terang
matahari yang satu
tak pernah suka pada remang-remang

setelah Dolly ditutup
ramai-ramai kita hendak ke surga
meminta Tuhan membuka pintu




(Nurul Ilmi Elbana)
Seterusnya.. | komentar

Rakaat Langkah

kaki yang lungkrah
belum lagi tegak
panggilan adzan keberangkatan
berkoar di ujung perempatan

orang-orang perindu
melepaskan ikatan takbiratul ihram
dengan kegelisahan yang tersayat sepanjang halaman
aku berangkat jua,
doa Ibu meluapi rongga dada

lepas dari Suramadu, kota-kotamemelukku
sunyi dan ketakutan berpatahan; hilang
dicairkan pesona bulan yang rebahan di pundakmu

antara ruku’ dan sujud
dengung puisimu dan langkah matahari tenggelam
ada harapanku tumbuh lalu menjalar ke ingatan


(Nurul Ilmi Elbana)


Seterusnya.. | komentar
++++++

Solilokui

Sekilas Penyair

 
Fõrum Bias : Jalan Pesona Satelit Blok O No. 9 Sumenep, Jawa Timur; email: forumbias@gmail.com
Copyright © 2016. Perempuan Laut - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger