Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Adakah Kau Selalu Mesra dan Aku Bagimu Indah?

Kamis, 18 April 2019

Perempuan Dibalik Kehidupan Chairil Anwar


Chairil Anwar dan istrinya, Hapsah Wiriaredja. (foto: google image)

Sumirat atau biasa dipanggil Mirat belajar melukis kepada S. Sudjojono dan Affandi. Sekali waktu ia dan keluarganya vakansi ke pantai di Cilingcing. Di sana, ia melihat Chairil. Pemuda itu tengah duduk bersandar di sebatang pohon sambil membaca buku tebal.

“Mula-mula tiada menjadi perhatianku, tapi beberapa kali melewatinya, melihat dia tekun membaca tanpa peduli sekelilingnya, benar-benar membuatku heran. Aneh, pikirku, orang-orang bersenang-senang di sini, tapi dia lebih tenggelam dalam bukunya,” ujar Mirat kepada Purnawan Tjondronagoro.

Sikap Chairil yang tak peduli ternyata memikat hatinya. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan Chairil. Terutama membayangkan apa yang tengah bermain dalam angan pemuda itu. Saat ia melukis, wajah Chairil kembali muncul di benaknya.

Sekali waktu, tak lama setelah ia melihat Chairil di pantai, saudaranya datang memberi kabar bahwa pemuda yang menjerat hati Sumirat terkena masalah: dituduh mencuri! Karena ingat akan Sumirat, akhirnya Chairil ditebus oleh saudaranya itu. Si penyair terbebas dari hukuman.

Sementara Sutan Takdir Alisjahbana dalam Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977) menulis bahwa ia tahu kasus tersebut dari ibunya Chairil.

“Chairil Anwar mencuri sebuah seperai yang terjemur di halaman rumah orang dan ketahuan oleh yang empunya, sehingga ia diadukan kepada polisi dan ditahan. Ibunya kehilangan akal dan minta bantuan kami,” tulisnya.

Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawannya kemudian patungan uang seharga seprai yang dicuri Chairil. Salah seorang dari mereka juga mendekati pegawai pengadilan dan mengatakan bahwa pesakitan itu adalah seorang penyair muda yang sangat berbakat dan penting kedudukannya dalam masyarakat. Usaha mereka berhasil, Chairil bebas.

Rupanya orang pegawai pengadilan itu adalah saudaranya Mirat. Dasar Chairil, setelah ditolong, ia jatuh hati pada Mirat. Gayung bersambut.

“Dan dibawanya tumpukan kertasnya yang berisi hasil karya sastranya. Kami berdiskusi, sulit untuk mengalahkan atau membelokkan kemauannya. Dia seorang yang terlampau yakin kepada dirinya sendiri, tegas dan berani. Kukagumi dirinya sepenuh hatiku,” ujar Mirat.

Karena pengangguran, kisah cinta mereka merepotkan keluarga Mirat. Chairil nekad dengan mengikuti kekasihnya itu sampai tinggal berhari-hari di rumah orangtuanya di Jawa Tengah. Orang rumah tidak menyukai Chairil, tapi mereka tak dapat mengusirnya, sehingga mereka meminta bantuan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan untuk membujuk Chairil meninggalkan rumah dan menjauhi Mirat.

Seperti pada perempuan-perempuan yang lain, Mirat pun tak lepas dari sajak Chairil. Sajak pertama buat Mirat ditulis pada 18 Januari 1944: “Sajak Putih”, di bawahnya tertulis “buat tunanganku Mirat”.

“…Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri/dan kuberi jiwa/segala yang dikira orang mati/di alam ini!/Kucuplah aku terus/kucuplah/dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku.”

8 Januari 1946, Chairil menulis “Dengan Mirat”. Kiranya tahun tersebut keadaan sudah semakin sulit bagi hubungan Chairil dan Mirat. Terasa ada keraguan dari bait-bait yang ditulisnya:

“…Aku dan dia hanya menjengkau/rakit hitam […] Masih berdekapankah kami/atau mengikut juga bayangan itu?”

September 1946, Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja dan punya anak, sementara Mirat telah dipersunting seorang dokter tentara. Namun, kenangan akan Mirat rupanya masih melekat dalam benak Chairil. Di tahun yang sama dengan kematiannya, Chairil masih mengingat Mirat, mengenang saat-saat mereka ketika masih dilumuri waktu luang untuk saling suka. Maka ia pun menulis “Mirat Muda, Chairil Muda”.

“Ketawa/diadukannya giginya pada mulut Chiaril;/dan bertanya:/Adakah, adakah kau selalu mesra/dan aku bagimu indah?”


Dien Tamaela Jauh di Pulau

“Beta Pattiradjawane/Yang dijaga datu-datu/Cuma satu…”

Kutipan itu adalah awal dari sajak “Cerita Buat Dien Tamaela” yang ditulis tahun 1946. Menurut Sjumandjaja dalam Aku (1987), Chairil mengenal Dien Tamaela di studio lukis Sudjojono. Perempuan itu adalah putri dari pasangan dokter Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane.

Ibu Dien Tamaela tak setuju Chairil mendekati anaknya. Perempuan pujaan Chairil pun tak berumur panjang, Dien Tamaela meninggal pada tahun 1948. Dua tahun sebelumnya, Chairil menulis “Cintaku Jauh di Pulau”. Barangkali mengenang hubungan mereka yang buru-buru selesai karena dirintangi restu orangtua:

“Amboi!/Jalan sudah bertahun kutempuh!/Perahu yang bersama/’kan merapuh!/Mengapa ajal memanggil dulu/Sebelum sempat/berpeluk dengan cintaku?!” 

Gajah, Aku Rindu

Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada September 1946. Dari pernikahan itu lahir Evawani. Menurut anaknya, sebelum menikah dengan Chairil, ibunya tengah didekati seorang dokter. Namun, si penyair gigih melumatkan hati Hapsah sampai akhirnya berhasil ia miliki.

“Chairil memanggil Mamah itu ‘Gajah’ karena memang tinggi-besar, gendut kayak saya sekarang ini, sementara Chairil kan kecil-kurus. Mungkin, kalau dia masih hidup, saya pun akan dipanggilnya Gajah,” ujar Evawani.

Meski hanya Hapsah yang memberinya seorang buah hati, tapi hampir tak ada sebiji pun sajak buat dirinya. Hasan Aspahani yang menulis biografi Chairil berhasil menemukan sebaris sajak buat Hapsah, ditulis tangan tanpa mesin tik dan memakai pensil, berjudul “Buat H”:

“Aku berada kembali di kamar/bersama buku/seperti sebelum bersamamu dulu.”
“Tidak terbit di mana-mana. Namun, sajaknya terdapat di dalam buku kerja Chairil […] Karya-karya yang belum selesai menjelang kematiannya,” ujar Hasan.

Ia menduga sajak tersebut adalah kerinduan yang mendalam terhadap sosok istrinya.

“Dia kangen sama istrinya di hari-hari terakhir jelang kematiannya. Dia kangen pada istri dan rumahnya dulu. Dan ‘Buat H’ menurut H.B. Jassin memang buat Hapsah,” tambahnya.

Damhuri Muhammad dalam pengantar Chairl Anwar (2016) menulis bahwa menjelang kematiannya, Chairil bersemangat untuk mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajaknya. Ia berniat menikahi Hapsah kembali dan membesarkan anaknya.

“Ia rindu ketan srikaya bikinan Hapsah. Royalti dari buku itu ia niatkan untuk menebus kembali perkawinannya yang berantakan. Namun, saat itu pula penyakit parah menyerangnya. Hanya dalam hitungan hari, meriang yang melanda, membuat sekujur tubuhnya hampir membeku. Muntah darah tak sudah-sudah, hingga pada 28 April 1949 ajal datang merenggutnya,” tulis Damhuri.


Chairil Anwar banyak menulis sajak untuk perempuan-perempuan yang dicintainya

Sumber tulisan: https://tirto.id/para-perempuan-dalam-hidup-dan-puisi-chairil-anwar-cJUJ
- 6 Mei 2018




Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Mari Kita Lepas, Kita Lepas Jiwa Mencari

Perempuan dalam Kehidupan Chairil Anwar 

Sri Ajati  yang membuat Chairil Anwar tergila-gila/ Foto Istimewa

'


“Chairil Anwar itu adalah hippie pertama di Indonesia,” ujar Gadis Rasjid.

Perempuan ini adalah wartawan surat kabat Pedoman dan majalah mingguan Siasat. Ia sempat meliput operasi militer penumpasan PKI Madiun 1948. Gadis Rasjid juga pernah secara mendalam mewawancarai Sutan Takdir Alisjahbana. 10 wawancara yang dilakukan Gadis Rasjid dengan tokoh kebudayaan tersebut diterbitkan menjadi buku bertajuk Di Tengah-tengah Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1949).
Menurut Ajip Rosidi dalam Mengenang Hidup Orang Lain (2010), Gadis Rasjid adalah seorang pekerja yang ulet. Apa pun yang dipercayakan kepadanya, pasti akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

“Pada dasarnya dia memang wartawan yang mulai menceburkan dirinya pada awal revolusi kemerdekaan, sehingga mempunyai sikap bebas yang mungkin dianggap kurang cocok oleh sebagian manusia Indonesia sekarang yang pernah mendapat indoktrinasi yang feodalistis,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid adalah salah seorang perempuan yang namanya diabadikan oleh Chairil dalam sebuah sajak berjudul “Buat Gadis Rasjid” yang ia tulis tahun 1948. Sajak ini sengaja dipesan Gadis karena mereka memang dekat.

Menurut pandangan Gadis, dalam Chairil Anwar (2016), penyair ini adalah orang yang begitu hidup dan seolah-olah mau merangkul semua kehidupan. Ia juga mengenang Chairil sebagai orang yang senang pada perempuan. “Semua teman wanitanya selalu diperhatikannya,” ujarnya.

Amatan Chairil terhadap Gadis Rasjid yang ia tuangkan dalam sajaknya, menurut Ajip Rosidi, sesuai dengan kepribadian wartawan tersebut. Sikap bebas yang kurang cocok dengan sebagian orang, tetap ia pertahankan.

“Namun sikap itu tetap dipertahankannya karena sebagai bangsa muda yang sudah ‘bisa bilang aku’ tak ada pilihan lain baginya selain ‘Terbang/mengenali gurun/sonder ketemu, sonder mendarat/--the only possible non-stop flight’ dan ‘Tidak mendapat’,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid wafat pada 28 April 1988. Ia meninggal karena terluka saat hendak meresmikan pemugaran rumah pengasingan Sutan Sjahrir di Bandaneira.
Menanti Sri yang Selalu Sangsi

Sri Ajati kuliah di jurusan bahasa Belanda, Universitas Indonesia, dari tahun 1940 sampai 1942. Saat Jepang masuk, sekolah dan kampus ditutup. Anak-anak muda kemudian sering berkumpul di gedung Pusat Kebudayaan, termasuk Sri Ajati dan Chairil.

Tahun 1946, bersama suaminya Sri Ajati pindah ke Serang, Banten. Di sanalah ia kedatangan salah seorang anak angkat Bung Sjahrir, dan mengabarkan bahwa Chairil telah membuat sajak untuk dirinya.

Sajak pertama bertitimangsa Maret 1943, berjudul “Hampa”. Di bawah judul tertulis, “untuk Sri yang selalu sangsi”.

“…Sepi memagut/Tak kuasa-berani/melepas diri/Segala menanti/Menanti-menanti/Sepi.”

Sajak kedua berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Di bawah judulnya lagi-lagi tertulis, “buat Sri Ajati”.

“…Tiada lagi/Aku sendiri/Berjalan/menyisir semenanjung/masih pengap harap/sekali tiba di ujung/dan sekalian selamat jalan/ dari pantai keempat/sedu penghabisan bisa terdekap.”

Sri kaget, karena ia benar-benar baru mengetahui kalau Chairil membuat sajak untuknya. Setelah pindah lagi ke Jakarta, ia melihat lagi sajak tersebut di surat kabar Pedoman yang dipimpin oleh Rosihan Anwar.

“Saya tidak tahu. Saya baca di Pedoman, di situ saya baca bahwa Chairil itu cinta sama saya, tapi dia tak pernah mengatakan bahwa dia cinta sama saya,” ujarnya saat diwawancara oleh Alwi Shahab.

Sementara Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016) menulis kalau pertemuan Sri Ajati dengan Chairil adalah di sebuah studio radio di Universitas Indonesia. Selain Chairil, Sri Ajati juga mengenal Rosihan Anwar, Usmar Ismail, Gadis Rasjid, H.B. Jassin, dan lain-lain.

Menurut H.B. Jassin, seperti dikutip Hasan Aspahani, Sri Ajati adalah perempuan dengan tubuh tinggi semampai, kulitnya hitam manis, rambutnya berombak, kerling matanya sejuk dan dalam.

“Kiranya, pada tahun 40-an, tak ada pemuda yang sehat jiwa raganya yang tidak jatuh hati pada Sri Ajati,” tambah H.B. Jassin.

Menilik tampilan Sri Ajati seperti yang dituturkan H.B. Jassin, tak heran jika Chairil menyukainya. Namun yang mengherankan, berdasarkan pengakuan Sri Ajati, Chairil tak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Apakah kalimat “Sri yang selalu sangsi” adalah keraguan Chairil sendiri untuk mengungkapkan perasaannya?
Sri Ajati meninggal pada 30 Desember 2009.
Tuti, Bahaya yang Lekas Jadi Pudar

Dalam beberapa catatan tentang Chairil, tak diketahui pasti siapa sebetulnya Tuti. Nama yang hampir mendekati Tuti hanya Titi, seperti yang disampaikan Sri Ajati dalam wawancaranya dengan Alwi Shahab.

Dalam Derai-derai Cemara (1999), yang diterbitkan oleh majalah Horison, Asrul Sani menyebutkan bahwa Chairil kerap pergi ke pesta, bergaul dengan anak-anak Indo dan nongkrong di tempat-tempat para pelajar sekolah Belanda biasa berkumpul, salah satunya Toko Artic yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya.

Entah siapa Tuti, yang jelas hasrat Chairil tumbuh juga di toko itu. Tahun 1947, ia menulis “Tuti Artic”. Es, susu, coca cola hadir dalam sajaknya. Lebih dari itu, ia tak segan mengutarakan gairahnya:

“Kau pintar benar bercium/ada goresan tinggal terasa/--ketika kita bersepeda/kuantar kau pulang--/Panas darahmu/sungguh lekas kau jadi dara/Mimpi tua bangka/ke langit/lagi menjulang…”

Aroma kisah cinta atau berahi selewatan terasa benar di pengujung baitnya. Chairil seperti tak hendak mengenang dan berlama-lama dengan kisah itu:

“Aku juga seperti kau/semua lekas berlalu/Aku dan Tuti + Greet + Amoi…/hati terlantar/Cinta adalah bahaya/yang lekas jadi pudar.”

***


Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Kehidupan Para Perempuan dalam Puisi Chairil Anwar

Oleh: Irfan Teguh 




Bagi Chairil, kelimpahan materi saat bocah, kisah cinta, dan hayat: semuanya lekas pudar.

Pada diri Chairil Anwar ada sepenggal kalimat yang melekat: “lekas jadi pudar”. Sewaktu kecil, dia dibesarkan dengan kelimpahan harta. Bocah ini tak pernah kekurangan makanan dan mainan. Seekor ayam goreng sanggup ia gado sendirian. Mainan terbaik ia dapatkan.

“Lihatlah cinta jingga luntur/Dan aku yang pilih/tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur/rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi/pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang/gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di zaman kanak.”

Sajak itu ia tulis pada 1948 tanpa judul. Meski kemudian, dalam buku Aku Ini Binatang Jalang (2002), sajak itu diberi tajuk “Selama Bulan Menyinari Dadanya”. Pada bait berikutnya, ada kalimat:

“…Kalau datang nanti topan ajaib/menggulingkan gundu, memutarkan gasing, memacu kuda-kudaan, menghembuskan kapal-kapalan…”

Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016), sajak itu adalah gambaran kebahagiaan masa bocah, kelapangan bermain, yang kemudian disadari oleh Chairil akan lekas sirna dilumat “topan ajaib” kehidupan. Ya, kebahagiaan dan keleluasaan yang cepat berlalu.

Dalam urusan asmara, setali tiga uang, Chairil jago memikat dan mudah dipikat perempuan. Gelombang cinta dan berahi mengalir deras, dan pada akhirnya tak dapat ia genggam. Sejumlah nama perempuan ia tulis dalam sajak-sajaknya: Karinah Moordjono, Ida Nasution, Sri Ajati, Gadis Rasjid, Sumirat, Dien Tamaela, Tuti, Ina Mia. Ada pula yang sekadar inisial: H, K, dan Nyonya N.

Dalam pandangan Sjamsulridwan, kawannya sewaktu kecil, Chairil adalah bocah yang cepat matang. Kisah-kisah cabul dalam buku-buku yang didapat dari penyewaan dan film-film yang ditonton di bioskop membuat hasrat Chairil dan kawan-kawannya menggelegak.

“Tetapi pada Chairil penyaluran ini agak kasar kelihatannya,” ujar Sjamsulridwan seperti dikutip Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016).
Terkenang Karinah

Meski nama perempuan pertama yang ditulis dalam sajaknya adalah Ida Nasoetion, tapi sesungguhnya yang mula-mula hadir dalam hidupnya adalah Karinah Moordjono. Gadis itu ia kenal saat masih tinggal di Medan. Karinah anak seorang dokter.

Dan Chairil, dengan daya pikat yang dimilikinya, yang kerap melahirkan rasa iri kawan-kawannya karena selalu mampu mendapatkan perhatian gadis tercantik di kelas dan kampung lain, terpikat pada Karinah. Sekali waktu ia teringat pada gadis itu, lalu menulis sajak berjudul “Kenangan”.

“…Halus rapuh ini jalinan kenang/Hancur hilang belum dipegang…”

Chairil menulisnya pada 19 April 1943, saat usianya menginjak 21 tahun dan sudah tak lagi tinggal di Medan. Tak lagi berdekat-dekatan dengan Karinah.

“Ini mungkin cinta yang terlambat untuk sebuah cinta monyet, tapi terlalu lekas untuk sebuah hubungan yang serius. Tapi dari sajaknya kita bisa melihat betapa seriusnya Chairil menjalin hubungan,” tulis Hasan Aspahani.

Cinta awal itu bagi Chairil membangkitkan kenangan, meski “halus rapuh” dan akhirnya “hancur hilang”. Kegagalan hubungan dengan Karinah di usianya yang masih belia, entah berlangsung lama atau sebaliknya, kiranya tetap menyisakan sesal. Sajak itu dipungkas dengan kalimat:

“Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia”

Ida, Aku Mau Bebas dari Segala

Ida Nasoetion adalah mahasiswi sastra Universitas Indonesia. H.B. Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana memujinya sebagai penulis esai dan kritik sastra yang gemilang. Ia pernah bekerja di kantor bahasa bentukan Jepang. Di tempat itu para sastrawan berkumpul, termasuk Chairil. Dan mudah ditebak, ia jauh hati pada Ida. Kegembiraan menyelimutinya. Harapan berpendaran, ia riang bagai bocah. Februari 1943, ia menulis sajak “Ajakan”:

“Ida/Menembus sudah caya/Udara tebal kabut/Kaca hitam lumut/Pecah pencar sekarang…”
Jika hidup Chairil umpama kabut tebal dan hitam lumut, maka kehadiran Ida membuatnya hilang berganti cahaya yang memecah dan memencar. Masa remaja seolah kembali datang.

“…Mari ria lagi/Tujuh belas tahun kembali/Bersepada sama gandengan/Kita jalani ini jalan…”


Namun, rupanya ajakan Chairil hanya berhenti sebagai ajakan. Sebab Ida tak menyambutnya. Kepada H.B. Jassin ia pernah berkata, “Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Namun, apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak keruan itu?”

Meski ucapan Ida tak disampaikan oleh H.B. Jassin kepada Chairil, tapi kiranya penyair itu merasakan juga sikap Ida. 7 Juni 1943, Chairil menulis “Bercerai”. Dua kali ia menulis kalimat: “Kita musti bercerai…”

Sebulan setelah menulis sajak tersebut, Chairil menulis pidato untuk dibacakan di depan Angkatan Baru Pusat kebudayaan, sebuah lembaga kebudayaan yang dibentuk Sukarno pada zaman Jepang. Sekujur naskah dipenuhi nama Ida. Rupanya ia belum ikhlas betul melepaskan perempuan itu. Penulisannya pun tak lazim seperti teks pidato. Untuk hal ini, berikut alasan Chairil:

“Sengaja tidak kuberi bentuk pidato pada pembicaraan ini, karena pidato melepas-renggangkan dari pembicara rasanya. Jadi kucari bentuk lain. Ada teringat akan menerang-jelaskan saja, sambil menganjurkan, sekali-sekali menyatakan pengharapan,” ujar Chairil.

Setelah pembuka, Chairil mengawali bagian pertama pidatonya dengan kalimat, “Ida! Idaku-sayang.” Bagian berikutnya nama itu muncul lagi, “Ida! Rangkaian jiwa, lihat!” lalu dilanjutkan dengan, “Ida! Ida! Ida!” Alinea terakhir pidato dipungkas dengan kalimat pertama, “Sayangku mesra.”

Ida benar-benar telah menawannya. Tak tergapai, tapi begitu kuat membelenggu. Hingga pada 14 Juli 1943, Chairil menulis sajak “Merdeka”:

“Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida…”

Sumpah dan cinta pada Ida yang semula ia percayai, hingga menjadi sumsum dan darah, serta seharian dikunyah-dimamah, pada akhirnya tak membebaskannya.

Kesudahan hidup Ida Nasoetion tragis. Ia hilang saat melakukan perjalanan ke Bogor pada tahun 1948. Koran De Locomotief dan Het Dagblad melaporkan peristiwa itu.

“Seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasoetion hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, di mana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi,” tulis De Locomotief.


Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Inikah Penulis Perempuan Inggris Terbaik

Minggu, 08 Oktober 2017

George Eliot atau Mary Ann Evans dengan karyanya, Middlemarch, berada di posisi satu dalam 
daftar 100 novel Inggris terbaik.
Novelis-novelis terhebat asal Inggris adalah para perempuan. Begitulah hasil dari polling atau jajak pendapat para kritikus BBC Culture tentang 100 novel Inggris terbaik, dan Middlemarch karya George Eliot ada di posisi satu, diikuti oleh To The Lighthouse dan Mrs Dalloway karya Virginia Woold, Jane Eyre dari Charlotte Bronte, Wuthering Heights dari Emily Bronte, dan Frankenstein karya Mary Shelley juga masuk di 10 besar, sehingga hanya ada dua penulis pria di sana: Charles Dickens dengan Great Expectations, Bleak House, dan David Copperfield, serta William Makepeace Thackeray dengan Vanity Fair.

Amati lebih jauh lagi, dan Anda akan melihat bahwa buku yang ditulis perempuan hampir mengisi separuh dari daftar 20 besar hasil polling tersebut. Lihat lebih jauh lagi ke bawah sampai ke nomor 100, dan hampir 40 persen – sebuah pencapaian karena kritikus kami memilih karya yang bertahan di zaman itu, dan ditulis pada masa di mana dibutuhkan lebih banyak keberanian dan kegigihan buat perempuan untuk menulis karya dibanding penulis laki-laki. (Middlemarch memang berada di posisi satu, tapi jangan lupa, Mary Ann Evans merasa bahwa dia harus menerbitkan buku dengan menggunakan nama pria.) Hampir sepertiga dari judul buku dalam daftar tersebut berasal dari abad 18-19, dan 22 lainnya terbit sebelum 1950.

Hanya 13 novel yang berasal dari abad ini, dan dari era ini pun, mayoritasnya adalah perempuan. Dua dari tiga yang terbaru, semua terbit pada 2012, ditulis oleh perempuan: There but for the oleh Ali Smith dan NW oleh Zadie Smith (yang ketiga adalah novel Patrick Melrose karya Edward St Aubyn). Perempuan juga menjadi mayoritas dari tiga penulis terbaik yang masih hidup saat ini: bersama dengan Alan Hollinghurst, Zadie Smith dan Jeanette Winterson masing-masing punya dua buku. Dan penulis mana yang 'menang' dalam hal jumlah buku yang terpilih? Lagi-lagi perempuan, karena Woolf dan Austen, bersama dengan Dickens, masing-masing punya empat judul buku di daftar terbaik ini.

Perempuan unggul

Hasil ini kontras dengan sebagian besar polling serupa dalam satu dekade terakhir. Saat BBC mengenalkan Big Read pada 2003 untuk mencari novel terfavorit di Inggris, hanya empat buku dari penulis perempuan yang masuk ke 10 besar. Pada 2008, the Times mencari 50 Penulis Terhebat Inggris sejak 1945. Hasilnya? Hanya seperempat yang perempuan. Pada 2014, the Telegraph mendafar 20 Novel Inggris dan Irlandia Terbaik Sepanjang Masa, termasuk delapan perempuan – jumlah yang lebih mewakili tapi masih kurang dari 50% dan sayangnya tidak mengindikasikan sebuah tren.

Awal tahun ini, saat koran yang sama membuat daftar baru lagi – 100 Novel Yang Harus Dibaca Semua Orang – penulis perempuan hanya tiga dari 10 buku teratas, dan 19 penulis perempuan dari 100 dalam daftar. Sementara, kritikus sastra utama The Observer, Robert McCrum, menghabiskan dua tahun untuk mendaftar 100 novel terbaik dalam bahasa Inggris. Saat dia menerbitkan 10 novel terbaik sepanjang masa versinya pada bulan Agustus, dia hanya menyebut empat penulis perempuan. Dan secara keseluruhan, karya dari penulis perempuan hanya ada satu dari setiap lima judul pilihannya.
Zadie Smith memiliki dua buku dalam daftar 100 novel Inggris terbaik.
Jadi apa yang menyebabkan hasil temuan polling BBC Culture ini? Pertama, fokusnya adalah pada karya sastra Inggris, dan bukan karya internasional atau sastra berbahasa Inggris. Perbedaan lain adalah ini tidak membatasi diri pada periode waktu khusus, tapi mencatat semuanya dari Robinson Crusoe karya Daniel Defoe pada 1719 yang dipercaya adalah novel berbahasa Inggris pertama, sampai karya yang muncul pada dekade ini. Namun perbedaan ini belum menjelaskan bagaimana polling kami ini bisa menghasilkan lebih banyak karya dari penulis perempuan – bahkan tak bisa menjelaskan sama sekali. Selain itu, Amerika punya tradisi mengkilap soal penulis perempuan, dan jauh lebih mudah bagi perempuan untuk menjadi penulis dan memiliki karir sejak 1945 – awal mula daftar the Times – daripada sebelumnya.

Salah satu perbedaan utama antara polling BBC Culture dan daftar lainnya adalah bahwa daftar ini disusun secara eksklusif dari kritikus non-Inggris. Terbagi secara merata dari soal gender, dan berasal dari negara-negara termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, Denmark dan India.


Penghargaan Buku

Secara kolektif, sudut pandang mereka sebagai orang luar menegaskan aspek penting dalam budaya sastra Inggris. Daftar ini menguatkan bahwa cengkeraman internasional dari berbagai penghargaan buku Inggris terutama saat mempromosikan buku di luar negeri dan menegaskan reputasi. Dari judul-judul abad 21 yang masuk dalam daftar, Small Island karya Andrea Levy memenangkan Bailey's Women Prize for Fiction (saat itu dikenal sebagai Orange Prize), dan White Teeth dari Zadie Smith memenangkan, beberapa di antaranya, Costa Novel Award (saat itu bernama Whitbread). The Line of Beauty karya Hollinghurst, Wolf Hall karya Hilary Mantel dan The Sense of an Ending karya Julian Barnes semuanya memenangkan Man Booker Prize, dan Atonement karya Ian McEwan, The Little Stranger karya Sarah Waters, dan Brick Lane karya Monica Ali juga masuk nominasi.
Empat novel karya Virginia Woolf masuk dalam daftar 100 novel terbaik Inggris pilihan kritikus asing.
Namun yang lebih penting, bagi orang luar daripada orang Inggris, lansekap sastra Inggris terlihat lebih didominasi oleh perempuan. Kenapa? Karena rangkaian karya perempuan dalam daftar ini menghancurkan upaya untuk melakukan generalisasi. Ada karya klasik feminis seperti The Golden Notebook karya Doris Lessing, karya era tertentu seperti Excellent Women karya Barbara Pym, dan buku-buku yang butuh dibaca luas – seperti A Legacy dari Sybille Bedford. Saya bersorak gembira ketika melihat Old Filth karya Jane Gardam di nomor 71; salah satu catatan terbaik tentang bagaimana keinggrisan berubah dalam 100 tahun terakhir – bacaan menyenangkan sejak dari awalnya yang tajam dan sinis sampai akhirnya yang seperti elegi.

Tapi, mungkin saja, semua kritik yang biasanya ditujukan pada 'tulisan perempuan' masih tetap berlaku di kalangan pembaca asing. Fokus domestik dan kanvas yang kecil? Dua-duanya adalah bahan dasar untuk fiksi yang bisa menceritakan tema-tema universal seperti hubungan antar manusia, anak-anak, dan kehidupan internal yang kaya.

Kita pun tak seharusnya melupakan bahwa kritikus diminta untuk mengidentifikasi novel Inggris terbaik, bukan hanya novel terbaik yang kebetulan ditulis oleh penulis asal Inggris. Mungkinkan bahwa aspek perempuan – seperti, kecenderungan untuk melihat diri sebagai pihak yang diremehkan – bisa cocok dengan aspek karakter nasional Inggris, sehingga menghasilkan esensi yang kemudian dicari oleh pembaca dari luar negeri pada novel yang khas Inggris? Penjelasan yang lebih mungkin adalah, begitu banyak generasi penulis perempuan yang merasa dirinya dua kali menjadi orang luar atau outsider – dari jenis kelamin dan profesi kreatif – sehingga hasil pengamatan mereka menarik buat orang asing lainnya.

Tapi mungkin yang paling penting adalah fakta mendasar bahwa kritikus yang ditanya tidak tinggal di Inggris. Karena bukan hanya polling yang menyatakan bahwa penulis terbaik kita adalah para pria. Beberapa upaya dilakukan di penerbitan AS seperti di Paris Review dan New York Times Book Review untuk mengoreksi ketidakseimbangan gender dalam soal buku yang dibahas dan peresensi yang direkrut, tapi London Review of Books masih ketinggalan.

Sampai tahun lalu, 82% dari semua artikel yang ditulis di LRB ditulis oleh pria, dan perubahan masih terjadi secara pelan. Bagi siapapun yang mendalami budaya sastra London, mungkin Ian McEwan, Salman Rushdie dan Kazuo Ishiguro akan mendominasi, namun dalam polling kami, masing-masing penulis ini hanya punya satu judul (Atonement,Midnight’s Children dan Never Let Me Go). Dan Martin Amis malah tidak disebut sama sekali, sementara ayahnya, Kingsley, punya satu judul dari buku debutnya Lucky Jim. Yang juga tak terlihat dalam polling tersebut adalah Will Self.

Daftar terbaik seringnya menimbulkan kemarahan tapi juga membuat orang tertarik – terutama yang mendaftar sesuatu yang subjektif, seperti novel. Tapi secara keseluruhan, polling ini mengkonfirmasi sesuatu yang dikatakan oleh Virginia Woolf pada 80 tahun lalu di A Room of One's Own: masalahnya bukanlah perempuan penulis Inggris tak menghasilkan karya yang kuat dan bermakna dengan orisinalitas yang mengagumkan, bobot intelektual, dan kesan emosional yang kuat. Masalahnya adalah dunia sastra, bahkan sampai sekarang, masih ragu-ragu untuk mengakui pencapaian itu.

Sumber: http://www.bbc.com/indonesi


Seterusnya.. | komentar

Pemberdayaan Perempuan Berawal dari Pikiran Perempuan Sendiri

Rabu, 20 September 2017


oleh Iffatul Hidayah
Iffatul Hidayah

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bertugas untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam yang universal tersebut. Tatapan Islam yang sangat memberdayakan perempuan tersebut berimplikasi pada pola pengembangan pendidikan yang mendukung upaya pemberdayaan perempuan.

Dengan demikian, idealnya pendidikan pesantren diorientasikan untuk mengarahkan, membimbing dan menuntun anak perempuan sebagai peserta didik, supaya mampu berdiri sendiri atau mandiri, kreatif dan bertanggung jawab. Sebagaimana yang diungkapkan John Dewey, bahwa melalui pendidikan setiap individu seharusnya memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan kegiatan yang berarti (Hook dalam Ratnasari, 2016).

Pada dasarnya tujuan dari pendidikan adalah untuk membangkitkan nilai kritis yang akan membantu masyarakat dalam memperjuangkan nilai keadilan. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan berbasis pesantren seharusnya mampu membangkitkan kesadaran kritis peserta didiknya, dan dapat dijadikan sebagai wahana untuk memberdayakan perempuan. Namun pendidikan di pesantren yang terjadi selama ini belum memberdayakan perempuan. Hal ini dapat dilihat melalui beberapa hal diantaranya adalah kurikulum yang tidak sensitive gender dan metode yang digunakaan masih bersifat indoktrinasi.

Untuk mendukung adanya pemaparan diatas bisa kita lihat dari metode pengajar di pesantren tradisional yang masih sangat melekat dengan pengajaran kitab kuningnya. Dalam diri mereka terdapat keyakinan bahwa ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab kuning merupakan pedoman hidup yang relevan. Salah satu persoalan yang sampai saat ini masih menjadi pertentangan yaitu mengenai laki-laki dan perempuan.

Menurut Masdar F. Mas’udi, kitab kuning yang secara umum dikaji oleh pesantren tradisional menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang separuh harganya dibandingkan dengan laki-laki. Diantara contohnya, fiqih yang mengajarkan orang tua untuk membeli dua ekor kambing pada kelahiran anaknya yang laki-laki, tapi hanya satu ekor kambing untuk kelahiran anak perempuan. Dari argument tersebut terdapat pernyataan bahwa terjadi perbedaan antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi itu semua tergantung bagaimana cara kita mempersepsikan sebuah kalimat tersebut, karena tidak semua pernyataan hanya bisa bisa dilihat dari satu sisi saja, melainkan banyak hal yang mesti kita kaji agar tidak ada kesalahan dalam menafsirkan sebuah kalimat.

Meskipun demikian, tidak berarti kitab kuning dengan segala pemikirannya harus dinilai buruk dan di musnahkan melainkan kita harus melastarikan kitab tersebut hanya saja kita perlu merubah sedikit pemikiran kita sesuai dengan tuntutan zaman. Karena proses pemberdayaan perempuan harus berawal dari pikiran perempuan itu sendiri, dari kesadaran tentang dirinya, hak-haknya, serta kemampuan dan potensinya. Dengan adanya pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berupaya mengembangkan potensi kemanusiaan berdasarkan Alqur’an dan hadist diharapkan bisa menjadi salah satu tempat untuk dijadikan tempat pemberdayaan perempuan yang bisa meningkatkan kualitas yang dimiliki, juga bagaimana seorang perempuan bisa mempunyai kepribadian yang tidak bertentangan dengan norma-norma islam. (Sumber: lintasmaduranews.com/judul asli:  Feminisme: Pemberdayaan Perempuan dalam Pesantren )

Seterusnya.. | komentar

Batman Teacher, Kumpulan Cerpen Sang Guru Widayanti

Rabu, 06 September 2017

Sang penulis Widiyanti dan bukunya

Sebuah Hantaran

Kegiatan menulis pada hakikatnya adalah suatu proses berpikir yang teratur, sehingga apa yang ditulis mudah dipahami pembaca atau penikmat. Sebuah tulisan dikatakan baik dan menarik apabila tulisan yang disampaikan jelas dan bermakna serta memenuhi kaidah gramatika. Jadi kemampuan menulis seseorang merupakan kemampuan untuk menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Hal ini tentu berlaku pada tulisan apa saja, termasuk didalamnya menulis cerita.

Banyak orang yang pandai bercerita secara lisan, namun kerap mengalami kesulitan saat ingin menuliskan ceritanya menjadi sebuah karya tulis,  sebagaimana yang ada dalam tulisan cerita pendek (cerpen). Hal itu terjadi mungkin karena orang tersebut tidak mengetahui dan menguasai keterampilan bercerita. Namun tidak sedikit pula kedua keinginan tersebut dimiliki seseorang, trampil menulis cerita dan bahkan menceritakan dalam bahasa lisan.

Pada saat ini menulis cerpen dapat dilakukan oleh berbagai kalangan misalnya para artis yang sibuk, para aktifis dan atau siapa saja yang memiliki kemampuan menulis cerita, termasuk dilakukan oleh para guru. Menulis cerpen sangat bermanfaat, karena diantaranya melepaskan beban fikian kedalam sebuah cerita, mengeluarkan unek – unek dari dalam hati dan mampu membebaskan permasalahan kedalam bentuk karya sastra. Namun banyak orang yang mengalami kesulitan saat ingin melakukannya. 

Sesuai dengan sifatnya cerita yang pendek ini, bisa dan dapat dibaca dalam waktu singkat, kapanpun dan dimanapun mereka ada waktu luang. Diperjalanan, di rumah ataupun di ruang terbuka. Hal inilah yang menjadi pilihan para pembaca cerpen, karena saat membacanya tidak perlu tempat tersendiri dan tidak membebani pikiran.

Salah orang guru yang juga cerpenis mencoba mengelaborasi pengalaman pribadinya ke dalam sebuah cerita pendek. Widayanti, S.Pd, yang kini berprofesi sebagai guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura ini mencoba menuangkan imaji kreatifnya dalam buku kumpulan cerpen Batman Teacher. Judul buku ini menjadi pilihan karena “batman” dan “teacher” mempunyai makna tersendiri bagi dirinya lantaran terkait proses kreatifnya pada saat ia bertugas di SDN Kalowang V   (desa Kalowang) wilayah kecamatan Gayam, Pulau Sepudi, Sumenep.

Batman (pada walnya The Bat-Man) adalah tokoh fiksi pahlawan super yang diciptakan oleh seniman Bob Kane dan ditulis  Bill Finger dan diterbitkan oleh DC Comics. Tokoh ini pertama muncul di Detective Comics #27 (Mei 1939). Identitas asli Batman adalah Bruce Wayne, seorang pengusaha yang kaya raya. Nama Bruce Wayne itu sendiri diambil dari nama tokoh sejarah, yaitu Robert the Bruce dan Anthony Wayne.

Batman beroperasi di Gotham City, dibantu oleh Alfred Pennyworth (butler) dan rekannya Robin. Tidak seperti pahlawan super kebanyakan, dia tidak memiliki kekuatan super, ia hanya menggunakan intelegensi, keterampilan sebagai detektif, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan, ketangkasan fisik, dan intimidasi dalam memerangi kejahatan. (Wikipedia)

Kisah Batman inilah yang menjadi inspirasi Widayanti Rose kemudian disinergikan dengan latar dan tempat ia bergumul dalam kehidupannya saat di Kalowang. Kalowang mempunyai arti (Madura) kelelawar besar, merupakan makhluk yang sangat menarik dan memiliki kemampuan  indera yang luar biasa dalam penentuan arah, khususnya kemampuan mengindera tempat dan benda dengan suara yang terpantul.

Jadi Batman Teacher dalam  buku cerpen ini akan menjadi sumber inspirasi bagi pembaca, bukan hanya pada kisah yang dituangkan, tapi lebih tajam lagi bagaimana cerita ini menjadi  gerak yang dihidupkan oleh penulisnya. Gerak seorang guru yang telah menautkan kehidupan dalam gerak berjuang dan perjuangan. Tentu suka dan duka akan menjadi ramuan manis tapi romantis dalam sebuah perjalanan panjang dalam kehidupan anak manusia.  Barangkali tulah realitas seorang bila tertambat dalam sebuah pertanggung jawaban pada lingkungan dan dunia masa yang akan datang.

Cerpen ini cukup menarik untuk disimak, juga bisa menjadi tuntutan bagi pembaca, karena dengan sadar kita membaca cerpen ini, akan melahirkan ketidak-sadaran bahwa sebenarnya kita telah masuk dalam jiwa dan semangat tokoh cerita.

Tanpa listrik dan signal, bukan berarti harus selalu terbelakang. Itulah yang ada di benakku. Aku mau siswaku tidak jauh tertinggal, setidaknya dari SD sesama pulau. Mereka harus bisa bersaing dengan siswa di pinggiran. Harus!”

Perbincangan tentang guru, siswa, gedung sekolah,  lingkungan dan sarana jalanan tampaknya menjadi sebuah penjelajahan cukup menarik, karena disini Widayanti Rose mencoba masuk ke sebuah wilayah yang tak mungkin menjadi mungkin. Itulah yang ingin ditampakan dalam cerita ini agar persoalan mengajar tidak tidak selalu bertumpu pada tempat dan waktu, namun juga termasuk ruang menjadi pilihan dari sebuah keberhasilan.

Ada 18 cerpen yang disuguhkan dalam buku ini, yang diawali dari perjuangan awal sebelum memasuki dunia sekolah sampai masuk dalam sebuah proses panjang dari kehidupan seorang guru yang bergerak dan berkembang dalam satu wilayah jauh dari lingkungan keluarga,  itu hal yang unik dan menarik. 

"Mak, aku berangkat tesan ya. Doakan aku" kataku pada emak saat berpamitan untuk ikut tesan CPNS 2008 lalu. 

Sebagai pengalaman pribadi, penulis tidak merasa canggung dengan menceritakan apa adanya, bahkan dengan terbuka menunjukkan  dan menjelaskan yang tampak maupun yang tak tampak dalam plot ceritanya. Menurut saya ini merupakan sebuah pengembaraan jati diri yang demikian sublim dan mampu membangkitkan kedahsyatan, keharuan, bahkan kegelisahan. Meskipun yang sesungguhnya terjadi, tentu, bisa tak sesederhana itu.

Inilah realitas yang telah dijalani oleh sang penulis. Realitas diri maupun realitas pada sebuah wilayah yang disebut “pulau”. Pemahaman “pulau” tak lebih dari sebuah pulau kecil dalam wilayah kepulauan, dan barang tentu latar kehidupan masyarakat sekitarnya masih menganut paham tradisional, sederhana,  bersahaja dan mungkin masih terbelakang dalam menjangkau kehidupan seperti masyarakat perkotaan. Namun Widiyanti Rose justru makin tertantang dan membuktikannya kepada siang pembaca.

Demikian sekedar hantaran saya serta,  mudah-mudahan buku ini menjadi pintu lebar dalam memasuki dunia kreatifitas yang lebih dahsyat lagi. Amin

Lilik Rosida Irmawati
Ketua Rumah Literasi Sumenep

Seterusnya.. | komentar

Nilai Perempuan Dalam Sastra

Rabu, 30 Agustus 2017

“kita akan rindu, tapi kapan-kapan  ada yang yang tak pernah selesai, memang dari sebuah perjalanan begitu juga semua yang kukerjakan di dalam” (Dina Oktaviani, 2006 : 73) 

Karena keindahannya, perempuan sering ditampilkan dalam karya sastra. Sudah seperti menjadi komoditas iklan dalam karya sastra. Karena keindahannya pula, untuk karya sastra yang bobot kehadirannya sama, antara laki-laki dan perempuan, biasanya perempuanlah yang dipilih. Selain karena keindahan, perempuan sering menjadi inspirasi, dalam melahirkan produk apapun. Alhasil, atribut atau sikap yang mencirikan keperempuanan, sebagai potensi kodrati perempuan, kini justru kian menjadi aset dalam serangkaian produksi dan pasar industri kebudayaan. 

Berbagai kalangan berpendapat, ketika kegiatan industri mulai merambahi kehidupan masyarakat, rumah tangga mulai dipandang tidak berkaitan sama sekali dengan kegiatan ekonomi. Sebab, dalam masyarakat industri, laki-laki dipandang sebagai satu-satunya aktor dalam proses produksi. Ketika industrialisasi masih berada dalam tahap-tahap awal perkembangannya, masih terbatas pada pertambangan dan pabrik, hanya tenaga laki-laki yang dibutuhkan sebagai tenaga kerja. 

Sifat pekerjaan industri pada saat itu membutuhkan tenaga fisik yang kuat, dan secara kultural hal itu hanya dimiliki oleh laki-laki. Kaum perempuan karena dipandang lebih lemah fisiknya daripada laki-laki, ditempatkan untuk melakukan pekerjaan di sekitar rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan dalam rumah tangga ini cenderung dianggap sebagai kegiatan non-ekonomi, karena yang utama tugas perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga. Tugas-tugas rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah, melakukan kegiatan yang berhubungan dengan reproduksi atau konsumsi, dipandang sebagai kegiatan yang non-ekonomi. 

Kaum feminisme tentu saja berusaha meluruskan persepsi dan pandangan tersebut. Mereka berusaha menunjukkan bahwa kaum perempuan justru memberikan konstribusi yang signifikan dalam kegiatan ekonomi meskipun menyandang status ibu rumah tangga. Berbagai studi tentang konstribusi perempuan dalam kehidupan rumah tangga telah pula dilakukan di berbagai tempat. Hasil studi itu memperlihatkan bagaimana ibu-ibu rumah tangga tersebut memberikan konstribusi yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangganya. 

Setidaknya, ada lima citra yang dengan itu nilai perempuan dapat dilihat dalam karya sastra, yaitu sebagai citra pigura, pilar, peraduan, pinggan, dan pergaulan. Dalam citra pigura, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang harus memikat. Untuk itu, ia harus menonjolkan ciri biologis tertentu, seperti buah dada, pinggul, dan seterusnya, maupun ciri kewanitaan yang dibentuk budaya seperti rambut panjang, betis ramping mulus, dan sebagainya. 

Citra tersebut pada generasi sastra 2000-an berhasil dikupas oleh Ayu Utami dkk. Rata-rata penulisnya memang kaum perempuan. Mereka beranggapan, sudah sejak lama citra perempuan dalam karya sastra didominasi kaum lelaki. Padahal, cuma akaum perempuanlah yang tahu dan memahami kondisi biologis perempuan. Maka, aroma sastra wangi dalam perjalanan kesusastraan kita sangat terasa pada penghujung abad 21, seperti terlihat pada Saman, Larung, Jangan Bilang Saya Monyet, Jangan Bermain-main dengan Kelamiku, dan sebagainya. Penampilan citra pigura ini sangat berbeda pada era NH. Dini, La Rose, Mira W (era 1970-an s.d. 1980-an). 

Sedangkan pada citra pilar, perempuan digambarkan sebagai pengurus utama keluarga. Pengertian budaya yang dikandungnya adalah bahwa lelaki dan perempuan itu sederajat, tapi kodratnya berbeda. Karena itulah, wilayah kegiatan dan tanggung jawabnya berbeda pula. Gerakan kaum feminisme untuk membuktikan bahwa kegiatan ekonomi sangat berkaitan dengan peran perempuan, termasuk yang memosisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga, hingga saat ini cukup kuat. Hal ini tentunya merupakan bagian yang penting bagi upaya gerakan feminisme untuk menuntut keadilan dan kesamaan hak dalam kehidupan masyarakat. Juga, tidak memungkinkan untuk memperkirakan sumbangan pekerjaan perempuan terhadap nafkah keluarga dan meramalkan jumlah anggota keluarganya.

Sebagaimana dimahfumi, ada berbagai latar belakang perempuan memasuki pasar kerja. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, terutama bagi perempuan yang belum bersuami tetapi juga menopang keberlangsungan ekonomi keluarga. Kedua, perempuan tidak lagi bersuami tetapi harus memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarganya. 

Ketiga, masih bersuami namun ikut membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan rumah tangganya. Karena itu, pendapatan perempuan akan berpengaruh menyamaratakan terhadap ketimpangan kelas dengan menyamakan perbedaan yang terdapat dalam pendapatan total rumah tangga. Argumen ini bisa saja dapat ditukar dengan cara lain, misalnya penghasilan perempuan adalah terpenting artinya dalam rumah tangga yang para penerima gajinya terdiri dari pekerja kurang terampil dan bekerja pada pekerjaan yang berupah cukup.  

Citra perempuan yang bekerja ini sering terlihat dalam karya sastra. Misalnya, tentang perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam, pembantu rumah tangga, perempuan karier, pramugari, sekretaris cantik, buruh industri, dan sebagainya. Citra peraduan menganggap perempuan adalah obyek pemuasan laki-laki, khususnya pemuasan seksual. Sehingga, seluruh kecantikan perempuan, baik kecantikan alamiah maupun buatan (melalui kosmetik), disediakan untuk dikonsumsi laki-laki melalui kegiatan konsumtif. Citra peraduan ini sering dibidik pengarang yang menonjolkan erotisme perempuan. 

Karya-karya sastra wangi yang pernah booming pada awal tahun 2000-an secara vulgar mengeksploitasi keperempuanan dan keperawanan sebagai modal dasar untuk menjatuhkan kaum lelaki. Drama Lysistrata Aristophanes juga menceritakan apa yang terjadi ketika kaum perempuan melakukan mogok seks terhadap kaum lelaki. Untuk citra pinggan, digambarkan bahwa betapapun tingginya perempuan dalam memperoleh gelar pendidikan dan sebesar apapun penghasilannya, kewajibannya adalah di dapur. Berkat teknologi pula, kegiatan di dapur ini tidak lagi berat dan membosankan. Ada kompos gas, mesin cuci, bahan masakan instan, dan sebagainya. Citra pinggan ini misalnya tentang perempuan saleha yang pintar menyenangkan suami dan anak-anak, tentang ibu yang bijaksana terhadap anak-anak,  dan sebagainya, seperti terlihat pada novel Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy), Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), Salah Asuhan (Abdul Muis) atau sajak Surat dari Ibu (Asrul Sani). 

Terakhir dalam citra pergaulan, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang selalu khawatir tidak tampil memikat dan menawan. Untuk dapat diterima, perempuan perlu melakukan perawatan tubuh secara khusus. Bentuk atau lekuk tubuh, aksentuasi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan kosmetik dan aksesoris yang selaras sehingga seorang perempuan bisa anggun dan menawan, mengundang pesona, dan unggah-ungguh fisik perlu dijaga sedemikian rupa agar menarik dan tidak membawa implikasi rendah diri di arena pergaulan luas. 

Citra pergaulan itu kerap dipotret pengarang sebagai obyek bermulanya konflik. Konflik terjadi ketika perempuan secara psikologis menjadi pencemburu karena merasa tidak tampil memikat dan menawan terhadap suaminya, atau suami yang selingkuh terhadap perempuan yang dapat menjaga citra pergaulannya, dan sebagainya. Nah, ilustrasi tersebut menunjukkan, nilai atau mitos perempuan telah dimanfaatkan bersamaan menngkatnya profesionalisme di kalangan sastrawan. Perempuan dianggap lebih efektif merebut khalayak sasaran. Tidak peduli hal itu bisa dikategorikan sebagai proses dehumanisasi perempuan – meminjam istilah Kasiyan (2008) – yang pada akhirnya akan benar-benar merendahkan martabat perempuan. 

Memang demikiankah yang terjadi pada diri perempuan? Nilai perempuan dalam karya sastra barangkali akan selalu sejalan dengan nilai dalam masyarakat. Semakin masyarakat hipokrit dan patriarkis, semakin kuat pula perempuan menjadi simbol represi, dan pada gilirannya perempuan akan semakin diburu oleh industri budaya. ***


Sumber : Rubrik Rebana, Harian Analisa, Minggu 13 Juli 2008, Halaman 7

Seterusnya.. | komentar

Penulis Sastra Perempuan Bermunculan

Rabu, 23 Agustus 2017


 Perempuan dan Sastra

Oleh Dessy Wahyuni

Pembahasan mengenai perempuan sebagai makhluk sosial tidak kunjung surut. Berbagai hal tentang perempuan itu dapat dikupas. Pembicaraan mengenai perempuan sangat menarik, baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Daya tarik perempuan banyak menghiasi berbagai ruang dalam kehidupan, baik dalam ruang hukum, sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, maupun sastra.

Dalam ruang sastra, kehidupan perempuan seringkali menjadi kisah  yang menarik untuk disajikan. Selain itu, ruang kreativitas perempuan dalam menulis karya sastra bukan pula merupakan hal baru. Luka, airmata, doa, keringat, mimpi, lelah, ataupun sesalan memang melumuri diri perempuan, tetapi memberi basis mentalitas untuk olahan kisah. Makna diri sebagai perempuan tidak akan meruntuhkan etos sastra. Kehadiran diri sebagai pengisah hidup justru membuat pengabdian sastra mirip takdir. Hidup perempuan pun bertaburan kisah dan bergelimang makna.

Perlu disadari bahwa posisi perempuan sejak dulu seakan termarginalkan di bawah dominasi laki-laki. Untuk mengakhiri dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat ini, aktivis perempuan memberontak yang pada akhirnya memunculkan gerakan feminisme, yaitu gerakan menolak segala seuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan dikendalikan oleh kebudayaan dominan (Ratna, 2004).

Feminisme menggabungkan doktrin persamaan hak yang menjadi gerakan terorganisasi untuk mencapai hak asasi perempuan dengan sebuah ideologi transformasi sosial yang bertujuan untuk menciptakan dunia bagi perempuan. Ideologi dalam feminisme ini membebaskan perempuan dengan keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm dalam Wiyatmi [2012]).

Sastra, yang notabene merupakan wujud kebudayaan, turut pula terimbas karena pemikiran dan/atau gerakan pembebasan perempuan ini. Berbagai karya sastra yang berkisah mengenai perempuan bermunculan.

Nasib kaum perempuan Indonesia di tengah dominasi budaya patriarki dapat ditelusuri sejak roman Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli yang terbit pada masa pra-Pujangga Baru. Menjadi representasi dari keadaan zamannya, dalam novel itu perempuan digambarkan dalam posisi yang lemah dan menjadi “korban” kepentingan orang tua, adat, dan nafsu lelaki. Untuk melunasi hutang ayahnya, Siti Nurbaya harus menikah dengan Datuk Maringgih, lelaki tua yang sudah “bau tanah”.

 Meskipun ditulis oleh pengarang lelaki, yang tidak secara jelas membela kaum perempuan, novel tersebut sebenarnya dapat dimaknai sebagai suatu “kesaksian zaman” tentang nasib kaum perempuan. Karena itu, dalam jangka panjang kesaksian itu dapat mengundang empati terhadap nasib kaum perempuan yang pada akhirnya akan mengundang pembelaan. Kenyataannya, pada pascakolonialisme, Siti Nurbaya cukup memberi inspirasi untuk mendorong kebangkitan kaum perempuan agar tidak bernasib seperti Siti Nurbaya.

Tidak hanya itu, penulis perempuan pun bermunculan. Sariamin Ismail contohnya. Sastrawan perempuan kelahiran 31 Juli 1909 di Kotapanjang, Pasaman, Sumatera Barat ini, dalam menulis, menggunakan beberapa nama pena (samaran), yakni Selasih, Selaguri, Srigunting atau Dikejut, Gelinggang, Setawar, Pulut-pulut, Sritanjung, Ibu Sejati, Bundokandung, Mandeh Rubiah, Kakakmu, Sikejut, Misrani, dan Kak Sarinah. Menurutnya, hal itu ia lakukan agar orang mengira bahwa penulis wanita pada saat itu jumlahnya banyak (bukan hanya dirinya), di samping untuk keamanan dirinya dari mata-mata Belanda yang mengawasi. Puisinya yang berjudul “Seruan”, misalnya, menggunakan nama Selaguri (dimuat dalam Suara Kaum Ibu Sumatera [SKIS], Oktober 1930). Puisinya yang lain, “Ratap Tangis”, menggunakan nama Gelinggang (dimuat di SKIS, Mei 1931). Sementara itu, roman pertamanya, Kalau Tak Untung (Balai Pustaka, 1933), menggunakan nama Selasih. Sebagai guru, sastrawan, dan organisatoris, Sariamin gigih memperjuangkan hak-hak perempuan untuk membangkitkan semangat masyarakat.

Perempuan semakin sering dijadikan tokoh sentral dalam karya sastra, berbagai karya sastra yang lahir menunjukkan hal itu. Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa romannya, seperi  Gadis Pantai maupun Larasati,  mengangkat sosok perempuan tangguh dan pemberontak.

Berbeda dengan gambaran perempuan dalam Saman dan Larung karya Ayu Utami yang digambarkan secara frontal. Intinya, pesan yang disampaikan melalui karya sastra itu adalah bahwa perempuan juga memiliki hak atas dirinya. Siapapun tidak berhak memaksa perempuan melakukan apa yang tidak disukainya.

Akan tetapi, kemunculan penulis perempuan ini mencuri perhatian dan menjadi pembicaraan banyak orang pada tahun 2000-an. Pembicaraan ini kerap bernada negatif. Menurut Yetti A.Ka., perayaan (tubuh) diri oleh sejumlah penulis perempuan muda dan cantik dalam karya-karya mereka dianggap liar dan mengangkangi norma-norma agama, sehingga muncul berbagai istilah yang melecehkan, misalnya “Sastra Wangi”, “Sastra Mazhab Selangkangan (SMS)”, dan sebagainya.

Budaya posmodern di tahun 90-an telah memperlihatkan kemunculan ikon perempuan baru: tangguh, seksi, acuh tak acuh, tidak melihat dirinya sendiri sebagai korban, dan menginginkan kekuasaan. Pada dasarnya, posfeminisme ini berusaha mendekonstruksi budaya perempuan dalam kehidupan sosial. Posfeminisme merupakan reaksi melawan perjuangan feminisme tradisional yang membela persamaan perempuan. Dengan kata lain, posfeminisme ini merupakan reposisi feminisme menghadapi realitas patriarki yang berurat akar sehingga terjadi pemarginalan terhadap perempuan (Ann Brooks, 1997).

Yetti berusaha meluruskan hal ini. Ia hadir dengan cerpen-cerpennya yang tidak terjebak dalam kehidupan kosmopolitan dan berpesta merayakan tubuh serta seksualitas perempuan. Dalam empat belas cerpennya yang terkumpul dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu (Gress Publishing, Yogyakarta tahun 2011), misalnya, ia memunculkan sebuah arus perlawanan terhadap kehadiran para penulis perempuan yang seringkali berupaya mendobrak budaya patriarki dalam kehidupan kosmopolitan tersebut.

Perubahan zaman yang terjadi telah menggeser pula (ranah) perempuan dalam khazanah sastra. Sastra, kini, tidak hanya digulati oleh kaum laki-laki dengan ideologi patriarkinya, tetapi perempuan juga dapat mengekspresikan perlawanannya terhadap ketidakadilan gender dengan leluasa. Dengan kemampuannya, perempuan dapat memanfaatkan sastra untuk menunjukkan kedigdayaan dan harga dirinya sebagai perempuan yang cerlang.***

Dessy Wahyuni, peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau.

(sumber: http://riaupos.co/139465-berita-perempuan-dan-sastra.html#ixzz4qb6z0ssS)

Seterusnya.. | komentar

Perempuan Madura Sangat Praktis

Rabu, 09 Agustus 2017

A. Dardiri Zubairi
Perempuan Madura (foto: Agus Gepeng)
Perempuan Madura tidak […] terlalu anggun dan berwibawa. struktur tulangnya kelewat kasar untuk itu [dan] raut mukanya terlalu bebal.  Gadis ciliknya jauh lebih halus, namun segera kasar begitu mereka tumbuh dewasa  (J.S Brandts Buys, 1926/dikutip dari buku Hubb de Jonge, 2011).

Dulu, ketika saya kuliah di Jakarta, sering ditodong seputar pertanyaan tentang mitos seks perempuan Madura.  “Benar gak sih, perempuan Madura kalau bikin kopi bukan sendoknya yang mengaduk, tapi cangkirnya?”

Tak cukup itu, seorang kawan saya asal jawa mengeluarkan anekdot. Ada seoran perempuan Madura lagi menjual jamu tradisional di trotoar. Sial, dagangannya disita oleh Satpol PP. Karena kesal, Satpol PP membuangnya ke dalam sumur. Seketika sumur berubah wujud, rata seperti layaknya sebelum digali. 

Benar saya tidak sekali ditanya atau mendengar anekdot seperti di atas. Pertanyaan dan anekdot yang  sangat hiperbolik. Sarat makna. Ketika mendengarnya saya hanya mesem saja. Sebagai orang Madura, sumpah di tanah leluhur saya tak pernah saya temukan jawabannya. Tak pernah orang menggunjingkannya.

Tiba-tiba mitos kadung melekat. Saya sendiri tidak tahu akar histrorisnya. Mitos memang berbeda dengan pengetahuan. Tetapi daya pukaunya tak kalah dengan pengetahuan. Kadang-kadang dalam prakteknya, sering tumpah tindih. Pengetahuan banyak juga yang memetamorfose layaknya mitos. Peduli amat, biarkan mitos bicara.

Sebuah Kesaksian

Perempuan Madura bagi saya tak ubahnya perempuan lain. Jika berbeda mungkin pada kulitnya yang coklat atau hitam. Untuk menghaluskan bahasa agar santun, muncul kemudian istilah “hitam manis”. Meski dalam bahasa Madura itilah “hitam manis” tidak dikenal. Yang ada adalah “ celleng sedda’ ”. Maknanya kira-kira “hitam yang pas takaran asinnya”. Sedda’ dalam bahasa Madura biasanya menunjuk pada makanan yang keasinan garamnya pas.

Soal cantik, tentu cantik. Tetapi, bukankah cantik merupakan hasil konstruksi ketimbang alami? Bukankah cantik juga dipengaruhi cita rasa kultural? Meski saat ini makna cantik hampir seragam, tetapi suara lain tetap penting dibunyikan. Biarkan cantik didefinisikan sesuai selera kulural. Cantik menurut orang Madura tidak harus sama dengan cantik dalam persepsi orang Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Minang, dan seterusnya. Apalagi dengan cantik menurut parameter miss universe. Atau pendapat orang Londo seperti yang saya nukil di awal tulisan ini.

Madura dengan segenap cita rasa kulturalnya punya referensi sendiri tentang perempuan cantik. Perempuan cantik itu seperti ini, potre koneng potre Madura, pajalanna neter kolenang palembayya meltas manjalin, matana morka’, alessa daun membha, bibirra jerruk salone (potre koneng (nama istri raja) putri Madura, cara berjalan sungguh gemulai, segemulai kayu rotan, matanya lentik, alis seperti daun membha(1), bibirnya seperti seiris jeruk ...)

Pitutur di atas mungkin mengalami pergeseran makna sekarang. Gempuran mitos industry kecantikan tak mungkin dibendung. Konstruksi baru tentang makna cantik muncul. Tak terkecuali pada perempuan Madura, termasuk laki-laki yang mendefinisikannya.

Tetapi toh hingga detik ini pitutur di atas tidak begitu saja tenggelam. Kadang-kadang timbul. Meski kadang-kadang tenggelam. Apa maknanya? Cita rasa cultural yang bersifat local tentang perempuan cantik tidak sepenuhnya hilang.

Pitutur adalah konsep ideal. Saya sendiri juga tidak bisa melacak jejak historisnya, pitutur itu definisi siapa? Perempuan sendiri yang mendefinisikan, atau laki-laki Madura? Bagi saya itu tidak terlalu penting. Meski aktivis gender sering bilang, definisi tentang tubuh perempuan selalu patriarkhis.

Hanya saja, dalam realitasnya saya menyaksikan perempuan Madura sangat praktis. Soal pakaian sering apa adanya. Bahkan bagi sebagian orang luar kadang dibilang “norak” hanya karena pilihan warna yang “ngejreng”. Seringkali yang paling kentara di lengan, gelantungan emas bertengger. Tentu ini khusus perempuan Madura yang the have.

Perempuan biasa dan perempuan desa? Sangat sederhana. Seringkali hanya menggunakan bedak biasa sekedar penanda bahwa ia perempuan. Pakaiannya juga sederhana yang penting menutupi aurat. Kadang bawahnya cukup menggunakan sarung. Ia pandai melekatkan sarung itu di pinggang, agar tidak melorot. Singkatnya, perempuan Madura itu bukan pesolek.

Yang menarik bagi saya justru inner beauty-nya. Perempuan Madura –lebih-lebih yang bersuami—ajeg menjaga diri.  Zinah bagi perempuan Madura adalah pantangan yang menghunjam dalam bawah sadarnya, sebagai perbuatan nista. Baik karena alasan agama maupun cultural, yaitu menyangkut harga diri. Harga diri bagi orang Madura adalah pertahanan diri (self defense) yang terakhir.

Yang lain, perempuan Madura itu pekerja keras. Bahkan dalam hal tertentu daya tahan survival-nya lebih kuat ketimbang laki-laki. Saya pribadi menyaksikan ibu saya, meski ia hanya seorang ibu rumah tangga, nampak sangat perkasa. Ia berada di dapur sejak habis subuh hingga waktu dluhur.

Perempuan Madura meski tidak pandai bersolek, tapi punya kemampuan merawat kesehatan tubuh secara alami. Turun-temurun mereka dididik cara perawatan tubuh dengan menggunakan ramuan herbal yang dibuat sendiri. Meski mungkin sangat sederhana dengan meminum rebusan kunyit dan daun “pacar” (daun yang biasanya untuk memerahkan kuku).

Mungkin karena ramuan tradisional inilah mitos-mitos tumbuh menyangkut perempuan Madura di luar Madura. Meski dalam kesaksian saya mitos itu bisa benar, bisa salah.

Perempuan Madura – sama seperti perempuan lain — saat ini tengah bertarung memperebutkan identitiasnya. Banjir industry kecantikan dengan miss universe sebagai ‘pusatnya’ lamat-lamat terdengar degupnya di tanah leluhurnya. Cuma yang penting, kekuatan yang memancar dari dalam sebagai perempuan Madura yang menjaga diri, pekerja keras, sederhana, setia, dan religious dengan sekuat tenaga harus dipertahankan. Soal mitos, biarlah ia tetap menyelubungi rahasianya.
Judul asli: Rahasia Perempuan Madura
Seterusnya.. | komentar

Dari Kodrat, Emansipasi dan Profesi

Minggu, 18 Juni 2017

Perempuan eksikutif masa kini
oleh: Lilik Soebari          

Dalam kodratnya, perempuan adalah bagian terpenting sebagai pendamping kaum pria. Karena demikianlah Sunnatullah yang berlaku atas makhluk yang bernama manusia. Dengan penciptaan yang berbeda, itulah maka kesempurnaan hidup tercapai. Dengan mengedepankan perasaan yang dimiliki, perempuan menjadi sosok yang lembut, penuh cinta kasih, penuh dedikasi, penuh keikhlasan serta mempunyai jiwa pengorbanan sangat tinggi. Dalam arti sempit peranan perempuan hanya berkutat pada wilayah domestik, di samping hanya berperan dalam wilayah sempit, perempuan juga berperan sebagai jembatan sektor kehidupan, keseimbangan antara tugas dan kebutuhan.          

Dalam pengertian klasik dalam menunjang lingkungan tidak terlepas dari 2 peran, yaitu pertama, dalam peran keluarga (domestik), perempuan mempunyai andil besar. Di samping menjaga keutuhan rumah tangga, erat hubungannya dengan pembinaan generasi penerus, sesuai dengan kedudukan, tugas, kewajiban dan fungsinya. Sebagai anggota keluarga perempuan sebagai subyek sekaligus obyek. Perempuan mempunyai kemampuan dan tanggung jawab untuk menciptakan suasana keluarga yang mengarah pada rumah tangga yang utuh bahagia dan sakinah.          

Yang kedua, sebagai anggota masyarakat peran perempuan menempati posisi sentral dan strategis dalam pengembangan lingkungan. Untuk itu kaum perempuan memiliki beban dan peran multi dimensi, aktif, dinamis dan kreatif dalam mengembangkan nilai-nilai positif, sekaligus mengeliminasi (mengikis) nilai-nilai negatif di lingkungan masyarakat sekitarnya. Disinilah, perempuan mempunyai peran kuat dan luas mendukung terciptanya emansipasi.          

Emansipasi sendiri, menurut garis sejarah awalnya ditiupkan wanita Barat, yaitu suatu usaha kaum perempuan memerdekakan diri dari cengkeraman kekuasaan kaum laki-laki dengan tujuan untuk mendapatkan haknya sebagai makhluk sosial. Dalam sejarah kaum perempuan pada jaman jahilliyah, baik di Timur maupun di Barat, perempuan dijadikan budak, dipermainkan bahkan diperjualbelikan. Namun dalam satu sisi, pengertian emansipasi yang dirujukkan wanita sering diartikan tuntutan kaum perempuan untuk mendapatkan hak dan kedudukan yang sama dengan kaum pria dalam setiap aspek kehidupan. Penafsiran yang keliru inilah memungkinkan akan menjatuhkan  nilai dan martabat perempuan itu sendiri.          

Dalam Islam, kedudukan perempuan dengan jelas  ditegaskan dalam Al-Qur’an: bahwa orang-orang yang beriman, Lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. (Buka At-Taubat 71). Dengan demikian, jelas lah bila dikatakan perempuan Islam sebenarnya  lebih awal mengenal emansipasi. Sebab Islam sendiri memandang, bahwa esensi kemanusiaan perempuan adalah sama dan setaraf  dengan pria. Islam telah menentukan aturan-aturan kehidupan bagi pria dan perempuan secara jelas sesuai dengan tabiat, naluri  ataupun kodratnya. Demikian juga hak-hak perempuan setara dengan pria, kecuali dalam prinsip tertentu, yaitu dalam alasan yang cukup kuat diterima oleh syara’.          

Keterlanjuran  kesalahan Penafsiran pemahaman emansipasi dalam pertumbuhan  pola hidup dan kehidupan perempuan selama ini, justru akan menghilangkan makna peran perempuan itu sendiri. Sebagaimana diketahui dengan gencarnya “teriakan emansipasi” yang ditiupkan negara Barat amat besar pengaruhnya  terhadap perilaku kaum perempuan, khususnya  dengan masuknya arus globalisasi sekarang ini.          

Di dalam era industrialisasi yang digencarkan saat ini peran perempuan  tidak terbatas lagi dalam wilayah birokrasi, akademisi, sosial, politik bahkan keterlibatannya mulai merambah ke bidang lain yang lebih dinamis, menentang dan sensetif-ekonomi bisnis. Motif “profil oriented” perempuan  cenderung melepaskan dimensi kewanitaannya, yang konon, sebagai identitas dan citra diri. Bahkan pengertian “Wanita karier”  atau “wanita profesi” hampir melebihi ambang batas dan rancu. Dari sinilah kondisi dan peran perempuan kerap keluar dari riil dan tapal batas kawasannya, sehingga kerap menjadi sumber lahirnya berasumsi negatif, konsumtif dan destruktif. Bila hal ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan, akan lahir sebuah generasi yang mengarah pada dekadensi moral.          

Dalam paruh abad kedua puluh, peran kaum perempuan mengalami ekspansi dan transformasi besar-besaran.  Kaum perempuan terjun dalam seluruh lapangan kerja kantoran dan profesional, ilmu teknik, bisnis besar, bahkan politik. Peran dalam bidang politik telah menghantarkan perempuan menduduki jabatan puncak sebagai Kepala Negara. Di samping itu jabatan publik yang sangat strategis  telah mampu di raih oleh kaum perempuan. Sifat dan ragam partisipasi  mereka dalam ekonomi, dalam kehidupan politik, dan dalam kebudayaan yang tampak dan dominan sangatlah kompleks.          

Jumlah perempuan, plus partisipasi perempuan dalam angkatan kerja  dan kebutuhan ekonomi menghasilkan pendapatan besar, terutama di kelas menengah. Dengan demikian persaingan dan kompetensi dalam meraih lahan pekerjaan semakin seimbang antara perempuan dan kaum pria. Hal itu disebabkan karena akses pendidikan kaum perempuan melahirkan perubahan radikal dalam jumlah karyawan perempuan semakin besar. Masuknya kaum perempuan terdidik ke dalam angkatan kerja  hampir sepenuhnya menyebabkan peningkatan itu. Sebagian besar dari mereka di jumpai dalam lapangan kerja profesional, teknik dan keilmuan. Mengajar dan pekerjaan medis merupakan pekerjaan yang mengalami pertumbuhan paling cepat, dan pekerjaan kantoran dan pegawai negeri juga mengalami perkembangan yang signifikan. Kaum perempuan benar-benar terjun ke dalam semua profesi, terutama ilmu teknik, politik, pertanian, kedokteran, hukum, jurnalisme, film, bisnis, radio, dan televisi (radio dan televisi lapangan kerja yang telah membuat kaum perempuan menjadi terkenal dan termasyhur).
           
Penutup
           
Bendera  persamaan yang dikibarkan kaum feminis perempuan telah mendapatkan tempat  di hati perempuan Indonesia. Walaupun tidak dapat dipungkiri, gerakan tersebut bersinggungan dan terkontaminasi oleh gerakan feminis Barat yang lebih menekankan persamaan dan kebebasan yang sama, tanpa mematuhi rambu-rambu agama. Kaum feminis Barat membuat mitos-mitos dan mendorong kaum perempuan memburu kemandirian dengan menghalalkan segala cara, sekalipun cara itu mengabaikan kodrat alam.
           
Hal tersebut diperparah oleh  hadirnya media massa, baik cetak maupun elektronika. Media massa telah meracuni pikiran kaum perempuan dengan berbagai tayangan yang tidak mendidik, mengumbar sensualitas, eksploitasi  kecantikan lahiriah dan segudang cerita yang menjauhkan pikiran menggunakan penalaran dan logika serta ambang batas moralitas.  Namun penjajahan budaya yang setiap detik hadir di depan mata melalui layar kaca tersebut belum mampu membentuk sebuah kesadaran, karena banyak dari kaum perempuan telah tercerabut dari akar budayanya sendiri.
           
Wanita adalah tiang negara. Kualitas sebuah generasi tergantung kepada keberadaan dan kiprah perempuan. sangatlah menarik apa yang dikatakan oleh Ustadz Yoyok Yusroh, seorang pendidik sekaligus pendakwah, tentang fenomena perempuan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa saat ini budaya menonton sudah sangat kuat di kalangan perempuan Indonesia. Padahal, suatu bangsa tidak akan cerdas  dengan budaya menonton, tapi budaya membacalah yang mencerdaskan suatu bangsa, dan mampu mengantarkan bangsa itu meraih prestasi dan membangun peradaban tinggi.
           
Tugas berat inilah yang kini diemban oleh Pemerintah Daerah di tengah amuk budaya global, dan tentunya menjadi tugas utama untuk mencerdaskan kaum perempuan. Penguasaan ilmu pengetahuan, keluasan wawasan serta pembekalan berbagai disiplin ilmu akan membantu kaum perempuan dalam mentransferkan ilmu kepada putra-putrinya. Karena kaum perempuan (ibu) menjadi orang pertama yang mengajarkan dasar-dasar agama, yaitu dengan memantapkan iman di dalam benaknya sekaligus membina sektor akhlak, menanamkan nilai-nilai moral, budi pekerti luhur serta menanamkan sikap hidup hemat, disiplin, tekun dan tertib.
           
Di tengah jaman yang memuja hedoisme, tak salah kiranya kaum perempuan masa kini kembali bangkit dan menemukan jati diri yang sebenarnya. Yaitu dengan jalan memperluas wawasan dan cakrawala berfikir, membekali diri dengan berbagai disiplin ilmu, dan tidak pernah berhenti mencari dan membekali diri, tanpa harus menjadi tumbal budaya global di tengah arus modernisasi. Dengan demikian sosok perempuan (Ibu), selamanya akan menjadi pahlawan bagi anak-anak bangsa, sebagaimana kutipan bait puisi dibawah ini :

Kalau aku ikut ujian lalu ditanya
Tentang pahlawan
Namamu, ibu yang kan kusebut
Paling dahulu
                                           (dikutip dari puisi “Ibu”, D. Zawawi Imron)


Daftar Pustaka:
  1.     Journal Perempuan Bersikap pada Pemilu. Rio Ismail, dkk. Solidaritas Perempuan.  Jakarta, 2004
  2.     Matinya Perempuan. Asghar Ali Engineer. IRCiSoD. Yogjakarta, 2003
  3.     Ensiklopedi Wanita Muslimah. Haya binti Mubarok Al-Barik. Darul Falah, 1421 H, Jakarta
  4.     Wanita, Gender dalam Islam. Leila Akhmad. Lentera, Jakarta, 2000
  5.     Artikel “Budaya Menonton dan Membaca”, Yoyok Yusroh. Kompas, 2001
  6.     Journal 1 abad Kartini. Titi Said, dkk. Jakarta, 2000


sebelumnya; Perjalanan Panjang,Kaum Perempuan Dari Masa Ke Masa
Seterusnya.. | komentar

Perjalanan Panjang, Kaum Perempuan Dari Masa Ke Masa

 Oleh : Lilik  Soebari

Pendahuluan
Sepanjang sejarah kehidupan manusia topik tentang wanita tak pernah selesai menjadi perdebatan panjang, dan menyita waktu. Terlebih-lebih pada tahun-tahun belakangan ini, dimana kesetaraan (gender) menjadi topik yang paling hangat untuk diperdebatkan, terutama oleh kaum muslim. Selama ini wajah perempuan Islam  di belahan bumi  manapun tidak pernah  mampu meloloskan diri dari jaring-jaring patriarkis yang diatasnamakan ajaran Islam. Karikatur penggambaran wanita Islam (muslimah) cuma memuat potret perempuan yang “taat, tunduk dan patuh”,  sepenuh-penuhnya ketaklukkan kepada kaum laki-laki (suami). Perempuan hanya tersekat pada konteks, “dapur, sumur dan kasur”.

Sepanjang sejarah kemanusiaan, perempuan pernah berada pada titik nadir dan terendah sebagai makhluk ciptaan-Nya. Sejarah mencatat bahwa perempuan mempunyai posisi yang sangat lemah. Pada masa kejayaan Romawi dan Yunani, perempuan disamakan dengan kotoran najis hasil perbuatan setan. Wanita sama rendahnya dengan barang dagangan yang diperjualbelikan di pasar. Bahkan pada jaman itu, perempuan dianggap tidak mempunyai ruh, sehingga perempuan mengalami berbagai siksaan yang sangat kejam dan di luar batas perikemanusiaan. Pada era kejayaan Persia, perempuan mempunyai kedudukan yang sangat rendah derajatnya. Karena demikian rendah derajatnya, perempuan boleh dinikahi oleh siapapun, ibu, bibi, saudara kandung perempuan, keponakan dan muhrim-muhrim boleh dinikahi.

Di mata orang Yahudi, anak perempuan sama harganya dengan barang dagangan. Bahkan mayoritas laki-laki menganggap bahwa perempuan sebagai laknat dan kutukan. Anggapan semacam itu didasarkan karena wanitalah yang menyesatkan Adam. Sedangkan orang-orang Nasrani menganggap perempuan adalah sumber kejahatan, malapetaka yang disukai, pembunuh yang dicintai dan musibah yang dicari. Sebagai illustrasi, pada tahun 586 Masehi, bangsa Perancis menyelenggarakan sebuah konferensi yang membahas tentang perempuan. Konferensi tersebut membuat satu kesimpulan, “Sesungguhnya perempuan adalah seorang manusia, akan tetapi, ia diciptakan untuk melayani kaum laki-laki saja.”

Pada masa jahilliyah perempuan menjadi bulan-bulanan, Umar Al Faruk Radhiyallahu Anhu menerangkan, bahwa pada masa itu perempuan bukanlah apa-apa, tidak memiliki hak waris, tidak mempunyai hak apapun terhadap suaminya, bisa diceraikan dan dirujuk kapan saja tanpa ada batasan; yang lebih ekstrim anak tertua (laki-laki) berhak mendapatkan istri mendiang ayahnya (ibu tiri) sebagai harta pusaka, sebagaimana harta-harta lainnya. Tak kalah bejatnya adalah ketika seseorang ingin mendapatkan anak yang hebat, maka sang istri akan diserahkan untuk tinggal dan digauli oleh laki-laki yang hebat (bisa seorang penyair atau penunggang kuda yang piawai). Setelah benar-benar hamil, maka istri tersebut akan kembali kepada suaminya.

Banyak sekali cerita yang mengisahkan tentang rendahnya harkat dan martabat perempuan. Berbagai pelecehan dan perlakuan tidak manusiawi telah menempatkan perempuan pada titik terendah sebagai makhluk ciptaan-Nya. Setelah itu datanglah Islam untuk melepaskan perempuan dari belenggu kenistaan dan perbudakan terhadap sesama manusia.  Islam memandang  perempuan sebagai makhluk mulia dan terhormat, makhluk yang memiliki hak yang disyariatkan oleh Allah SWT.

14 abad telah berlalu, kemuliaan dan ketinggian derajat  dan martabat yang diberikan oleh Islam kepada perempuan mengalami berbagai perubahan dan kemunduran. Setelah jaman keemasan Islam runtuh, runtuh pula penghargaan tinggi yang diberikan kepada perempuan. Sejarah mencatat bahwa perempuan kembali terpuruk dan menjadi makhluk yang tak berharga, hanya menjadi penunggu rumah serta tidak mempunyai hak apa-apa. 

Perempuan dan Kesetaraan

Kesetaraan gender yang diperjuangkan oleh perempuan, lambat laun telah membawa perubahan yang cukup signifikan. Hak-hak azasi perempuan telah mencapai titik maksimal dan mengalami perubahan yang sangat cepat. Terlebih-lebih setelah perang dunia ke I dan PD II, ketika perempuan mulai tampil di arena publik untuk menggantikan posisi laki-laki yang  berkurang akibat menjadi korban perang. Dengan bekerja di sektor publik, kaum perempuan mulai  memahami dan menyadari akan status dan hak-haknya. Dinamika gerakan kesetaraan gender ini lambat laun merambah ke belahan dunia ketiga yang baru memperoleh kemerdekaan.

Kemerdekaan yang diperoleh oleh beberapa negara di dunia ketiga telah membukakan sebuah kesadaran baru perlunya kesetaraan gender. Kesadaran tersebut terutama dihembuskan dan diperjuangkan oleh perempuan-perempuan yang tinggal di kota besar dan mendapat pendidikan tinggi. Kelompok elit di kalangan perempuan perkotaan melakukan gerakan-gerakan feminisme, dan melakukan proses demokratisasi dan konsep hak-hak azasi manusia. Kesadaran yang lebih tinggi akan kesetaraan gender, juga telah memberikan dampak pada upaya perumusan undang-undang tentang keperempuanan. Undang-undang keperempuanan tradisional semakin ditinggalkan oleh masyarakat modern.

Namun demikian perjuangan tersebut mengalami beberapa hambatan, diantaranya adalah adanya kelompok ortodoks yang masih sangat kuat. Kelompok ini menolak melakukan perubahan dan tetap mempertahankan undang-undang tradisional. Undang-undang tradisional merupakan produk dari masyarakat kesukuan dan masyarakat feodal, di mana perempuan memiliki peranan yang subordinat  dan dibatasi hanya dalam wilayah domestik, dan perempuan hanya ditempatkan pada posisi sekunder.

Walau banyak kesulitan gerakan feminisme  terus mengalami perkembangan. Banyak perempuan, khususnya kelompok elit yang memiliki strata sosial tinggi mampu melakukan perubahan-perubahan yang berarti dalam masyarakatnya. Contoh nyata tersebut dapat disimak dari perjalanan R.A Kartini sebagai sosok terdepan penggerak serta penggagas kesetaraan gender. Melalui tulisan (surat-surat), yang terangkum dalam buku, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, pikiran-pikiran beliau tentang persamaan hak, tentang pentingnya pendidikan perempuan, peranan wanita sebagai pendidik pertama dan utama, tentang penguasaan ilmu pengetahuan dan agama, wawasan yang luas, ber-budaya, berbudi luhur, ber-kepribadian, berwatak dan mempunyai moralitas tinggi merupakan esensi dari perjuangan R.A Kartini untuk kaumnya. Butir-butir yang disampaikan oleh R.A Kartini tersebut merupakan modal utama bagi perempuan untuk membangun sebuah peradaban, dan itu berkaitan langsung dengan peranan perempuan sebagai garda terdepan sebagai pen transfer ilmu kepada anak bangsa. Di pundak perempuan tugas mulia tersebut dibebankan, karena peranan pertama yang dipikul oleh perempuan (ibu), adalah dalam hal pendidikan moral dan peletakan dasar watak dan kepribadian anak didik. Surat-surat R.A Kartini ternyata mampu memberi nafas serta inspirasi bagi perjuangan kaum perempuan di era berikutnya.

Lambat laun, derajat perempuan semakin terangkat, doktrin mengenai hak, martabat dan derajat kaum perempuan mulai diselaraskan serta dikemas secara utuh dalam pondasi kuat, sehingga hak-hak perempuan semakin ditegakkan. Dalam percaturan politik dunia, wanita menepati sektor penting serta memegang peranan ganda. Dari tokoh-tokoh dunia, muncullah Indira Gandhi, Margaret Teacher, Golda Mriyer, Corazon Aquino, Benazi Butto dan lainnya. Sedangkan di Indonesia, telah dikenal nama R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Ranua Said dan masih banyak lagi yang merupakan perwujudan kebangkitan perempuan dalam proses pembangunan.

Dalam sejarah kebangkitan Islam, tokoh-tokoh dan pejuang perempuan Islam cukup dikenal, diantaranya Siti Aisyah sebagai ahli Hadist, fiqih, faraid, asbabun nuzul Qur’an, selain sebagai pejuang dalam peperangan membantu perjuangan agama Islam. Siti Hapsah binti Umar dikenal sebagai guru para muslimat dalam membaca dan menulis Qur’an pada awal sejarah Islam. Dalam percaturan politik, dikenal nama Fatimah binti Rasullullah, Aisyah binti Abubakar, Atikah binti Yasid, Ummu Amarah, Nusaibah, Shofiq binti Abu Tholib dan Hatumah. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh wanita Islam lainnya yang bergerak dalam bidang sastra, kedokteran dan para hafidhah Al-Qur’an.

Ukiran sejarah perempuan diawali oleh Kongres Perempoean, 22 Desember 1928. peristiwa tersebut merupakan tonggak sejarah pergerakan perempuan Indonesia. Dalam proses selanjutnya, perjuangan kaum perempuan tidak terbatas pada sekedar menuntut hak, tapi bagaimana menciptakan iklim perubahan yang sama kepada setiap warga negara, yaitu dapat ber peran serta dalam pembangunan nasional. Dari iklim yang demikian itu lahirlah sosok dan profesinya.

Secara kodrati dalam beberapa hal memang masih terjadi perbedaan perempuan dan kaum laki-laki. Dari perbedaan itulah muncul kelebihan-kelebihan yang mungkin sulit ditemukan pada kaum pria. Substansi perempuan sebagai totalitas, mampu memberikan nilai lebih pada kepentingan diri maupun masyarakat, yaitu terbentuknya dimensi dan sifat-sifat kodrati kewanitaan lengkap dengan atribut, sehingga tak jarang mengarah pada jenjang karir yang profesionalisme.

Dalam pertumbuhan emansipasi perempuan pada dekade ini, sudah hampir disebut tidak ada kesenjangan, bahkan jarak antara peran pria dan perempuan telah menjadi ujud kesatuan dalam perannya menentukan kelayakan sama dalam struktur masyarakat modern. Pelecehan dalam pameo, wanita sebagai “wong wingkin” atau “swargo nunut, neraka katut”, lambat laun makin menipis dan tidak tertutup kemungkinan pelecehan tersebut terbalik diarahkan pada kaum pria. Namun demikian, sinyalemen di atas tergantung sejauh mana pemahaman perempuan tentang emansipasinya. Paling tidak perempuan bukan lagi menjadi bagian terpenting urusan belakang, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai penentu sikap dan perubahan masalah ekonomi, sosial masyarakat maupun dunia luar.

Keberhasilan yang dicapai oleh kaum perempuan dalam memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan gender masih belum maksimal, hal itu dapat dicermati dari perjuangan kaum feminis untuk mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria, salah satunya adalah hak ber-politik. Dengan terjun ke arena politik yang didominasi kaum pria, maka perempuan akan mampu mengambil keputusan yang berkaitan dengan dirinya sendiri, keluarga maupun komunitasnya, dan negara. Hal ini disebabkan banyak sekali keputusan-keputusan yang diambil sebagai kebijakan publik, tidak mewakili aspirasi perempuan.  Dengan memasuki arena politik, kaum perempuan mampu menentukan sikap dalam pengambilan keputusan dan menentukan keputusan tersebut (akses dan kontrol atas keputusan politik).
           
Keberanian kaum perempuan merambah area politik berangkat dari besarnya jumlah kaum perempuan di Indonesia yang mencapai 52 %, namun hanya mendapat kuota 30 % di lembaga Legeslatif.  Perjuangan panjang perempuan dalam arena politik dilatarbelakangi akibat adanya ideologi patriarki, yang ditandai oleh  ketidak-adilan yang bersumber pada dominasi kekuasaan laki-laki terhadap perempuan, hubungan kekuasaan berbasis umur, kelas sosial, keturunan, suku, bangsa, bahkan agama, ilmu pengetahuan dan teknologi.
           
Ketidak-adilan seperti  itu selalu memunculkan apa yang disebut sebagai kekerasan, diskriminasi, Stereotipi, dominasi dan beban ganda  bagi perempuan di dalam keluarga, di kampung, di tempat ibadah, di tempat kerja, di pasar, di sekolah, dan juga di lembaga legeslatif, pemerintahan dan peradilan. Sehingga rumusan yang diperjuangkan oleh kaum perempuan di area politik terdiri dari tujuh kepentingan perempuan, yang dirumuskan sebagai berikut:  (1) Perwujudan perdamaian, (2) Pemberantasan korupsi, (3) Pembebasan dari hutang negara, (4) Penegakan hak azasi manusia, (5) Penghapusan semua bentuk diskriminasi, (6) Pengembalian kedaulatan rakyat, dan (7) Penguatan akses dan kontrol perempuan terhadap pengambilan keputusan di dalam partai politik,
           
Perjuangan tersebut disuarakan oleh perempuan dengan berpijak pada kenyataan bahwa partai politik atau politisi pada umumnya kurang memahami masalah perempuan, juga tidak peduli dengan kepentingan perempuan. Ketidakpedulian tersebut ditunjukkan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Solidaritas Perempuan terhadap beberapa partai pemilu 2003 di empat kota yaitu, Jakarta, Palembang, Yogjakarta dan Makassar. Hasil riset menunjukkan bahwa program maupun aturan internal sebagian besar partai politik tidak mengakomodir kepentingan perempuan. bahkan beberapa partai politik memiliki sikap yang berlawanan dengan kepentingan perempuan. faktor ketiga adalah, kecenderungan partai-partai politik  atau politisi  berpihak pada kepentingan  pada para pemilik modal dari berbagai negara industri.



Seterusnya.. | komentar
++++++

Solilokui

Sekilas Penyair

 
Fõrum Bias : Jalan Pesona Satelit Blok O No. 9 Sumenep, Jawa Timur; email: forumbias@gmail.com
Copyright © 2016. Perempuan Laut - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger