Adakah Kau Selalu Mesra dan Aku Bagimu Indah?

Kamis, 18 April 2019

Perempuan Dibalik Kehidupan Chairil Anwar


Chairil Anwar dan istrinya, Hapsah Wiriaredja. (foto: google image)

Sumirat atau biasa dipanggil Mirat belajar melukis kepada S. Sudjojono dan Affandi. Sekali waktu ia dan keluarganya vakansi ke pantai di Cilingcing. Di sana, ia melihat Chairil. Pemuda itu tengah duduk bersandar di sebatang pohon sambil membaca buku tebal.

“Mula-mula tiada menjadi perhatianku, tapi beberapa kali melewatinya, melihat dia tekun membaca tanpa peduli sekelilingnya, benar-benar membuatku heran. Aneh, pikirku, orang-orang bersenang-senang di sini, tapi dia lebih tenggelam dalam bukunya,” ujar Mirat kepada Purnawan Tjondronagoro.

Sikap Chairil yang tak peduli ternyata memikat hatinya. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan Chairil. Terutama membayangkan apa yang tengah bermain dalam angan pemuda itu. Saat ia melukis, wajah Chairil kembali muncul di benaknya.

Sekali waktu, tak lama setelah ia melihat Chairil di pantai, saudaranya datang memberi kabar bahwa pemuda yang menjerat hati Sumirat terkena masalah: dituduh mencuri! Karena ingat akan Sumirat, akhirnya Chairil ditebus oleh saudaranya itu. Si penyair terbebas dari hukuman.

Sementara Sutan Takdir Alisjahbana dalam Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977) menulis bahwa ia tahu kasus tersebut dari ibunya Chairil.

“Chairil Anwar mencuri sebuah seperai yang terjemur di halaman rumah orang dan ketahuan oleh yang empunya, sehingga ia diadukan kepada polisi dan ditahan. Ibunya kehilangan akal dan minta bantuan kami,” tulisnya.

Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawannya kemudian patungan uang seharga seprai yang dicuri Chairil. Salah seorang dari mereka juga mendekati pegawai pengadilan dan mengatakan bahwa pesakitan itu adalah seorang penyair muda yang sangat berbakat dan penting kedudukannya dalam masyarakat. Usaha mereka berhasil, Chairil bebas.

Rupanya orang pegawai pengadilan itu adalah saudaranya Mirat. Dasar Chairil, setelah ditolong, ia jatuh hati pada Mirat. Gayung bersambut.

“Dan dibawanya tumpukan kertasnya yang berisi hasil karya sastranya. Kami berdiskusi, sulit untuk mengalahkan atau membelokkan kemauannya. Dia seorang yang terlampau yakin kepada dirinya sendiri, tegas dan berani. Kukagumi dirinya sepenuh hatiku,” ujar Mirat.

Karena pengangguran, kisah cinta mereka merepotkan keluarga Mirat. Chairil nekad dengan mengikuti kekasihnya itu sampai tinggal berhari-hari di rumah orangtuanya di Jawa Tengah. Orang rumah tidak menyukai Chairil, tapi mereka tak dapat mengusirnya, sehingga mereka meminta bantuan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan untuk membujuk Chairil meninggalkan rumah dan menjauhi Mirat.

Seperti pada perempuan-perempuan yang lain, Mirat pun tak lepas dari sajak Chairil. Sajak pertama buat Mirat ditulis pada 18 Januari 1944: “Sajak Putih”, di bawahnya tertulis “buat tunanganku Mirat”.

“…Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri/dan kuberi jiwa/segala yang dikira orang mati/di alam ini!/Kucuplah aku terus/kucuplah/dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku.”

8 Januari 1946, Chairil menulis “Dengan Mirat”. Kiranya tahun tersebut keadaan sudah semakin sulit bagi hubungan Chairil dan Mirat. Terasa ada keraguan dari bait-bait yang ditulisnya:

“…Aku dan dia hanya menjengkau/rakit hitam […] Masih berdekapankah kami/atau mengikut juga bayangan itu?”

September 1946, Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja dan punya anak, sementara Mirat telah dipersunting seorang dokter tentara. Namun, kenangan akan Mirat rupanya masih melekat dalam benak Chairil. Di tahun yang sama dengan kematiannya, Chairil masih mengingat Mirat, mengenang saat-saat mereka ketika masih dilumuri waktu luang untuk saling suka. Maka ia pun menulis “Mirat Muda, Chairil Muda”.

“Ketawa/diadukannya giginya pada mulut Chiaril;/dan bertanya:/Adakah, adakah kau selalu mesra/dan aku bagimu indah?”


Dien Tamaela Jauh di Pulau

“Beta Pattiradjawane/Yang dijaga datu-datu/Cuma satu…”

Kutipan itu adalah awal dari sajak “Cerita Buat Dien Tamaela” yang ditulis tahun 1946. Menurut Sjumandjaja dalam Aku (1987), Chairil mengenal Dien Tamaela di studio lukis Sudjojono. Perempuan itu adalah putri dari pasangan dokter Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane.

Ibu Dien Tamaela tak setuju Chairil mendekati anaknya. Perempuan pujaan Chairil pun tak berumur panjang, Dien Tamaela meninggal pada tahun 1948. Dua tahun sebelumnya, Chairil menulis “Cintaku Jauh di Pulau”. Barangkali mengenang hubungan mereka yang buru-buru selesai karena dirintangi restu orangtua:

“Amboi!/Jalan sudah bertahun kutempuh!/Perahu yang bersama/’kan merapuh!/Mengapa ajal memanggil dulu/Sebelum sempat/berpeluk dengan cintaku?!” 

Gajah, Aku Rindu

Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada September 1946. Dari pernikahan itu lahir Evawani. Menurut anaknya, sebelum menikah dengan Chairil, ibunya tengah didekati seorang dokter. Namun, si penyair gigih melumatkan hati Hapsah sampai akhirnya berhasil ia miliki.

“Chairil memanggil Mamah itu ‘Gajah’ karena memang tinggi-besar, gendut kayak saya sekarang ini, sementara Chairil kan kecil-kurus. Mungkin, kalau dia masih hidup, saya pun akan dipanggilnya Gajah,” ujar Evawani.

Meski hanya Hapsah yang memberinya seorang buah hati, tapi hampir tak ada sebiji pun sajak buat dirinya. Hasan Aspahani yang menulis biografi Chairil berhasil menemukan sebaris sajak buat Hapsah, ditulis tangan tanpa mesin tik dan memakai pensil, berjudul “Buat H”:

“Aku berada kembali di kamar/bersama buku/seperti sebelum bersamamu dulu.”
“Tidak terbit di mana-mana. Namun, sajaknya terdapat di dalam buku kerja Chairil […] Karya-karya yang belum selesai menjelang kematiannya,” ujar Hasan.

Ia menduga sajak tersebut adalah kerinduan yang mendalam terhadap sosok istrinya.

“Dia kangen sama istrinya di hari-hari terakhir jelang kematiannya. Dia kangen pada istri dan rumahnya dulu. Dan ‘Buat H’ menurut H.B. Jassin memang buat Hapsah,” tambahnya.

Damhuri Muhammad dalam pengantar Chairl Anwar (2016) menulis bahwa menjelang kematiannya, Chairil bersemangat untuk mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajaknya. Ia berniat menikahi Hapsah kembali dan membesarkan anaknya.

“Ia rindu ketan srikaya bikinan Hapsah. Royalti dari buku itu ia niatkan untuk menebus kembali perkawinannya yang berantakan. Namun, saat itu pula penyakit parah menyerangnya. Hanya dalam hitungan hari, meriang yang melanda, membuat sekujur tubuhnya hampir membeku. Muntah darah tak sudah-sudah, hingga pada 28 April 1949 ajal datang merenggutnya,” tulis Damhuri.


Chairil Anwar banyak menulis sajak untuk perempuan-perempuan yang dicintainya

Sumber tulisan: https://tirto.id/para-perempuan-dalam-hidup-dan-puisi-chairil-anwar-cJUJ
- 6 Mei 2018




Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Mari Kita Lepas, Kita Lepas Jiwa Mencari

Perempuan dalam Kehidupan Chairil Anwar 

Sri Ajati  yang membuat Chairil Anwar tergila-gila/ Foto Istimewa

'


“Chairil Anwar itu adalah hippie pertama di Indonesia,” ujar Gadis Rasjid.

Perempuan ini adalah wartawan surat kabat Pedoman dan majalah mingguan Siasat. Ia sempat meliput operasi militer penumpasan PKI Madiun 1948. Gadis Rasjid juga pernah secara mendalam mewawancarai Sutan Takdir Alisjahbana. 10 wawancara yang dilakukan Gadis Rasjid dengan tokoh kebudayaan tersebut diterbitkan menjadi buku bertajuk Di Tengah-tengah Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1949).
Menurut Ajip Rosidi dalam Mengenang Hidup Orang Lain (2010), Gadis Rasjid adalah seorang pekerja yang ulet. Apa pun yang dipercayakan kepadanya, pasti akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

“Pada dasarnya dia memang wartawan yang mulai menceburkan dirinya pada awal revolusi kemerdekaan, sehingga mempunyai sikap bebas yang mungkin dianggap kurang cocok oleh sebagian manusia Indonesia sekarang yang pernah mendapat indoktrinasi yang feodalistis,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid adalah salah seorang perempuan yang namanya diabadikan oleh Chairil dalam sebuah sajak berjudul “Buat Gadis Rasjid” yang ia tulis tahun 1948. Sajak ini sengaja dipesan Gadis karena mereka memang dekat.

Menurut pandangan Gadis, dalam Chairil Anwar (2016), penyair ini adalah orang yang begitu hidup dan seolah-olah mau merangkul semua kehidupan. Ia juga mengenang Chairil sebagai orang yang senang pada perempuan. “Semua teman wanitanya selalu diperhatikannya,” ujarnya.

Amatan Chairil terhadap Gadis Rasjid yang ia tuangkan dalam sajaknya, menurut Ajip Rosidi, sesuai dengan kepribadian wartawan tersebut. Sikap bebas yang kurang cocok dengan sebagian orang, tetap ia pertahankan.

“Namun sikap itu tetap dipertahankannya karena sebagai bangsa muda yang sudah ‘bisa bilang aku’ tak ada pilihan lain baginya selain ‘Terbang/mengenali gurun/sonder ketemu, sonder mendarat/--the only possible non-stop flight’ dan ‘Tidak mendapat’,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid wafat pada 28 April 1988. Ia meninggal karena terluka saat hendak meresmikan pemugaran rumah pengasingan Sutan Sjahrir di Bandaneira.
Menanti Sri yang Selalu Sangsi

Sri Ajati kuliah di jurusan bahasa Belanda, Universitas Indonesia, dari tahun 1940 sampai 1942. Saat Jepang masuk, sekolah dan kampus ditutup. Anak-anak muda kemudian sering berkumpul di gedung Pusat Kebudayaan, termasuk Sri Ajati dan Chairil.

Tahun 1946, bersama suaminya Sri Ajati pindah ke Serang, Banten. Di sanalah ia kedatangan salah seorang anak angkat Bung Sjahrir, dan mengabarkan bahwa Chairil telah membuat sajak untuk dirinya.

Sajak pertama bertitimangsa Maret 1943, berjudul “Hampa”. Di bawah judul tertulis, “untuk Sri yang selalu sangsi”.

“…Sepi memagut/Tak kuasa-berani/melepas diri/Segala menanti/Menanti-menanti/Sepi.”

Sajak kedua berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Di bawah judulnya lagi-lagi tertulis, “buat Sri Ajati”.

“…Tiada lagi/Aku sendiri/Berjalan/menyisir semenanjung/masih pengap harap/sekali tiba di ujung/dan sekalian selamat jalan/ dari pantai keempat/sedu penghabisan bisa terdekap.”

Sri kaget, karena ia benar-benar baru mengetahui kalau Chairil membuat sajak untuknya. Setelah pindah lagi ke Jakarta, ia melihat lagi sajak tersebut di surat kabar Pedoman yang dipimpin oleh Rosihan Anwar.

“Saya tidak tahu. Saya baca di Pedoman, di situ saya baca bahwa Chairil itu cinta sama saya, tapi dia tak pernah mengatakan bahwa dia cinta sama saya,” ujarnya saat diwawancara oleh Alwi Shahab.

Sementara Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016) menulis kalau pertemuan Sri Ajati dengan Chairil adalah di sebuah studio radio di Universitas Indonesia. Selain Chairil, Sri Ajati juga mengenal Rosihan Anwar, Usmar Ismail, Gadis Rasjid, H.B. Jassin, dan lain-lain.

Menurut H.B. Jassin, seperti dikutip Hasan Aspahani, Sri Ajati adalah perempuan dengan tubuh tinggi semampai, kulitnya hitam manis, rambutnya berombak, kerling matanya sejuk dan dalam.

“Kiranya, pada tahun 40-an, tak ada pemuda yang sehat jiwa raganya yang tidak jatuh hati pada Sri Ajati,” tambah H.B. Jassin.

Menilik tampilan Sri Ajati seperti yang dituturkan H.B. Jassin, tak heran jika Chairil menyukainya. Namun yang mengherankan, berdasarkan pengakuan Sri Ajati, Chairil tak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Apakah kalimat “Sri yang selalu sangsi” adalah keraguan Chairil sendiri untuk mengungkapkan perasaannya?
Sri Ajati meninggal pada 30 Desember 2009.
Tuti, Bahaya yang Lekas Jadi Pudar

Dalam beberapa catatan tentang Chairil, tak diketahui pasti siapa sebetulnya Tuti. Nama yang hampir mendekati Tuti hanya Titi, seperti yang disampaikan Sri Ajati dalam wawancaranya dengan Alwi Shahab.

Dalam Derai-derai Cemara (1999), yang diterbitkan oleh majalah Horison, Asrul Sani menyebutkan bahwa Chairil kerap pergi ke pesta, bergaul dengan anak-anak Indo dan nongkrong di tempat-tempat para pelajar sekolah Belanda biasa berkumpul, salah satunya Toko Artic yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya.

Entah siapa Tuti, yang jelas hasrat Chairil tumbuh juga di toko itu. Tahun 1947, ia menulis “Tuti Artic”. Es, susu, coca cola hadir dalam sajaknya. Lebih dari itu, ia tak segan mengutarakan gairahnya:

“Kau pintar benar bercium/ada goresan tinggal terasa/--ketika kita bersepeda/kuantar kau pulang--/Panas darahmu/sungguh lekas kau jadi dara/Mimpi tua bangka/ke langit/lagi menjulang…”

Aroma kisah cinta atau berahi selewatan terasa benar di pengujung baitnya. Chairil seperti tak hendak mengenang dan berlama-lama dengan kisah itu:

“Aku juga seperti kau/semua lekas berlalu/Aku dan Tuti + Greet + Amoi…/hati terlantar/Cinta adalah bahaya/yang lekas jadi pudar.”

***


Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Kehidupan Para Perempuan dalam Puisi Chairil Anwar

Oleh: Irfan Teguh 




Bagi Chairil, kelimpahan materi saat bocah, kisah cinta, dan hayat: semuanya lekas pudar.

Pada diri Chairil Anwar ada sepenggal kalimat yang melekat: “lekas jadi pudar”. Sewaktu kecil, dia dibesarkan dengan kelimpahan harta. Bocah ini tak pernah kekurangan makanan dan mainan. Seekor ayam goreng sanggup ia gado sendirian. Mainan terbaik ia dapatkan.

“Lihatlah cinta jingga luntur/Dan aku yang pilih/tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur/rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi/pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang/gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di zaman kanak.”

Sajak itu ia tulis pada 1948 tanpa judul. Meski kemudian, dalam buku Aku Ini Binatang Jalang (2002), sajak itu diberi tajuk “Selama Bulan Menyinari Dadanya”. Pada bait berikutnya, ada kalimat:

“…Kalau datang nanti topan ajaib/menggulingkan gundu, memutarkan gasing, memacu kuda-kudaan, menghembuskan kapal-kapalan…”

Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016), sajak itu adalah gambaran kebahagiaan masa bocah, kelapangan bermain, yang kemudian disadari oleh Chairil akan lekas sirna dilumat “topan ajaib” kehidupan. Ya, kebahagiaan dan keleluasaan yang cepat berlalu.

Dalam urusan asmara, setali tiga uang, Chairil jago memikat dan mudah dipikat perempuan. Gelombang cinta dan berahi mengalir deras, dan pada akhirnya tak dapat ia genggam. Sejumlah nama perempuan ia tulis dalam sajak-sajaknya: Karinah Moordjono, Ida Nasution, Sri Ajati, Gadis Rasjid, Sumirat, Dien Tamaela, Tuti, Ina Mia. Ada pula yang sekadar inisial: H, K, dan Nyonya N.

Dalam pandangan Sjamsulridwan, kawannya sewaktu kecil, Chairil adalah bocah yang cepat matang. Kisah-kisah cabul dalam buku-buku yang didapat dari penyewaan dan film-film yang ditonton di bioskop membuat hasrat Chairil dan kawan-kawannya menggelegak.

“Tetapi pada Chairil penyaluran ini agak kasar kelihatannya,” ujar Sjamsulridwan seperti dikutip Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016).
Terkenang Karinah

Meski nama perempuan pertama yang ditulis dalam sajaknya adalah Ida Nasoetion, tapi sesungguhnya yang mula-mula hadir dalam hidupnya adalah Karinah Moordjono. Gadis itu ia kenal saat masih tinggal di Medan. Karinah anak seorang dokter.

Dan Chairil, dengan daya pikat yang dimilikinya, yang kerap melahirkan rasa iri kawan-kawannya karena selalu mampu mendapatkan perhatian gadis tercantik di kelas dan kampung lain, terpikat pada Karinah. Sekali waktu ia teringat pada gadis itu, lalu menulis sajak berjudul “Kenangan”.

“…Halus rapuh ini jalinan kenang/Hancur hilang belum dipegang…”

Chairil menulisnya pada 19 April 1943, saat usianya menginjak 21 tahun dan sudah tak lagi tinggal di Medan. Tak lagi berdekat-dekatan dengan Karinah.

“Ini mungkin cinta yang terlambat untuk sebuah cinta monyet, tapi terlalu lekas untuk sebuah hubungan yang serius. Tapi dari sajaknya kita bisa melihat betapa seriusnya Chairil menjalin hubungan,” tulis Hasan Aspahani.

Cinta awal itu bagi Chairil membangkitkan kenangan, meski “halus rapuh” dan akhirnya “hancur hilang”. Kegagalan hubungan dengan Karinah di usianya yang masih belia, entah berlangsung lama atau sebaliknya, kiranya tetap menyisakan sesal. Sajak itu dipungkas dengan kalimat:

“Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia”

Ida, Aku Mau Bebas dari Segala

Ida Nasoetion adalah mahasiswi sastra Universitas Indonesia. H.B. Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana memujinya sebagai penulis esai dan kritik sastra yang gemilang. Ia pernah bekerja di kantor bahasa bentukan Jepang. Di tempat itu para sastrawan berkumpul, termasuk Chairil. Dan mudah ditebak, ia jauh hati pada Ida. Kegembiraan menyelimutinya. Harapan berpendaran, ia riang bagai bocah. Februari 1943, ia menulis sajak “Ajakan”:

“Ida/Menembus sudah caya/Udara tebal kabut/Kaca hitam lumut/Pecah pencar sekarang…”
Jika hidup Chairil umpama kabut tebal dan hitam lumut, maka kehadiran Ida membuatnya hilang berganti cahaya yang memecah dan memencar. Masa remaja seolah kembali datang.

“…Mari ria lagi/Tujuh belas tahun kembali/Bersepada sama gandengan/Kita jalani ini jalan…”


Namun, rupanya ajakan Chairil hanya berhenti sebagai ajakan. Sebab Ida tak menyambutnya. Kepada H.B. Jassin ia pernah berkata, “Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Namun, apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak keruan itu?”

Meski ucapan Ida tak disampaikan oleh H.B. Jassin kepada Chairil, tapi kiranya penyair itu merasakan juga sikap Ida. 7 Juni 1943, Chairil menulis “Bercerai”. Dua kali ia menulis kalimat: “Kita musti bercerai…”

Sebulan setelah menulis sajak tersebut, Chairil menulis pidato untuk dibacakan di depan Angkatan Baru Pusat kebudayaan, sebuah lembaga kebudayaan yang dibentuk Sukarno pada zaman Jepang. Sekujur naskah dipenuhi nama Ida. Rupanya ia belum ikhlas betul melepaskan perempuan itu. Penulisannya pun tak lazim seperti teks pidato. Untuk hal ini, berikut alasan Chairil:

“Sengaja tidak kuberi bentuk pidato pada pembicaraan ini, karena pidato melepas-renggangkan dari pembicara rasanya. Jadi kucari bentuk lain. Ada teringat akan menerang-jelaskan saja, sambil menganjurkan, sekali-sekali menyatakan pengharapan,” ujar Chairil.

Setelah pembuka, Chairil mengawali bagian pertama pidatonya dengan kalimat, “Ida! Idaku-sayang.” Bagian berikutnya nama itu muncul lagi, “Ida! Rangkaian jiwa, lihat!” lalu dilanjutkan dengan, “Ida! Ida! Ida!” Alinea terakhir pidato dipungkas dengan kalimat pertama, “Sayangku mesra.”

Ida benar-benar telah menawannya. Tak tergapai, tapi begitu kuat membelenggu. Hingga pada 14 Juli 1943, Chairil menulis sajak “Merdeka”:

“Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida…”

Sumpah dan cinta pada Ida yang semula ia percayai, hingga menjadi sumsum dan darah, serta seharian dikunyah-dimamah, pada akhirnya tak membebaskannya.

Kesudahan hidup Ida Nasoetion tragis. Ia hilang saat melakukan perjalanan ke Bogor pada tahun 1948. Koran De Locomotief dan Het Dagblad melaporkan peristiwa itu.

“Seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasoetion hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, di mana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi,” tulis De Locomotief.


Tulisan bersambung;
Seterusnya.. | komentar

Jejak Sunyi Waode Nur Iman di Masjid Muna

Jumat, 18 Mei 2018

Waode Nur Iman
Nama Waode Nur Iman tercatat sebagai salah satu penyair perempuan, yang turut menulis puisi esai asal Sulawesi Tenggara. Perempuan yang lahir di Oelongko, 22 Agustus 1984 ini, sehari-harinya beraktivitas sebagai penyira berita di TVRI Sultra. Sajak-sajak yang ia tulis pernah dipublikasikan di berbagai koran lokal.

“Puisi esai menurut saya sesuatu yang menarik. Penulis lebih leluasa dalam mengekspresikan pikirannya. Dalam puisi pada umumnya, penulis terbatas dalam menjelaskan detail maksud yang ingin disampaikan. Penulis dimanjakan catatan kaki. Ini menarik sekali,” ungkap perempuan alumnus Sastra Indonesia FIB Universitas Halu Oleo.

Waode mengatakan bahwa dirinya menulis puisi esai berjudul “Jejak Sunyi Masjid Muna”. Masjid ini berada di Pulau Muna, Sultra, sebagai penanda sejarah awal mula masuknya Islam di Muna, yakni sekitar tahun 1600-an. Pada saat itu, Islam belumlah menjadi agama resmi. Pada tahun 1716, Islam baru menjadi agama resmi kerajaan. Saat ini, Masjid Muna tidak difungsikan secara maksimal oleh masyarakat Muna sendiri.

Meski banyak yang kontra terhadap puisi esai, kata Waode melalui pesan WA pada Senin (22/01), “Yang membuat kita kaya adalah perbedaan. Secara pribadi, saya tidak mau ambil pusing. Bagaimanapun bentuknya, berkarya itu hak setiap orang selama penulis tidak mengganggu kebahagiaan dan kenyamanan orang lain, selanjutnya tugas pembaca adalah menilai kualitasnya. Saran saya kepada yang kontra: tolong baca dulu karyanya! Nanti setelah itu baru menghujat kalaupun memang harus menghujat. Saya khawatir, jangan-jangan belum tahu isi puisi esai yang dimaksud. Mohon bijaklah!”

Wa Ode Nur Iman mengenal puisi esai dari terbitnya buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disertai polemik.

“Wajar saja. Secara, tokoh DJA baru dalam dunia sastra Indonesia. Namun saya pikir, ini bukan alasan untuk tidak belajar membaca kemudian menerima esensi puisi esai. Saya ragu terhadap teman-teman yang kontra. Jangan-jangan  mereka sebenarnya bukan membenci puisi esainya, tetapi membenci DJA. Mereka cemburu karena DJA mampu menggandeng penulis-penulis dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Sementara kelompok yang kontra, hanya mampu melakukan gerakan serupa kecuali ada sponsor dari pihak-pihak terkait. Seandainya puisi esai lahir dari tokoh yang lain, kira-kira bagaimana yah respons penerimaan mereka? Awalnya, saya menemukan salah satu edisi jurnal sajak yang memuat puisi DJA. Kemudian mendapat tawaran menulis puisi esai,” ungkap ketua Rumah Andakara di bidang kajian seni, sastra, dan budaya ini.

Sementara tanggapan Waode Nur Iman terkait beberapa teman yang mengundurkan diri dari proyek penulisan puisi esai, yakni “Mengapa mundur? Kamu menyesal menulis puisi esai? Memangnya apa yang kamu tulis? Hujatan terhadap orang lain (kalau benar, wajar kamu mundur)? Atau jangan-jangan karena di-bully atau merasa diasingkan oleh kelompok lain? Kelompok yang mana? Mengapa tidak menulis saja secara merdeka? Bukankah semua yang lahir adalah pemenang? Maka tidak ada alasan untuk tidak merdeka.”

Salah satu alasan Waode Nur Iman menulis puisi esai, yakni menuangkan gagasan dalam puisi secara bebas dan ilmiah melalui riset. Sementara komentar Waode terhadap teman-teman yang pro puisi esai, yakni “Kita tidak sedang membangun kelompok-kelompok. Kita sedang melakukan gerakan menulis, yang jenis tulisannya sama. Maka mari kuatkan isi tulisan kita tanpa memusuhi mereka yang kontra!” (sumber: http://puan.co/)

Seterusnya.. | komentar

Puisi Esai Bukan Genre Baru

Rukmi Wisnu Wardani
Rukmi Wisnu Wardani adalah penyair kelahiran Jakarta, yang telah menulis puisi sejak tahun 2000-an. Di tahun-tahun itu, modem masih bermusuhan dengan CPU. Rukmi pun mesti mencolokkan kabel telepon supaya bisa terhubung ke dunia maya. Plus mesti sabar kalau tiba-tiba koneksinya terputus.

Karena menyukai dunia tulis-menulis, alumnus Universitas Trisakti ini mengikuti beberapa milis di era itu, seperti Puisi Kita, Sastra Sufi, Sastra Malaysia, milis Bunga Matahari, dan beberapa lainnya. Ia dulu paling aktif di milis Penyair, yang kemudian bersama teman-teman membikin Yayasan Multimedia Sastra. Di kemudian hari, nama milis Penyair berganti menjadi Cybersastra.

Sebagai penulis perempuan, sumbangsih  Rukmi terhadap sastra Indonesia yang paling terpenting adalah sedapat mungkin ikut peduli sekaligus ikut menjaganya. Minimal tidak merusak dan tidak merendahkan ranah keilmuan sastra itu sendiri.

Ketika ditanya  polemik sastra Indonesia tentang puisi esai, kata Rukmi pada Sabtu (20/01), “Saya merasa sedih, kesal, marah, dan ikut prihatin. Semestinya, polemik itu tidak berkepanjangan. Namun, ketika ada seseorang dan/atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan upaya sewenang-wenang: melangkahi ranah bidang keilmuan sastra yang tidak membawa manfaat bagi sastra Indonesia, apalagi sampai diamini oleh beberapa lingkaran, yang semata-mata demi popularitas, kekuasaan, ketenaran, serta terbukti melakukan penyesatan dan pembodohan terhadap publik, sekaligus terbukti memanipulasi sejarah dunia sastra Indonesia, tentu harus diingatkan dan diedukasi. Lebih memprihatinkan lagi, justru adanya sederet nama sastrawan yang dianggap senior malah berpendapat bahwa kedudukan puisi esai di Indonesia menawarkan sebuah kemungkinan yang baru.”

Rukmi menambahkan “Menurut saya puisi esai  itu seperti cerita biasa saja. Padahal, jika dicermati kembali apa itu puisi esai lewat tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Adakah Puisi dan Esai dalam Puisi Esai DJA?” jelas kok di sana dijabarkan. Singkatnya, puisi esai merupakan gabungan dua genre sastra, yaitu puisi dan esai. Dengan catatan, bentuknya puisi, tetapi isinya esai. Esai sendiri harus analitis, interpretatif, dan kritis tentang suatu topik. Baca juga status facebook Ahmad Yulden Erwin di media sosial yang menyentil perkataan DJA, termasuk para pengikutnya, yakni dikatakan bahwa inti puisi esai karena adanya catatan kaki!  Padahal, catatan kaki adalah adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan, atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan (bibliografi).”

Melihat ramainya publik sastra yang menandatangani petisi, sampai muncul pula beberapa gerakan penolakan puisi esai, Rukmi menganalogikan kisah ini dengan seorang dokter. Lalu, tiba-tiba muncul orang yang tidak pernah menimba bidang kedokteran apalagi formal, lantas mengaku sebagai dokter. Namun oleh sebagian kelompok kecil, ia dibenarkan sebagai seorang dokter. Inilah yang sekarang terjadi di sastra Indonesia. Ini yang menimbulkan gerakan penolakan puisi esai.

“Menurut saya, perihal puisi esai itu sudah bukan dalam kategori mengotori, tetapi sudah masuk ke dalam bentuk upaya pembodohan karena berisi kebohongan kepada publik, termasuk memanipulasi sejarah sekaligus merusak bidang keilmuan sastra itu sendiri. Mirisnya, hal itu dikunyah oleh para penulis muda di berbagai daerah. Oleh sebab itu, hal-hal yang dapat mencederai mereka di kemudian hari harus dikabarkan secara meluas dan dihentikan!” ungkap penyair perempuan yang puisi-puisinya telah dimuat di berbagai antologi ini.

Rukmi menambahkan bahwa puisi esai bukanlah genre baru. Hal ini sudah diulas oleh para sastrawan yang memang mumpuni dan sudah meneliti dengan saksama berdasarkan keilmuan yang ada. Bukan sekadar asal-asalan. Ada hal yang sebenarnya membikin lucu dalam upaya pembodohan itu. Coba perhatikan! Segala bentuk yang ada sangkut pautnya dengan puisi esai tak pernah lepas dari unsur uang yang selalu menjadi bayang-bayangnya. Ahda Imran adalah satu di antara sekian banyak penyair yang meneriakkan hal itu. Dengan kondisi ini, jelas kelihatan perbedaannya, seseorang yang memang memiliki nama besar karena kualitas karyanya dan orang yang menginginkan namanya besar dengan memakai pengaruh uangnya.

“Melalui facebook, beragam tulisan maupun status tak henti bermunculan seputar kabar tentang banyaknya para penulis (terutama penulis muda), yang diminta menulis puisi esai berdasarkan pesanan dengan jumlah honor yang menggiurkan. Bagi yang mungkin minim informasi tentang gagalnya genre itu, ‘kan kasihan. Di satu sisi, ia tidak tahu bahwa dirinya sedang dibohongi, sementara di sisi lain ada besaran nilai uang yang menunggu untuk dimiliki jika mau ikutan proyek puisi esai,” ungkap penyair perempuan yang kontra terhadap puisi esai.

Rukmi mengaku pernah punya pengalaman terkait puisi esai sekitar tahun 2013. Waktu itu, beberapa penulis termasuk Rukmi sempat dihubungi oleh Fatin Hamama R. Syam (FH). Dia meminta kesediaan Rukmi dan beberapa teman untuk menulis puisi esai. Honornya Rp3 juta. Rukmi ingat ketika itu bertepatan dengan keberadaan ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Di antara perhatian yang saya dan keluarga curahkan kepada ibu, dengan adanya tambahan dari honor itu (jika saya menulis pesanan puisi esai itu), saya bisa ikut membantu keperluan ibu, juga kebutuhan rumah tangga kami, maka saya mencoba untuk menulis. Namun permintaan itu tak pernah bisa terealisasi, sebab selain menurutku puisi esai DJA itu ganjil karena harus ada catatan kaki, saat itu saya memang sudah berusaha menulis, tetapi gagal untuk dituliskan. Saya sempat mebolak-balikkan halaman buku puisi esai Atas Nama Cinta-nya DJA, tetapi tetap saja saya tidak bisa menuliskannya. Selang beberapa waktu kemudian, ibu meninggal dunia,” tutur Rukmi.

Ketika waktu deadline sudah semakin mepet, Rukmi masih mencoba menulis puisi esai di masa berkabung yang masih sangat kental itu. Anehnya, komputernya mendadak rusak. Tiba-tiba tidak  mau menyala. Sempat pula Rukmi meminjam komputer adiknya. Hasilnya sama: komputernya tiba-tiba rusak juga. Menyala sebentar, kemudian  mati lagi. Terus begitu berulang-ulang. Sampai akhirnya tidak bisa menyala sama sekali.

Yang lebih unik lagi dalam masa berkabung itu, Rukmi secara tidak sengaja sempat berbincang dengan seseorang tentang dua komputernya yang mendadak rusak. Seseorang itu berujar bahwa Rukmi sedang tidak diizinkan menulis, kecuali memperbanyak ibadah serta mendoakan kedua orang tua, terutama ibunya yang baru saja meninggal. Mendengar nasihat itu, Rukmi kaget luar biasa.

“Singkat cerita, saya batal menulis puisi esai dan mengabarkannya kepada FH karena faktanya memang tak satu kata pun tertulis. Tak lama setelah itu, saya kaget saat mendengar gonjang-ganjing seputar polemik buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh plus buku 23 penyair yang diminta menulis puisi esai itu.  Sungguh, saya sedih mengingat hal itu, terlebih saat membaca nama seorang kawan  sejak zaman Cybersastra, yaitu Sihar Ramses Simatupang (SRS). Ia berjuang menarik tulisannya di dalam buku 23 penulis puisi esai pesanan itu. Hingga saat itu, saya terus mengikuti kabar susah payahnya ia mengumpulkan uang untuk sesegera mungkin mengembalikan Rp3 juta yang sudah diterimanya dan sudah terpakai untuk kebutuhan hidupnya sekeluarga,” ucap Rukmi.

Masih lekat dalam ingatan Rukmi saat SRS menawarkan bonsai kesayangannya, juga beberapa koleksi batu akiknya yang dijual lewat media sosial. Sedih itu bertambah ketika Rukmi ingat, masa-masa awal FH meminta kesediaannya menulis puisi esai. FH kemudian  meminta nomor telepon genggam SRS kepadanya. Rukmi pun langsung memberikan tanpa menanyakan terlebih dulu kepada SRS. Rukmi menyesal sekali. Andai saja waktu itu ia tidak memberi nomor telepon SRS, SRS pasti tak akan sampai mengalami kesulitan seperti itu. Hal selanjutnya yang Rukmi lakukan, yaitu menghubungi SRS dan meminta maaf atas keteledorannya.

“Kalau tak salah ingat, hampir bersamaan beberapa penulis melakukan protes karena merasa diakal-akali FH demi tujuan terselubung, yang semata-mata dilakukan untuk mendongkrak nama DJA. Satu-persatu mengembalikan honor sekaligus menuntut karya mereka dicabut dari buku 23 itu. Lalu mencuatlah polemik buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu.  Nama DJA sebagai salah satu tokoh yang muncul di dalamnya. Di sanalah makin nampak jelas bencana tengah menimpa dunia keilmuan sastra Indonesia. Iwan Soekri juga Saut Situmorang justru dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap FH dan dijerat UU ITE. Malah di kemudian hari, Saut Situmorang dikriminalisasi dan dipidanakan,” kata Rukmi.

Dalam perkembangan kabar yang Rukmi ikuti, Iwan Soekri menempuh jalan damai. Sementara Saut Situmorang tetap bersuara keras menentang dan tak henti mempertanyakan keganjilan yang telah dilakukan oleh tim 8 (para penyusun buku 33 tersebut). Upaya untuk mengadakan debat terbuka pun telah ditawarkan. Namun DJAdan tim penyusun buku iu tidak menghiraukannya.

“Saya juga masih ingat. Di suatu pagi, saat tak sengaja membaca status facebook Saut Situmorang,  Ia memberitakan bahwa rumahnya kedatangan polisi. Ia dijemput paksa dari Yogyakarta untuk dibawa ke Jakarta atas kasus yang pencemaran nama baik yang menimpanya. Di sanalah gelombang penolakan terhadap DJA dan lingkarannya semakin besar,” kata Rukmi.

Rukmi melanjutkan bahwa puisi esai mirip dengan puisi naratif. Sekalipun tidak bisa disejajarkan dengan puisi naratifnya W.S. Rendra, terbitan Balai Pustaka dengan judul Blues Untuk Bonnie. Bedanya jelas, seperti bumi dan langit.

Ketika puan.co menanyakan apakah puisi esai dianggap sebagai genre yang menyimpang sehingga banyak sekali gerakan penolakan terhadapnya? Rukmi mengatakan bahwa ini bukan porsinya untuk menjawab, mengingat kapasitas pendidikannya bukanlah sastra, melainkan Arsitektur. Rukmi hanya bisa bilang bahwa berawal dari upaya para tim penyusun buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh mengangkat nama DJA, yang disinyalir tak lepas dari faktor uang itu adalah hal yang mengada-ada sekaligus sangat memalukan.

“Lah, wong sudah ada penjelasan dari para sastrawan kok, yang menulis model seperti itu sudah pernah ditulis oleh Alexander Pope, penulis asal Inggris pada abad ke-18. Bukan hanya satu sastrawan loh yang mengatakan hal itu. Kita mesti banyak belajar dari tulisan para sastrawan karena mereka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi integritas. Sangat kecil kemungkinan, mereka melakukan akal-akalan dalam menulis esai, kritik, dll. Nama baik mereka dipertaruhkan di sana,” ungkap Rukmi.

Sejak Rukmi mengikuti berita hangat seputar polemik sastra Indonesia yang terjadi (lagi) belakangan ini, ia sadar bahwa menulis itu tidak mudah. Ada pakemnya, ada aturan-aturannya, dan hukum-hukumnya. Buktinya simpel. Adanya fakultas sastra yang berdiri dan tersebar di seluruh dunia menunjukkan bahwa sastra itu salah satu bidang keilmuan. Bukan ranah tempat orang asyik mengkhayal belaka, menuliskan hasil khayalannya, lalu serta-merta mengecap dirinya sebagai penyair, sastrawan,  ataupun tokoh sastra paling berpengaruh. Terlebih lagi kalau ada unsur uang yang bermain di balik itu semua. (sumber: http://puan.co/)

Seterusnya.. | komentar

Isu Perempuan dalam Puisi Esai


Fatin Hamama R. Syam
 Puisi esai di mata Fatin Hamama R. Syam (FH) sama pentingnya dengan puisi-puisi konvensional di Indonesia. Bedanya, puisi esai lebih mengangkat isu-isu sosial yang selama ini belum banyak diangkat ke dalam puisi, juga ada unsur ilmiah dan riset. Sebab masalah-masalah sosial di Indonesia saat ini sangat kaya dan beragam.

Bila biasanya banyak yang bosan membaca data saja, kini data itu diolah ke dalam puisi agar bisa lebih menarik di mata pembaca. Puisi esai menurut FH adalah perpaduan antara fakta dan fiksi.

“Semuanya tergantung niat dan sudut pandang. Bila kita menyikapinya dengan positif untuk membangun kebudayaan, memberikan kontribusi, dan mencari kemaslahatan untuk Indonesia, semuanya akan menjadi baik,” ungkapnya via telepon

Dari 34 provinsi se-Indonesia, penulis puisi esai sebagiannya adalah perempuan. Perbandingannya dengan penulis laki-laki sekitar 1:3. Dari Jakarta ada 2 penyair perempuan, selebihnya 1 penyair perempuan, sebut saja dari Aceh, Medan, Riau, dan Sumbar. Namun, FH tidak melihat latar belakang penulisnya sebab nama besar seorang penulis belum tentu menjamin kualitas karya.

“Semua penulis di mata saya adalah sama, baik itu penulis baru maupun lama. Semuanya punya tempat. Kita tak bisa memilah-milah berdasarkan nama. Banyak yang sudah punya nama, bisa jadi dalam satu karya ia lemah. Banyak yang belum punya nama besar, bisa saja ia lebih bernas. Pada akhirnya, yang menilai adalah masyarakat” ungkapnya.

Sejauh ini, isu-isu perempuan dalam puisi esai menjadi bagian yang penting. Dalam proyek penulisan puisi esai nasional jilid II ini, ada isu tentang perempuan yang sangat menarik. Dari Bengkulu, misalnya. Ada yang mengangkat masalah Yuyun, anak yang diperkosa kemudian dilempar ke jurang. Selain itu, ada juga kisah cinta Fatmawati dan Soekarno.

Dalam buku puisi esai berjudul Atas Nama Cinta yang ditulis DJA, beberapanya mengangkat isu-isu perempuan, misalnya kisah tentang Fang Yin – si gadis Tionghoa yang diperkosa saat tragedi Mei 1998, kisah cinta beda keyakinan, kisah TKW yang membunuh majikan karena dilecehkan, dan lain sebagainya. Puisi esai memang lebih banyak mengangkat tema-tema sosial, seperti diskriminasi, perebutan tanah, perebutan hak waris, kriminal, dan masih banyak lagi.

Dengan adanya berbagai isu sosial ini, terutama mengangkat permasalahan perempuan, FH mengatakan ini sebagai upaya menyuarakan ketidakadilan atas nama perempuan.

“Kalau kita berpikir lebih objektif dan ada suatu kesadaran, saya merasakan ada ketimpangan. Terlalu banyak mereka yang menghujat tanpa melakukan sesuatu. Kebanyakan melihat celah buruknya saja. Saya ingin orang melihatnya dengan jernih. Jika puisi esai menjadi perbincangan, mengapa mereka tidak membuat sesuatu yang juga baru? Supaya kebaruan itu juga akan menghiasi taman bunga sastra dengan keberagaman yang lain. Sastra Indonesia bisa menjadi lebih kaya,” tuturnya.

FH – penulis buku puisi berjudul Papyrus (Love, 2006) sekaligus koordinator penulisan puisi esai di Indonesia bagian barat – mengatakan bahwa dirinya juga pernah menulis puisi esai berjudul “Jelaga Kembang Raya”. Puisi ini menceritakan tentang seorang perempuan yang lama hidup di jalanan semenjak ayahnya kawin lagi. Hidupnya sangat melarat sehingga membuatnya harus mencuri demi bertahan hidup. Sejak SD, ia telah dijuluki sebagai pencuri. Ketika SMP, ia rela menjual tubuhnya demi mendapat apa saja yang bisa dimakan. Kemudian ia berpetualang mencari cintanya di jalanan. Di sepanjang hidupnya, ia menaruh dendam yang besar terhadap ayahnya.

Pertama kali puisi esai hadir di Indonesia sekitar tahun 2013. Keberhasilan puisi esai khususnya dalam mewacanakan persoalan  sosial di Indonesia, menurut FH dirinya belum bisa menyampaikan keberhasilan itu. Sebab ini masih proses menanam bibit.  Di Indonesia sendiri, puisi esai baru tumbuh dan berkembang. Namun, FH melihat proses ini sebagai suatu usaha positif dalam mengembangkan kebudayaan.

Banyak yang beranggapan bahwa puisi esai tidak sesuai dengan pakem yang ada. FH mengatakan bahwa dalam berkarya, setiap orang dilindungi undang-undang untuk berkarya selagi tidak melanggar hukum.

”Bila memang puisi esai tidak sesuai dengan pakem yang  ada, lalu bagian mana dari puisi esai yang menyalahi undang-undang? Apa orang tidak boleh berkreasi?” tambahnya.

Mengenai mereka yang mengundurkan diri dari penulisan puisi esai, Fatin menuturkan bahwa dirinya tidak menerima transfer pengembalian itu. Semua masalah keuangan ditangani oleh bendahara.  Oleh bendahara, uang itu dikembalikan lagi ke yang bersangkutan sebab uang tersebut sudah menjadi hak penulis. Penulis yang menyatakan mundur dari puisi esai, puisinya akan tetap dimuat karena sesuai dengan perjanjian awal kontrak di atas meterai. Menurutnya, kesepakatan yang telah dibuat tetaplah harus dihormati.

Ketika puan.co menanyakan kepada FH terkait mereka yang mengundurkan diri, FH menuturkan bahwa ia tidak mau menyinggung masalah tersebut karena bisa memperkeruh suasana.

“Apa pun yang saya tuturkan nantinya, di mata orang yang tidak suka, yang saya ucapkan pastilah salah. Mereka yang suka puisi esai saya hormati, mereka yang tidak suka puisi esai juga saya hormati. Saya hanya kurang bisa menerima bila ada yang berkomentar kasar dan menyakiti. Buat dan ciptakanlah sesuatu yang baru! Jangan orang yang berkaryanya yang ditolak! Semua harus berangkat dari sisi positif, maka semua yang terlihat adalah hal baik.”

Lalu, di mana peran perempuan bila ada orang-orang berkomentar kasar?

“Kembalilah ke rumah! Ajari anak-anak untuk tidak berkata kasar! Ajari anak-anak menggunakan bahasa yang santun! Kalau seorang ibu terbiasa berbicara kasar dengan anak-anaknya, itulah yang akan kita tuai. Saya ibu beranak dua dan nenek dari seorang cucu. Pesan saya kepada para perempuan ‘Jangan pernah memaki anak! Gunakanlah bahasa yg baik!’ Jangan bilang bandel atau nakal, tapi carilah kata yang lebih baik! Sebab lidah seorang ibu itu keramat. Besarkanlah anak dengan kasih sayang! Bahasa adalah salah satu medium yang penting untuk berkomunikasi,” tuturnya.

Menurut FH, perbuatan bully, melecehkan, menista, dan persekusi itu sudah diatur dalam undang-undang. Yang suka melakukan persekusi adalah mereka yang kehilangan  bahasa batin. Sementara bahasa batin adalah bahasa ibu yang disampaikan kepada anaknya.

“Ketika ada yang berkomentar kasar  ke saya, saya tidak akan membalasnya dengan caci maki sebab saya menghindari perdebatan. Siapa pun yang berkarya, saya akan mendukung. Saya juga akan menghargai setiap karya karena kita berkarya dijamin undang-undang. Sebab kita punya kemerdekaan untuk bekarya.

Fatin hanya berharap bila ada yang melakukan kesalahan, jangan langsung menghakimi. Kita harusnya saling membina, bukan membinasakan. Hingga saat ini, FH sudah bersedia berbicara dengan teman-teman di ruang terbuka.

Berbeda pula dengan Sri Asih, penulis lima belas buku asal Pasuruan Jawa Timur. Dirinya mengaku sempat sangat ingin mengikuti lomba puisi esai yang berhadiah Rp5 juta. Namun sayang, penulis paruh baya ini tidak sempat mengikuti karena waktunya bersamaan dengan ibadah haji.

“Proyeknya tentu tertarik sebab uang hadiahnya bisa digunakan untuk membeli laptop. Bagi saya, penulis memiliki kebebasan untuk berkreasi, berimajinasi, serta menuangkan ide dan suara hati, termasuk DJA dan polemik yang berkembang,” ucapnya. (sumber: http://puan.co/)
Seterusnya.. | komentar

Dellorie, Penyair yang Mengundurkan Diri dari Puisi Esai


Dellorie Ahada Nakatama
Setelah viral nama beberapa penyair perempuan yang mengundurkan diri dari proyek puisi esai, tim redaksi puan.co mencoba menghubungi Ayu Harahap (sumut) dan Dellorie Ahada Nakatama (Sumbar). Melalui pesan facebook-nya pada Kamis (18/01), Ayu Harahap menuliskan, “ Maaf Mbak. Ayu sedang tak mau terlibat lagi untuk urusan apa pun mengenai ini. Terima kasih.”

Penelusuran pun dilanjutkan kepada penyair perempuan asal Aceh yang namanya tercatat sebagai penulis puisi esai – D. Kemalawati. Melalui pesan Whatsapp (WA), D. Kemalawati membalas, “Tidak usah dulu ya! Saya sedang konsentrasi dengan pekerjaan.”

Lalu, dilanjutkan ke Dellorie Ahada Nakatama. Perempuan asal Sumbar yang sehari-hari bekerja sebagai staff di sekretariat DPRD Kabupaten Lima puluh Kota ini mengakui bahwa pengunduran dirinya bukan atas intervensi berbagai pihak, namun lahir dari kesadaran dirinya.

Awalnya, Dellorie tak pernah tahu apa itu puisi esai. Saat di perjalanan menuju acara HPI di Bukittinggi, ia menerima sebuah tawaran dari koordinator puisi esai Sumbar – Muhammad Ibrahim Ilyas – melalui telepon genggamnya. Dellorie mengiyakan tawaran tersebut dengan penuh keraguan. Dikirimlah beberapa contoh puisi esai melalui WA untuk dipelajari selama satu minggu.


“Esok paginya, saya juga belum memberi kabar karena belum ngeh sampai akhirnya saya ditelpon lagi. Saat penelponan kedua, saya menolak ikut karena waktunya mepet. Selain itu, saya juga sibuk kerja. Setelah melihat nama-nama besar di proyek penulisan itu, saya berpikir dalam hati bahwa saya takut nantinya,  jika karya saya tidak sesuai, saya akan membikin malu koordinator provinsi. Namun, Om Bram bilang saya bisa dan pasti bisa. Karena saya sudah menganggap Om Bram seperti orang tua sendiri, akhirnya saya iyakan tanpa tahu lebih dalam apa itu puisi esai DJA,” kata Dellorie

Di tengah kesibukannya,  Dellorie menyempatkan diri menulis puisi esai. Ia menulis tentang ibu tua – yang terpaksa mengemis demi bertahan hidup – pada dasarnya, hal ini sangat bertentangan dengan kodrat perempuan minang, yang sering digaungkan bahwa perempuan minang memiliki kuasa tertinggi di dalam rumah gadang, termasuk pembagian harta di kaumnya.

Setelah deadline tiba, Dellorie mengirimkan sinopsis puisi esai ke panitia. Beberapa hari kemudian, ia menerima buku puisi esai DJA, uang pangkal sebesar Rp1 juta, serta surat perjanjian kontrak penulisan puisi esai. Dellorie baru mengetahui bahwa ia akan dibayar Rp5 juta.

Dari awal mendapat tawaran menulis puisi esai,  Dellorie memang belum tahu latar belakang DJA meski sering melihat namanya muncul di beranda facebook.

“Karena sejatinya dari awal, saya sudah tak menyukai puisi esai yang baru saya kenal. Walaupun jujur, bagi saya menulis puisi esai itu gampang. Tinggal mencari bahan yang mau ditulis, membuat bahasa seindah mungkin, kemudian dibuat dalam versi panjang sepanjang-panjangnya dengan mencari kata yang perlu dibubuhi catatan kaki. Bisa dibilang, pengunduran diri ini murni atas keinginan pribadi, terlepas saya pasti menjaga nama-nama yang saya kenal baik di dunia kesusastraan,” ucapnya.

Dellorie menambahkan bahwa ia sama sekali tidak menyesal atas pengunduran dirinya, dalam artian ia sekaligus akan kehilangan uang Rp5 juta. “Buat apa uang Rp5 juta, tetapi batin menolak dan menanggung malu sepanjang hidup karena pernah terlibat politik sastra,” tambahnya.

Penolakan batin Dellorie muncul sejak ia membaca status facebook Malkan Junaidi. Dalam statusnya, Malkan menuliskan bahwa ia akan menendang teman-teman yang ketahuan mengikuti proyek DJA. Puncaknya, setelah ia gabung di grup WA Kedai Penyair Muda Indonesia. Dari sana, ia mempelajari dan menimbang-nimbang dengan sangat lama, hingga akhirnya menyimpulkan bahwa ia harus bercerita kepada seniornya, yakni Iyut Fitra atau yang akrab disapa Kuyut.

“Di malam sebelum saya menemui Kuyut, ternyata ia telah menelusuri nama-nama penulis puisi esai asal Sumbar. Kuyut sangat kaget ada nama saya karena saya adalah salah satu anggotanya di Komunitas Tanah Rawa. Lalu Kuyut menelpon Heru Joni Putra (HJP). Otomatis, awalnya mereka kecewa karena mereka tahu bahwa saya memang tidak tahu banyak tentang polemik sastra Indonesia masa kini. Di malam saya bertemu Kuyut dan HJP, saya diberi pengarahan hingga pukul 03.00 dini hari. Saya menyesal tidak bertanya kepada Kuyut sebelum akhirnya saya menyetujui tawaran menulis puisi esai. Selain Kuyut dan HJP, Esha Tegar, dan teman penyair lainnya juga membantu mengarahkan saya,” ungkapnya.

Lalu Dellorie membuat surat pengunduran dirinya di atas meterai. Surat itu kemudian ia kirimkan ke Fatin Hamama – koordinator puisi esai Indonesia bagian barat – melalui WA. Kuyut dan beberapa teman-teman Sumbar akhirnya yakin bahwa Dellorie benar-benar telah membatalkan kontrak. Sebab ia tak menerima sisa Rp4 juta yang dijanjikan. Sementara dalam perjanjian, setelah puisi esai selesai dikirim ke panitia, sang penulis akan menerima uang pelunasan yang dijanjikan. Dellorie kemudian hendak mengembalikan uang pangkal Rp1 juta yang telah ia terima.

“Pengembalian uang ini awalnya dipersulit. Dari Om Bram dilempar ke Fatin, dari Fatin dilempar ke Om Bram, Om Bram kemudian melempar ke Fatin lagi. Akhirnya, Kuyut menelpon Om Bram. Dari situlah, Om Bram mau menerima pengembalian uang pangkal dan disetujui Fatin Hamama,” kata Dellorie.

Dellorie menambahkan jika memang puisinya kelak tetap dimuat di buku puisi esai Sumbar, dirinya pasti akan menuntut. “Sebab saya sudah bikin pernyataan pengunduran diri sebelum dikirim uang pelunasan sebesar Rp4 juta dan saya jug telah mengembalikan yang Rp1 juta,” kata Dellorie.

Menurut Dellorie, idealnya kerja di dalam sastra sebagai profesi adalah yang memang berjuang di dalamnya. Yang setiap karya butuh proses dan diseleksi lalu dinyatakan menang sehingga mendapatkan fee. Misalnya saja saat mengirimkan tulisan di media, di sana ada sistem seleksi.

“Kalau proyek DJA ini memang orang-orang pilihan dan lurus-lurus saja, saya yakin, saya bukanlah orang yang tepat untuk dipilih. Sebab Payakumbuh adalah gudangnya para penyair. Tentu mereka banyak pilihan untuk menghubungi yang lebih senior dan lebih punya nama. Dari sini, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil,” ungkap Dellorie. Kini, nama Dellorie Ahada Nakatama tercatat sebagai salah satu publik sastra yang menandatangani petisi penolakan puisi esai yang digagas oleh penyair muda Indonesia. (sumber: http://puan.co/)

Seterusnya.. | komentar

"Mutiara yang Terserak" Diluncurkan

Sabtu, 10 Februari 2018

Para penulis dan Lilik Rosida Irmawati (ujung kanan)
Sebagai agen gerakan literasi di Sumenep, Rumah Literasi Sumenep  telah meluncurkan buku Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumenep “Mutiara yang Terserak” di aula Kominfo Sabtu pagi, 10 Pebruari 2018

Menurut Ketua RULIS, Lilik Rosida Irmawati, latar penerbitan buku ini  sebelumnya diawali dari Sayembara Penulisan Rakyat Sumenep 2017 yang diikuti para guru. “Memang pesertanya disyaratkan  sebagai guru”.

Mengambil tema cerita rakyat ini menurutnya untuk memberi ruang kreatifitas pada guru, agar ikut peduli untuk menggali dan mengembangkan kearifan lokal Madura dalam bentuk kisah atau cerita, karena selama ini dinilai cetakan buku cerita rakyat jarang dan langka diterbitkan.

Penerbitan buku kearifan lokal Madura dalam bentuk cerita rakyat merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi ditengah masyarakat, dan kemudian diyakini sebagai blue-print yang menjadi penuntun dalam perjalanan hidup seseorang maupun masyarakat setempat.

Nilai dan konsepsi itulah yang kemudian menjadi pedoman dalam mepertimbangkan tingkah laku dalam wilayah kebudayaan oleh pewarisnya. Tingkah laku setiap individu dan kelompok melalui ekspresi-ekspresi simbolik mereka merupakan cara bagaimana manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan.

Dari pemikiran inilah Rumah Literasi Sumenep berusaha menjembatani keinginan bersama melalui Sayembara Menulis Cerita Rakyat Sumenep tahun 2017, yang kemudian direpresentasikan dalam bunga rampai cerita rakyat sebagaimana dalam penerbitan buku ini.
Sebagai tindak lanjut dari tahapan tersebut sayembara yang diikuti 32 naskah yang masuk dan kemudian dipilih dan ditetapkan oleh dewan juri, maka  delapan guru penulis dikategorikan layak terbit setelah dilakukan seleksi dengan ketat, yakni cerita rakyat berjudul  Asal Mula Sumur Tanto, (Abd. Warits); Tembuk Olo-Olo (Moh. Rasul Maulidi); Rama Kaè, Ramalan Musim, dan Penantian yang Tak Bisa Dihentikan (Faidi Rizal); Asal Usul Desa Lombang (Khairul Umam); Kepak Sayap Sang Kuda Terbang  (Akhmad Asy’ari); Kisah Pangeran Jaka Lombang dan Puteri Cemara Udang (Ngati Ati); Pottrè Konèng , Takdir Keajaiban dan Derai Airmata  (Rusdi); dan Petualangan Sang Tokoh Legendaris (Sri Suryani).

Lebih jauh, dari penulisan cerita rakyat Sumenep ini, paling tidak telah menyelamatkan dan mendokumentasikan aset budaya yang mayoritas dipelihara secara tutur-tinular. Secara garis besar, kehadiran bunga rampai ini selain bertujuan menyelamatkan aset budaya daerah juga mengomunikasikan kembali cerita tutur yang ada ke dalam bentuk teks sehingga menggugah motivasi pihak lain yang sesenergi untuk ikut serta mengemas cerita tutur yang bermunculan di masyarakat Sumenep menjadi tulisan dan lebih terpelihara.(rulis)








Seterusnya.. | komentar

Inikah Penulis Perempuan Inggris Terbaik

Minggu, 08 Oktober 2017

George Eliot atau Mary Ann Evans dengan karyanya, Middlemarch, berada di posisi satu dalam 
daftar 100 novel Inggris terbaik.
Novelis-novelis terhebat asal Inggris adalah para perempuan. Begitulah hasil dari polling atau jajak pendapat para kritikus BBC Culture tentang 100 novel Inggris terbaik, dan Middlemarch karya George Eliot ada di posisi satu, diikuti oleh To The Lighthouse dan Mrs Dalloway karya Virginia Woold, Jane Eyre dari Charlotte Bronte, Wuthering Heights dari Emily Bronte, dan Frankenstein karya Mary Shelley juga masuk di 10 besar, sehingga hanya ada dua penulis pria di sana: Charles Dickens dengan Great Expectations, Bleak House, dan David Copperfield, serta William Makepeace Thackeray dengan Vanity Fair.

Amati lebih jauh lagi, dan Anda akan melihat bahwa buku yang ditulis perempuan hampir mengisi separuh dari daftar 20 besar hasil polling tersebut. Lihat lebih jauh lagi ke bawah sampai ke nomor 100, dan hampir 40 persen – sebuah pencapaian karena kritikus kami memilih karya yang bertahan di zaman itu, dan ditulis pada masa di mana dibutuhkan lebih banyak keberanian dan kegigihan buat perempuan untuk menulis karya dibanding penulis laki-laki. (Middlemarch memang berada di posisi satu, tapi jangan lupa, Mary Ann Evans merasa bahwa dia harus menerbitkan buku dengan menggunakan nama pria.) Hampir sepertiga dari judul buku dalam daftar tersebut berasal dari abad 18-19, dan 22 lainnya terbit sebelum 1950.

Hanya 13 novel yang berasal dari abad ini, dan dari era ini pun, mayoritasnya adalah perempuan. Dua dari tiga yang terbaru, semua terbit pada 2012, ditulis oleh perempuan: There but for the oleh Ali Smith dan NW oleh Zadie Smith (yang ketiga adalah novel Patrick Melrose karya Edward St Aubyn). Perempuan juga menjadi mayoritas dari tiga penulis terbaik yang masih hidup saat ini: bersama dengan Alan Hollinghurst, Zadie Smith dan Jeanette Winterson masing-masing punya dua buku. Dan penulis mana yang 'menang' dalam hal jumlah buku yang terpilih? Lagi-lagi perempuan, karena Woolf dan Austen, bersama dengan Dickens, masing-masing punya empat judul buku di daftar terbaik ini.

Perempuan unggul

Hasil ini kontras dengan sebagian besar polling serupa dalam satu dekade terakhir. Saat BBC mengenalkan Big Read pada 2003 untuk mencari novel terfavorit di Inggris, hanya empat buku dari penulis perempuan yang masuk ke 10 besar. Pada 2008, the Times mencari 50 Penulis Terhebat Inggris sejak 1945. Hasilnya? Hanya seperempat yang perempuan. Pada 2014, the Telegraph mendafar 20 Novel Inggris dan Irlandia Terbaik Sepanjang Masa, termasuk delapan perempuan – jumlah yang lebih mewakili tapi masih kurang dari 50% dan sayangnya tidak mengindikasikan sebuah tren.

Awal tahun ini, saat koran yang sama membuat daftar baru lagi – 100 Novel Yang Harus Dibaca Semua Orang – penulis perempuan hanya tiga dari 10 buku teratas, dan 19 penulis perempuan dari 100 dalam daftar. Sementara, kritikus sastra utama The Observer, Robert McCrum, menghabiskan dua tahun untuk mendaftar 100 novel terbaik dalam bahasa Inggris. Saat dia menerbitkan 10 novel terbaik sepanjang masa versinya pada bulan Agustus, dia hanya menyebut empat penulis perempuan. Dan secara keseluruhan, karya dari penulis perempuan hanya ada satu dari setiap lima judul pilihannya.
Zadie Smith memiliki dua buku dalam daftar 100 novel Inggris terbaik.
Jadi apa yang menyebabkan hasil temuan polling BBC Culture ini? Pertama, fokusnya adalah pada karya sastra Inggris, dan bukan karya internasional atau sastra berbahasa Inggris. Perbedaan lain adalah ini tidak membatasi diri pada periode waktu khusus, tapi mencatat semuanya dari Robinson Crusoe karya Daniel Defoe pada 1719 yang dipercaya adalah novel berbahasa Inggris pertama, sampai karya yang muncul pada dekade ini. Namun perbedaan ini belum menjelaskan bagaimana polling kami ini bisa menghasilkan lebih banyak karya dari penulis perempuan – bahkan tak bisa menjelaskan sama sekali. Selain itu, Amerika punya tradisi mengkilap soal penulis perempuan, dan jauh lebih mudah bagi perempuan untuk menjadi penulis dan memiliki karir sejak 1945 – awal mula daftar the Times – daripada sebelumnya.

Salah satu perbedaan utama antara polling BBC Culture dan daftar lainnya adalah bahwa daftar ini disusun secara eksklusif dari kritikus non-Inggris. Terbagi secara merata dari soal gender, dan berasal dari negara-negara termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, Denmark dan India.


Penghargaan Buku

Secara kolektif, sudut pandang mereka sebagai orang luar menegaskan aspek penting dalam budaya sastra Inggris. Daftar ini menguatkan bahwa cengkeraman internasional dari berbagai penghargaan buku Inggris terutama saat mempromosikan buku di luar negeri dan menegaskan reputasi. Dari judul-judul abad 21 yang masuk dalam daftar, Small Island karya Andrea Levy memenangkan Bailey's Women Prize for Fiction (saat itu dikenal sebagai Orange Prize), dan White Teeth dari Zadie Smith memenangkan, beberapa di antaranya, Costa Novel Award (saat itu bernama Whitbread). The Line of Beauty karya Hollinghurst, Wolf Hall karya Hilary Mantel dan The Sense of an Ending karya Julian Barnes semuanya memenangkan Man Booker Prize, dan Atonement karya Ian McEwan, The Little Stranger karya Sarah Waters, dan Brick Lane karya Monica Ali juga masuk nominasi.
Empat novel karya Virginia Woolf masuk dalam daftar 100 novel terbaik Inggris pilihan kritikus asing.
Namun yang lebih penting, bagi orang luar daripada orang Inggris, lansekap sastra Inggris terlihat lebih didominasi oleh perempuan. Kenapa? Karena rangkaian karya perempuan dalam daftar ini menghancurkan upaya untuk melakukan generalisasi. Ada karya klasik feminis seperti The Golden Notebook karya Doris Lessing, karya era tertentu seperti Excellent Women karya Barbara Pym, dan buku-buku yang butuh dibaca luas – seperti A Legacy dari Sybille Bedford. Saya bersorak gembira ketika melihat Old Filth karya Jane Gardam di nomor 71; salah satu catatan terbaik tentang bagaimana keinggrisan berubah dalam 100 tahun terakhir – bacaan menyenangkan sejak dari awalnya yang tajam dan sinis sampai akhirnya yang seperti elegi.

Tapi, mungkin saja, semua kritik yang biasanya ditujukan pada 'tulisan perempuan' masih tetap berlaku di kalangan pembaca asing. Fokus domestik dan kanvas yang kecil? Dua-duanya adalah bahan dasar untuk fiksi yang bisa menceritakan tema-tema universal seperti hubungan antar manusia, anak-anak, dan kehidupan internal yang kaya.

Kita pun tak seharusnya melupakan bahwa kritikus diminta untuk mengidentifikasi novel Inggris terbaik, bukan hanya novel terbaik yang kebetulan ditulis oleh penulis asal Inggris. Mungkinkan bahwa aspek perempuan – seperti, kecenderungan untuk melihat diri sebagai pihak yang diremehkan – bisa cocok dengan aspek karakter nasional Inggris, sehingga menghasilkan esensi yang kemudian dicari oleh pembaca dari luar negeri pada novel yang khas Inggris? Penjelasan yang lebih mungkin adalah, begitu banyak generasi penulis perempuan yang merasa dirinya dua kali menjadi orang luar atau outsider – dari jenis kelamin dan profesi kreatif – sehingga hasil pengamatan mereka menarik buat orang asing lainnya.

Tapi mungkin yang paling penting adalah fakta mendasar bahwa kritikus yang ditanya tidak tinggal di Inggris. Karena bukan hanya polling yang menyatakan bahwa penulis terbaik kita adalah para pria. Beberapa upaya dilakukan di penerbitan AS seperti di Paris Review dan New York Times Book Review untuk mengoreksi ketidakseimbangan gender dalam soal buku yang dibahas dan peresensi yang direkrut, tapi London Review of Books masih ketinggalan.

Sampai tahun lalu, 82% dari semua artikel yang ditulis di LRB ditulis oleh pria, dan perubahan masih terjadi secara pelan. Bagi siapapun yang mendalami budaya sastra London, mungkin Ian McEwan, Salman Rushdie dan Kazuo Ishiguro akan mendominasi, namun dalam polling kami, masing-masing penulis ini hanya punya satu judul (Atonement,Midnight’s Children dan Never Let Me Go). Dan Martin Amis malah tidak disebut sama sekali, sementara ayahnya, Kingsley, punya satu judul dari buku debutnya Lucky Jim. Yang juga tak terlihat dalam polling tersebut adalah Will Self.

Daftar terbaik seringnya menimbulkan kemarahan tapi juga membuat orang tertarik – terutama yang mendaftar sesuatu yang subjektif, seperti novel. Tapi secara keseluruhan, polling ini mengkonfirmasi sesuatu yang dikatakan oleh Virginia Woolf pada 80 tahun lalu di A Room of One's Own: masalahnya bukanlah perempuan penulis Inggris tak menghasilkan karya yang kuat dan bermakna dengan orisinalitas yang mengagumkan, bobot intelektual, dan kesan emosional yang kuat. Masalahnya adalah dunia sastra, bahkan sampai sekarang, masih ragu-ragu untuk mengakui pencapaian itu.

Sumber: http://www.bbc.com/indonesi


Seterusnya.. | komentar

Pemberdayaan Perempuan Berawal dari Pikiran Perempuan Sendiri

Rabu, 20 September 2017


oleh Iffatul Hidayah
Iffatul Hidayah

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bertugas untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam yang universal tersebut. Tatapan Islam yang sangat memberdayakan perempuan tersebut berimplikasi pada pola pengembangan pendidikan yang mendukung upaya pemberdayaan perempuan.

Dengan demikian, idealnya pendidikan pesantren diorientasikan untuk mengarahkan, membimbing dan menuntun anak perempuan sebagai peserta didik, supaya mampu berdiri sendiri atau mandiri, kreatif dan bertanggung jawab. Sebagaimana yang diungkapkan John Dewey, bahwa melalui pendidikan setiap individu seharusnya memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan kegiatan yang berarti (Hook dalam Ratnasari, 2016).

Pada dasarnya tujuan dari pendidikan adalah untuk membangkitkan nilai kritis yang akan membantu masyarakat dalam memperjuangkan nilai keadilan. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan berbasis pesantren seharusnya mampu membangkitkan kesadaran kritis peserta didiknya, dan dapat dijadikan sebagai wahana untuk memberdayakan perempuan. Namun pendidikan di pesantren yang terjadi selama ini belum memberdayakan perempuan. Hal ini dapat dilihat melalui beberapa hal diantaranya adalah kurikulum yang tidak sensitive gender dan metode yang digunakaan masih bersifat indoktrinasi.

Untuk mendukung adanya pemaparan diatas bisa kita lihat dari metode pengajar di pesantren tradisional yang masih sangat melekat dengan pengajaran kitab kuningnya. Dalam diri mereka terdapat keyakinan bahwa ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab kuning merupakan pedoman hidup yang relevan. Salah satu persoalan yang sampai saat ini masih menjadi pertentangan yaitu mengenai laki-laki dan perempuan.

Menurut Masdar F. Mas’udi, kitab kuning yang secara umum dikaji oleh pesantren tradisional menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang separuh harganya dibandingkan dengan laki-laki. Diantara contohnya, fiqih yang mengajarkan orang tua untuk membeli dua ekor kambing pada kelahiran anaknya yang laki-laki, tapi hanya satu ekor kambing untuk kelahiran anak perempuan. Dari argument tersebut terdapat pernyataan bahwa terjadi perbedaan antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi itu semua tergantung bagaimana cara kita mempersepsikan sebuah kalimat tersebut, karena tidak semua pernyataan hanya bisa bisa dilihat dari satu sisi saja, melainkan banyak hal yang mesti kita kaji agar tidak ada kesalahan dalam menafsirkan sebuah kalimat.

Meskipun demikian, tidak berarti kitab kuning dengan segala pemikirannya harus dinilai buruk dan di musnahkan melainkan kita harus melastarikan kitab tersebut hanya saja kita perlu merubah sedikit pemikiran kita sesuai dengan tuntutan zaman. Karena proses pemberdayaan perempuan harus berawal dari pikiran perempuan itu sendiri, dari kesadaran tentang dirinya, hak-haknya, serta kemampuan dan potensinya. Dengan adanya pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berupaya mengembangkan potensi kemanusiaan berdasarkan Alqur’an dan hadist diharapkan bisa menjadi salah satu tempat untuk dijadikan tempat pemberdayaan perempuan yang bisa meningkatkan kualitas yang dimiliki, juga bagaimana seorang perempuan bisa mempunyai kepribadian yang tidak bertentangan dengan norma-norma islam. (Sumber: lintasmaduranews.com/judul asli:  Feminisme: Pemberdayaan Perempuan dalam Pesantren )

Seterusnya.. | komentar

Batman Teacher, Kumpulan Cerpen Sang Guru Widayanti

Rabu, 06 September 2017

Sang penulis Widiyanti dan bukunya

Sebuah Hantaran

Kegiatan menulis pada hakikatnya adalah suatu proses berpikir yang teratur, sehingga apa yang ditulis mudah dipahami pembaca atau penikmat. Sebuah tulisan dikatakan baik dan menarik apabila tulisan yang disampaikan jelas dan bermakna serta memenuhi kaidah gramatika. Jadi kemampuan menulis seseorang merupakan kemampuan untuk menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Hal ini tentu berlaku pada tulisan apa saja, termasuk didalamnya menulis cerita.

Banyak orang yang pandai bercerita secara lisan, namun kerap mengalami kesulitan saat ingin menuliskan ceritanya menjadi sebuah karya tulis,  sebagaimana yang ada dalam tulisan cerita pendek (cerpen). Hal itu terjadi mungkin karena orang tersebut tidak mengetahui dan menguasai keterampilan bercerita. Namun tidak sedikit pula kedua keinginan tersebut dimiliki seseorang, trampil menulis cerita dan bahkan menceritakan dalam bahasa lisan.

Pada saat ini menulis cerpen dapat dilakukan oleh berbagai kalangan misalnya para artis yang sibuk, para aktifis dan atau siapa saja yang memiliki kemampuan menulis cerita, termasuk dilakukan oleh para guru. Menulis cerpen sangat bermanfaat, karena diantaranya melepaskan beban fikian kedalam sebuah cerita, mengeluarkan unek – unek dari dalam hati dan mampu membebaskan permasalahan kedalam bentuk karya sastra. Namun banyak orang yang mengalami kesulitan saat ingin melakukannya. 

Sesuai dengan sifatnya cerita yang pendek ini, bisa dan dapat dibaca dalam waktu singkat, kapanpun dan dimanapun mereka ada waktu luang. Diperjalanan, di rumah ataupun di ruang terbuka. Hal inilah yang menjadi pilihan para pembaca cerpen, karena saat membacanya tidak perlu tempat tersendiri dan tidak membebani pikiran.

Salah orang guru yang juga cerpenis mencoba mengelaborasi pengalaman pribadinya ke dalam sebuah cerita pendek. Widayanti, S.Pd, yang kini berprofesi sebagai guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura ini mencoba menuangkan imaji kreatifnya dalam buku kumpulan cerpen Batman Teacher. Judul buku ini menjadi pilihan karena “batman” dan “teacher” mempunyai makna tersendiri bagi dirinya lantaran terkait proses kreatifnya pada saat ia bertugas di SDN Kalowang V   (desa Kalowang) wilayah kecamatan Gayam, Pulau Sepudi, Sumenep.

Batman (pada walnya The Bat-Man) adalah tokoh fiksi pahlawan super yang diciptakan oleh seniman Bob Kane dan ditulis  Bill Finger dan diterbitkan oleh DC Comics. Tokoh ini pertama muncul di Detective Comics #27 (Mei 1939). Identitas asli Batman adalah Bruce Wayne, seorang pengusaha yang kaya raya. Nama Bruce Wayne itu sendiri diambil dari nama tokoh sejarah, yaitu Robert the Bruce dan Anthony Wayne.

Batman beroperasi di Gotham City, dibantu oleh Alfred Pennyworth (butler) dan rekannya Robin. Tidak seperti pahlawan super kebanyakan, dia tidak memiliki kekuatan super, ia hanya menggunakan intelegensi, keterampilan sebagai detektif, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan, ketangkasan fisik, dan intimidasi dalam memerangi kejahatan. (Wikipedia)

Kisah Batman inilah yang menjadi inspirasi Widayanti Rose kemudian disinergikan dengan latar dan tempat ia bergumul dalam kehidupannya saat di Kalowang. Kalowang mempunyai arti (Madura) kelelawar besar, merupakan makhluk yang sangat menarik dan memiliki kemampuan  indera yang luar biasa dalam penentuan arah, khususnya kemampuan mengindera tempat dan benda dengan suara yang terpantul.

Jadi Batman Teacher dalam  buku cerpen ini akan menjadi sumber inspirasi bagi pembaca, bukan hanya pada kisah yang dituangkan, tapi lebih tajam lagi bagaimana cerita ini menjadi  gerak yang dihidupkan oleh penulisnya. Gerak seorang guru yang telah menautkan kehidupan dalam gerak berjuang dan perjuangan. Tentu suka dan duka akan menjadi ramuan manis tapi romantis dalam sebuah perjalanan panjang dalam kehidupan anak manusia.  Barangkali tulah realitas seorang bila tertambat dalam sebuah pertanggung jawaban pada lingkungan dan dunia masa yang akan datang.

Cerpen ini cukup menarik untuk disimak, juga bisa menjadi tuntutan bagi pembaca, karena dengan sadar kita membaca cerpen ini, akan melahirkan ketidak-sadaran bahwa sebenarnya kita telah masuk dalam jiwa dan semangat tokoh cerita.

Tanpa listrik dan signal, bukan berarti harus selalu terbelakang. Itulah yang ada di benakku. Aku mau siswaku tidak jauh tertinggal, setidaknya dari SD sesama pulau. Mereka harus bisa bersaing dengan siswa di pinggiran. Harus!”

Perbincangan tentang guru, siswa, gedung sekolah,  lingkungan dan sarana jalanan tampaknya menjadi sebuah penjelajahan cukup menarik, karena disini Widayanti Rose mencoba masuk ke sebuah wilayah yang tak mungkin menjadi mungkin. Itulah yang ingin ditampakan dalam cerita ini agar persoalan mengajar tidak tidak selalu bertumpu pada tempat dan waktu, namun juga termasuk ruang menjadi pilihan dari sebuah keberhasilan.

Ada 18 cerpen yang disuguhkan dalam buku ini, yang diawali dari perjuangan awal sebelum memasuki dunia sekolah sampai masuk dalam sebuah proses panjang dari kehidupan seorang guru yang bergerak dan berkembang dalam satu wilayah jauh dari lingkungan keluarga,  itu hal yang unik dan menarik. 

"Mak, aku berangkat tesan ya. Doakan aku" kataku pada emak saat berpamitan untuk ikut tesan CPNS 2008 lalu. 

Sebagai pengalaman pribadi, penulis tidak merasa canggung dengan menceritakan apa adanya, bahkan dengan terbuka menunjukkan  dan menjelaskan yang tampak maupun yang tak tampak dalam plot ceritanya. Menurut saya ini merupakan sebuah pengembaraan jati diri yang demikian sublim dan mampu membangkitkan kedahsyatan, keharuan, bahkan kegelisahan. Meskipun yang sesungguhnya terjadi, tentu, bisa tak sesederhana itu.

Inilah realitas yang telah dijalani oleh sang penulis. Realitas diri maupun realitas pada sebuah wilayah yang disebut “pulau”. Pemahaman “pulau” tak lebih dari sebuah pulau kecil dalam wilayah kepulauan, dan barang tentu latar kehidupan masyarakat sekitarnya masih menganut paham tradisional, sederhana,  bersahaja dan mungkin masih terbelakang dalam menjangkau kehidupan seperti masyarakat perkotaan. Namun Widiyanti Rose justru makin tertantang dan membuktikannya kepada siang pembaca.

Demikian sekedar hantaran saya serta,  mudah-mudahan buku ini menjadi pintu lebar dalam memasuki dunia kreatifitas yang lebih dahsyat lagi. Amin

Lilik Rosida Irmawati
Ketua Rumah Literasi Sumenep

Seterusnya.. | komentar

Nilai Perempuan Dalam Sastra

Rabu, 30 Agustus 2017

“kita akan rindu, tapi kapan-kapan  ada yang yang tak pernah selesai, memang dari sebuah perjalanan begitu juga semua yang kukerjakan di dalam” (Dina Oktaviani, 2006 : 73) 

Karena keindahannya, perempuan sering ditampilkan dalam karya sastra. Sudah seperti menjadi komoditas iklan dalam karya sastra. Karena keindahannya pula, untuk karya sastra yang bobot kehadirannya sama, antara laki-laki dan perempuan, biasanya perempuanlah yang dipilih. Selain karena keindahan, perempuan sering menjadi inspirasi, dalam melahirkan produk apapun. Alhasil, atribut atau sikap yang mencirikan keperempuanan, sebagai potensi kodrati perempuan, kini justru kian menjadi aset dalam serangkaian produksi dan pasar industri kebudayaan. 

Berbagai kalangan berpendapat, ketika kegiatan industri mulai merambahi kehidupan masyarakat, rumah tangga mulai dipandang tidak berkaitan sama sekali dengan kegiatan ekonomi. Sebab, dalam masyarakat industri, laki-laki dipandang sebagai satu-satunya aktor dalam proses produksi. Ketika industrialisasi masih berada dalam tahap-tahap awal perkembangannya, masih terbatas pada pertambangan dan pabrik, hanya tenaga laki-laki yang dibutuhkan sebagai tenaga kerja. 

Sifat pekerjaan industri pada saat itu membutuhkan tenaga fisik yang kuat, dan secara kultural hal itu hanya dimiliki oleh laki-laki. Kaum perempuan karena dipandang lebih lemah fisiknya daripada laki-laki, ditempatkan untuk melakukan pekerjaan di sekitar rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan dalam rumah tangga ini cenderung dianggap sebagai kegiatan non-ekonomi, karena yang utama tugas perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga. Tugas-tugas rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah, melakukan kegiatan yang berhubungan dengan reproduksi atau konsumsi, dipandang sebagai kegiatan yang non-ekonomi. 

Kaum feminisme tentu saja berusaha meluruskan persepsi dan pandangan tersebut. Mereka berusaha menunjukkan bahwa kaum perempuan justru memberikan konstribusi yang signifikan dalam kegiatan ekonomi meskipun menyandang status ibu rumah tangga. Berbagai studi tentang konstribusi perempuan dalam kehidupan rumah tangga telah pula dilakukan di berbagai tempat. Hasil studi itu memperlihatkan bagaimana ibu-ibu rumah tangga tersebut memberikan konstribusi yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangganya. 

Setidaknya, ada lima citra yang dengan itu nilai perempuan dapat dilihat dalam karya sastra, yaitu sebagai citra pigura, pilar, peraduan, pinggan, dan pergaulan. Dalam citra pigura, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang harus memikat. Untuk itu, ia harus menonjolkan ciri biologis tertentu, seperti buah dada, pinggul, dan seterusnya, maupun ciri kewanitaan yang dibentuk budaya seperti rambut panjang, betis ramping mulus, dan sebagainya. 

Citra tersebut pada generasi sastra 2000-an berhasil dikupas oleh Ayu Utami dkk. Rata-rata penulisnya memang kaum perempuan. Mereka beranggapan, sudah sejak lama citra perempuan dalam karya sastra didominasi kaum lelaki. Padahal, cuma akaum perempuanlah yang tahu dan memahami kondisi biologis perempuan. Maka, aroma sastra wangi dalam perjalanan kesusastraan kita sangat terasa pada penghujung abad 21, seperti terlihat pada Saman, Larung, Jangan Bilang Saya Monyet, Jangan Bermain-main dengan Kelamiku, dan sebagainya. Penampilan citra pigura ini sangat berbeda pada era NH. Dini, La Rose, Mira W (era 1970-an s.d. 1980-an). 

Sedangkan pada citra pilar, perempuan digambarkan sebagai pengurus utama keluarga. Pengertian budaya yang dikandungnya adalah bahwa lelaki dan perempuan itu sederajat, tapi kodratnya berbeda. Karena itulah, wilayah kegiatan dan tanggung jawabnya berbeda pula. Gerakan kaum feminisme untuk membuktikan bahwa kegiatan ekonomi sangat berkaitan dengan peran perempuan, termasuk yang memosisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga, hingga saat ini cukup kuat. Hal ini tentunya merupakan bagian yang penting bagi upaya gerakan feminisme untuk menuntut keadilan dan kesamaan hak dalam kehidupan masyarakat. Juga, tidak memungkinkan untuk memperkirakan sumbangan pekerjaan perempuan terhadap nafkah keluarga dan meramalkan jumlah anggota keluarganya.

Sebagaimana dimahfumi, ada berbagai latar belakang perempuan memasuki pasar kerja. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, terutama bagi perempuan yang belum bersuami tetapi juga menopang keberlangsungan ekonomi keluarga. Kedua, perempuan tidak lagi bersuami tetapi harus memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarganya. 

Ketiga, masih bersuami namun ikut membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan rumah tangganya. Karena itu, pendapatan perempuan akan berpengaruh menyamaratakan terhadap ketimpangan kelas dengan menyamakan perbedaan yang terdapat dalam pendapatan total rumah tangga. Argumen ini bisa saja dapat ditukar dengan cara lain, misalnya penghasilan perempuan adalah terpenting artinya dalam rumah tangga yang para penerima gajinya terdiri dari pekerja kurang terampil dan bekerja pada pekerjaan yang berupah cukup.  

Citra perempuan yang bekerja ini sering terlihat dalam karya sastra. Misalnya, tentang perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam, pembantu rumah tangga, perempuan karier, pramugari, sekretaris cantik, buruh industri, dan sebagainya. Citra peraduan menganggap perempuan adalah obyek pemuasan laki-laki, khususnya pemuasan seksual. Sehingga, seluruh kecantikan perempuan, baik kecantikan alamiah maupun buatan (melalui kosmetik), disediakan untuk dikonsumsi laki-laki melalui kegiatan konsumtif. Citra peraduan ini sering dibidik pengarang yang menonjolkan erotisme perempuan. 

Karya-karya sastra wangi yang pernah booming pada awal tahun 2000-an secara vulgar mengeksploitasi keperempuanan dan keperawanan sebagai modal dasar untuk menjatuhkan kaum lelaki. Drama Lysistrata Aristophanes juga menceritakan apa yang terjadi ketika kaum perempuan melakukan mogok seks terhadap kaum lelaki. Untuk citra pinggan, digambarkan bahwa betapapun tingginya perempuan dalam memperoleh gelar pendidikan dan sebesar apapun penghasilannya, kewajibannya adalah di dapur. Berkat teknologi pula, kegiatan di dapur ini tidak lagi berat dan membosankan. Ada kompos gas, mesin cuci, bahan masakan instan, dan sebagainya. Citra pinggan ini misalnya tentang perempuan saleha yang pintar menyenangkan suami dan anak-anak, tentang ibu yang bijaksana terhadap anak-anak,  dan sebagainya, seperti terlihat pada novel Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy), Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), Salah Asuhan (Abdul Muis) atau sajak Surat dari Ibu (Asrul Sani). 

Terakhir dalam citra pergaulan, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang selalu khawatir tidak tampil memikat dan menawan. Untuk dapat diterima, perempuan perlu melakukan perawatan tubuh secara khusus. Bentuk atau lekuk tubuh, aksentuasi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan kosmetik dan aksesoris yang selaras sehingga seorang perempuan bisa anggun dan menawan, mengundang pesona, dan unggah-ungguh fisik perlu dijaga sedemikian rupa agar menarik dan tidak membawa implikasi rendah diri di arena pergaulan luas. 

Citra pergaulan itu kerap dipotret pengarang sebagai obyek bermulanya konflik. Konflik terjadi ketika perempuan secara psikologis menjadi pencemburu karena merasa tidak tampil memikat dan menawan terhadap suaminya, atau suami yang selingkuh terhadap perempuan yang dapat menjaga citra pergaulannya, dan sebagainya. Nah, ilustrasi tersebut menunjukkan, nilai atau mitos perempuan telah dimanfaatkan bersamaan menngkatnya profesionalisme di kalangan sastrawan. Perempuan dianggap lebih efektif merebut khalayak sasaran. Tidak peduli hal itu bisa dikategorikan sebagai proses dehumanisasi perempuan – meminjam istilah Kasiyan (2008) – yang pada akhirnya akan benar-benar merendahkan martabat perempuan. 

Memang demikiankah yang terjadi pada diri perempuan? Nilai perempuan dalam karya sastra barangkali akan selalu sejalan dengan nilai dalam masyarakat. Semakin masyarakat hipokrit dan patriarkis, semakin kuat pula perempuan menjadi simbol represi, dan pada gilirannya perempuan akan semakin diburu oleh industri budaya. ***


Sumber : Rubrik Rebana, Harian Analisa, Minggu 13 Juli 2008, Halaman 7

Seterusnya.. | komentar

Taman Laut

Jumat, 25 Agustus 2017

Ke taman laut, air duka mengalir
terumbu karang pecah bergulir
Seorang penyelam berenang
membawa jantungku. Aku hilang sinar,
percakapan batin pudar

Basah tubuh basah hati, seperti sakit yang berpilin
Atas nama cemburu, rasa yang hampir kulupa
Perlahan bergantungan di ujung bulu mataku

Gelombang pecah berderaian, darah di nadi berkejaran
Pias wajah panas tatapan saat bulat wajah mawar
melambai padamu. Ombak mendebur-debur, dada berloncatan

“hanya namamu terukir di pasir, usirlah khawatir”

peluk aku sepenuh buih di lautan, kekasih
kita dua jiwa yang enggan lepas,
padam api di mataku, sehelai rambutmu
Jatuh di mimpiku

2014


(Puisi Weni Suryandari)

Seterusnya.. | komentar

Karcis Berdarah

Rabu, 23 Agustus 2017

Pentigraf: Lilik Rosida Irmawati



Perempuan itu termangu, genangan air mata bersimbah tetapi dia tak peduli. Beberapa penumpang acuh saja melewati menuju bangku belakang, bus hampir penuh. Rupanya tidak ada satupun penumpang yang bersedia duduk sebangku dengan perempuan yang terisak-isak, wajah murung, tatapan kosong dan pasi. Setelah tengok kesana kemari akhirnya aku memutuskan duduk disebelahnya. Bergidik hatiku ketika bersirobok dengan tatapannya, penuh luka berdarah.

Bus perlahan meninggalkan terminal, mengerling sembunyi dari gelap kacamata kuperhatikan lebih seksama. Usianya sekitar tiga puluh tahun, wajah tirus dan semakin pucat terlihat dari slayer merah maron yang melilit dilehernys. Tujuannya Caruban begitu kondektur mencoret di karcis dengan spidol merah. Tak berapa lama perempuan itu menuliskan sesuatu dibalik karcis dan tangannya bergetar menyodorkan padaku, " aku sedang ingin menuju kesunyian yang abadi,"

Bulu kudukku merinding dan keringat dingin mulai menetes. Tak ada sesuatu yang aneh ketika kutengok depan, kiri dan belakang. Seakan memahami kegelisahanku perempuan itu tersenyum dan mengalihkan pandangan pada karcis yang masih kupegang, darah menetes perlahan. Secara reflek sopir menginjak rem ketika terdengar teriakan ketakutan keluar dari mulutku. Semua mata melongo menatap penuh tanya ketika kuacungkan selembar karcis, darah semakin deras mengucur. Kulihat seringai perempuan itu sebelum tubuhku lunglai, terjatuh.

31-01-2017


Seterusnya.. | komentar

Penulis Sastra Perempuan Bermunculan


 Perempuan dan Sastra

Oleh Dessy Wahyuni

Pembahasan mengenai perempuan sebagai makhluk sosial tidak kunjung surut. Berbagai hal tentang perempuan itu dapat dikupas. Pembicaraan mengenai perempuan sangat menarik, baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Daya tarik perempuan banyak menghiasi berbagai ruang dalam kehidupan, baik dalam ruang hukum, sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, maupun sastra.

Dalam ruang sastra, kehidupan perempuan seringkali menjadi kisah  yang menarik untuk disajikan. Selain itu, ruang kreativitas perempuan dalam menulis karya sastra bukan pula merupakan hal baru. Luka, airmata, doa, keringat, mimpi, lelah, ataupun sesalan memang melumuri diri perempuan, tetapi memberi basis mentalitas untuk olahan kisah. Makna diri sebagai perempuan tidak akan meruntuhkan etos sastra. Kehadiran diri sebagai pengisah hidup justru membuat pengabdian sastra mirip takdir. Hidup perempuan pun bertaburan kisah dan bergelimang makna.

Perlu disadari bahwa posisi perempuan sejak dulu seakan termarginalkan di bawah dominasi laki-laki. Untuk mengakhiri dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat ini, aktivis perempuan memberontak yang pada akhirnya memunculkan gerakan feminisme, yaitu gerakan menolak segala seuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan dikendalikan oleh kebudayaan dominan (Ratna, 2004).

Feminisme menggabungkan doktrin persamaan hak yang menjadi gerakan terorganisasi untuk mencapai hak asasi perempuan dengan sebuah ideologi transformasi sosial yang bertujuan untuk menciptakan dunia bagi perempuan. Ideologi dalam feminisme ini membebaskan perempuan dengan keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm dalam Wiyatmi [2012]).

Sastra, yang notabene merupakan wujud kebudayaan, turut pula terimbas karena pemikiran dan/atau gerakan pembebasan perempuan ini. Berbagai karya sastra yang berkisah mengenai perempuan bermunculan.

Nasib kaum perempuan Indonesia di tengah dominasi budaya patriarki dapat ditelusuri sejak roman Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli yang terbit pada masa pra-Pujangga Baru. Menjadi representasi dari keadaan zamannya, dalam novel itu perempuan digambarkan dalam posisi yang lemah dan menjadi “korban” kepentingan orang tua, adat, dan nafsu lelaki. Untuk melunasi hutang ayahnya, Siti Nurbaya harus menikah dengan Datuk Maringgih, lelaki tua yang sudah “bau tanah”.

 Meskipun ditulis oleh pengarang lelaki, yang tidak secara jelas membela kaum perempuan, novel tersebut sebenarnya dapat dimaknai sebagai suatu “kesaksian zaman” tentang nasib kaum perempuan. Karena itu, dalam jangka panjang kesaksian itu dapat mengundang empati terhadap nasib kaum perempuan yang pada akhirnya akan mengundang pembelaan. Kenyataannya, pada pascakolonialisme, Siti Nurbaya cukup memberi inspirasi untuk mendorong kebangkitan kaum perempuan agar tidak bernasib seperti Siti Nurbaya.

Tidak hanya itu, penulis perempuan pun bermunculan. Sariamin Ismail contohnya. Sastrawan perempuan kelahiran 31 Juli 1909 di Kotapanjang, Pasaman, Sumatera Barat ini, dalam menulis, menggunakan beberapa nama pena (samaran), yakni Selasih, Selaguri, Srigunting atau Dikejut, Gelinggang, Setawar, Pulut-pulut, Sritanjung, Ibu Sejati, Bundokandung, Mandeh Rubiah, Kakakmu, Sikejut, Misrani, dan Kak Sarinah. Menurutnya, hal itu ia lakukan agar orang mengira bahwa penulis wanita pada saat itu jumlahnya banyak (bukan hanya dirinya), di samping untuk keamanan dirinya dari mata-mata Belanda yang mengawasi. Puisinya yang berjudul “Seruan”, misalnya, menggunakan nama Selaguri (dimuat dalam Suara Kaum Ibu Sumatera [SKIS], Oktober 1930). Puisinya yang lain, “Ratap Tangis”, menggunakan nama Gelinggang (dimuat di SKIS, Mei 1931). Sementara itu, roman pertamanya, Kalau Tak Untung (Balai Pustaka, 1933), menggunakan nama Selasih. Sebagai guru, sastrawan, dan organisatoris, Sariamin gigih memperjuangkan hak-hak perempuan untuk membangkitkan semangat masyarakat.

Perempuan semakin sering dijadikan tokoh sentral dalam karya sastra, berbagai karya sastra yang lahir menunjukkan hal itu. Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa romannya, seperi  Gadis Pantai maupun Larasati,  mengangkat sosok perempuan tangguh dan pemberontak.

Berbeda dengan gambaran perempuan dalam Saman dan Larung karya Ayu Utami yang digambarkan secara frontal. Intinya, pesan yang disampaikan melalui karya sastra itu adalah bahwa perempuan juga memiliki hak atas dirinya. Siapapun tidak berhak memaksa perempuan melakukan apa yang tidak disukainya.

Akan tetapi, kemunculan penulis perempuan ini mencuri perhatian dan menjadi pembicaraan banyak orang pada tahun 2000-an. Pembicaraan ini kerap bernada negatif. Menurut Yetti A.Ka., perayaan (tubuh) diri oleh sejumlah penulis perempuan muda dan cantik dalam karya-karya mereka dianggap liar dan mengangkangi norma-norma agama, sehingga muncul berbagai istilah yang melecehkan, misalnya “Sastra Wangi”, “Sastra Mazhab Selangkangan (SMS)”, dan sebagainya.

Budaya posmodern di tahun 90-an telah memperlihatkan kemunculan ikon perempuan baru: tangguh, seksi, acuh tak acuh, tidak melihat dirinya sendiri sebagai korban, dan menginginkan kekuasaan. Pada dasarnya, posfeminisme ini berusaha mendekonstruksi budaya perempuan dalam kehidupan sosial. Posfeminisme merupakan reaksi melawan perjuangan feminisme tradisional yang membela persamaan perempuan. Dengan kata lain, posfeminisme ini merupakan reposisi feminisme menghadapi realitas patriarki yang berurat akar sehingga terjadi pemarginalan terhadap perempuan (Ann Brooks, 1997).

Yetti berusaha meluruskan hal ini. Ia hadir dengan cerpen-cerpennya yang tidak terjebak dalam kehidupan kosmopolitan dan berpesta merayakan tubuh serta seksualitas perempuan. Dalam empat belas cerpennya yang terkumpul dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu (Gress Publishing, Yogyakarta tahun 2011), misalnya, ia memunculkan sebuah arus perlawanan terhadap kehadiran para penulis perempuan yang seringkali berupaya mendobrak budaya patriarki dalam kehidupan kosmopolitan tersebut.

Perubahan zaman yang terjadi telah menggeser pula (ranah) perempuan dalam khazanah sastra. Sastra, kini, tidak hanya digulati oleh kaum laki-laki dengan ideologi patriarkinya, tetapi perempuan juga dapat mengekspresikan perlawanannya terhadap ketidakadilan gender dengan leluasa. Dengan kemampuannya, perempuan dapat memanfaatkan sastra untuk menunjukkan kedigdayaan dan harga dirinya sebagai perempuan yang cerlang.***

Dessy Wahyuni, peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau.

(sumber: http://riaupos.co/139465-berita-perempuan-dan-sastra.html#ixzz4qb6z0ssS)

Seterusnya.. | komentar
++++++

Solilokui

Sekilas Penyair

 
Fõrum Bias : Jalan Pesona Satelit Blok O No. 9 Sumenep, Jawa Timur; email: forumbias@gmail.com
Copyright © 2016. Perempuan Laut - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger